[Berani Cerita #6] Harga diri yang terluka


“Iya, Beib. Aku pasti datang. Tunggu aja di sana. Apa?! Jemput kamu di rumah Budhe-mu? Haduuuhh… Iya.. Iya.. Tunggu aja ya!”

Tut.. tut.. tut..

Telepon di seberang sana ditutup.

Rino mengusap-usap wajahnya. Dia selalu seperti itu. Tak pernah bisa menolak permintaan Ratri kekasihnya. Seakan ucapan Ratri adalah perintah baginya.

“Di mana  alamatnya?” tulis Rino singkat.

Dan sebuah balasan whatsapp dari Ratri menjawab pertanyaannya.

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

Wajah itu tak asing lagi. Rino terbelalak. Tak menduga akan bertemu dengannya di sini. Dan seseorang yang dipandangnya pun tak kalah terkejutnya.

“Siapa, Budhe?” suara Ratri membuyarkan kecanggungan di antara mereka.

“Mas Rinooooo…! Kok lama bangeet sih, Mas? Yuuk masuuk..!” Ratri menarik tangan Rino mengajaknya masuk, diiringi tatapan tak suka sang Budhe. Rino menunduk serba salah.

Budhe?

Ratri?

“Ini Budheku, Mas. Budhe, kenalin. Ini Mas Rino, pacar baru Ratri.”

Budhe Santi menatap Rino dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Melirik judes ke arahnya, lalu berbisik pelan di telinga Ratri. Rino tambah serba salah. Selepasnya Ratri masuk ke dalam rumah sembari tersenyum. Menuruti permintaan Budhe kesayangannya.

Santi menatap Rino dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Menatap curiga pria di hadapannya yang kini hanya bisa pasrah tak berkutik.

Pelet apa yang kamu pakai? Kemarin sahabatku yang kamu guna-guna. Lalu mental karena kalah sama ilmuku. Sekarang nggak dapat yang seumurmu, kamu nyerang ponakanku? Apa nggak kapok kamu? Malu sama ubanmu!” tuduhnya.

Rino menundukkan kepala dalam-dalam. Harga dirinya terluka. Bagaimanapun, dituduh menggunakan pelet untuk memikat perempuan itu tindakan yang tak hanya memalukan namun  juga menyakitkan baginya.

***

Ratri mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya. Menuangkan bubuk putih  ke dalam air minum Rino lalu merapal sebuah mantra.  Mantra yang diambilnya diam-diam dari kamar Budhe Santi. Budhenya yang juga ahli supranatural.

-selesai-

Teruntuk Berani Cerita #6 dan Lampu Bohlam #6

banner-BC#06

Iklan

41 pemikiran pada “[Berani Cerita #6] Harga diri yang terluka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s