Punten, mangga, nuhun


Saya lahir di Jakarta, tumbuh dan berkembang di Surabaya lalu menikah dan bertemu jodoh orang Bandung. Urang Sunda.

Sebelum menikah, saya bener-bener nggak bisa ngomong Sunda. Tiga kata ajaib bahasa Sunda yang ada di kepala saya itu cuma punten, mangga dan (hatur) nuhun. Artinya permisi, mari/silakan dan terima kasih.

Jadi kalau saya sedang bertamu, saya bilangnya punten. Meski kemudian saya lanjutkan dengan bahasa Indonesia. Lalu kalau mau mempersilakan tamu yang datang, saya bilangnya mangga.. 🙂

Dan kalau saya baru mendapatkan bantuan, saya bilangnya nuhun. Hihihi.. Simple ya?

Eh iya, kalau saya selesai beli kopi, gula atau nganter anak saya jajan di warung juga bilangnya nuhun. Juga ketika naik becak, naik angkot dan sebagainya. Maka tiga kata ajaib saya itu cukuplah untuk sementara sebagai bekal saya selama tinggal di Bandung. :mrgreen:

Nah pada suatu hari, saya nunggu angkot sama penjaga hati saya *ehm :D*. Saya harusnya naik angkot warna kuning dengan nomor punggung lambung 37 (kalo nggak salah). Tapi si sopir angkot berwarna kuning dengan nomor lambung 23 itu keukeuh (teguh pendirian/tidak mudah menyerah) nawarin saya untuk naik angkotnya, padahal bukan angkot jurusan itu yang mau saya cari. Jadilah suami saya menolak si sopir angkot, yang sekaligus akhirnya mengajarkan saya sebuah kosa kata baru. Henteu. Biasa disingkat teu, yang artinya tidak.

Setelah beberapa tahun tinggal di Bandung, kosa kata saya bertambah. Ada yang namanya muhun, yang berasal dari kata sumuhun, yang artinya iya. Ini biasanya saya jadikan andalan kalau ada ibu-ibu sepuh yang mengajak saya ngomong pakai bahasa Sunda. Duuh.. memahami kalimat yang dilontarkan si ibu saja sudah bagus, tapi tak jarang karena bersemangat si ibu ngajak ngobrol saya dengan bahasa Sunda dengan alur yang kecepetan. Jadinya saya cuma bisa senyum manis sambil bilang muhun. Qiqiqiqi.. :mrgreen:

Dan selama ini, cara itu ampuh lho. Setidaknya si ibu merasa senang ngobrol sama saya. (Yang sebenarnya, saya lebih banyak mendengarkan saja.. :D). Semuanya baik-baik saja, sebelum akhirnya si ibu sepuh yang ngajak ngobrol saya mulai bertanya, “nyalira, neng?”. Duuh.. dia nanya apaan yak? :|. Nanya nama kali ya? Nama saya rini bu, bukan nyalira. *mbuh wis.. :D*

Kalau udah kaya gini ilmu pede saya pun menghilang. Saya langsung senyam-senyum sambil bilang pakai bahasa Indonesia dan berharap si ibu ngerti bahasa nasional kita bersama.. :D. Saya bilang kalau saya ini nggak terlalu fasih berbahasa Sunda. Saya ini orang Jawa, yang Sunda suami saya. 😀

Biasanya sih wajah si ibu agak nggak percaya. Waahh.. Saya udah mulai ge er nih. Meskipun kulit saya yang jelas hitam legam kecokelatan begini sudah bisa membedakan dengan tampilan kuning langsat mulus nan putih cewek-cewek Sunda yang juga berparas cantik dan manis itu. *uhuk.. :D*. Berarti tadinya si ibu sempat menduga saya ini urang Sunda juga kan ya? *sisiran* *tolong jangan protes ya? :D* :mrgreen:

425982_4225705080081_938464305_n
Hitam manis kan? *uhukk :D* :mrgreen:

Ah biasanya pokoknya jarang sekali penyamaran saya terbongkar. Karena saya memang membatasi obrolan, supaya nggak sampai ketahuan. *halaagh.. 😀

Oh iya, balik lagi ke nyalira tadi ya. Setibanya di rumah dan setelah saya bertanya pada ibu mertua saya, ternyata kalimat si ibu ‘nyalira, neng’ itu artinya ‘sendirian, neng?’. Qiqiqiqi.. :mrgreen:

Saya juga punya pengalaman lain. Kali ini waktu saya mau naik becak pulang dari sebuah minimarket. Waktu itu saya berdua dengan anak sulung saya. Bapak becak langganan saya kebetulan nggak ada. Jadilah saya harus bertanya ke salah seorang bepak becak lain yang mangkal di dekat minimarket itu sambil menyebutkan tujuan saya. Merasa harga yang dimintanya kemahalan, saya pun menawar sebisanya. Tiba-tiba si bapak mulai berbicara dengan logat Sunda yang juga kecepetan dengan tampang nggak rela saya tawar. Dia menyebutkan kata murangkalih.. murangkalih.. Duuh mumet saya. Nggak mudeng. Bapak becak ini ngomong apa siih? Dan karena tidak mendapatkan kesepakatan, saya pun batal naik becaknya. Mungkin dia marah saya tawar ya? Batin saya bertanya. Di rumah, saya kembali bertanya pada ibu mertua saya. Yang tak lama kemudian waktu saya tanya ‘apa si bapak becak marah saya tawar? kok bilangnya murangkalih-murangkalih?’. Dan dengan sedikit tergelak beliau berkata.

“Ooh.. mungkin maksudnya Rini bawa murangkalih. Anak-anak. Jadi karena ada murangkalih-nya ongkos becaknya jadi sedikit lebih mahal.” Ibu mertua saya menjelaskan.

Hahaha.. Ternyata cuma begitu. Kalau saya ngerti kan enak ya? Tinggal saya sodorkan harga yang lebih tinggi dari tawaran saya sebelumnya. Gitu kan beres. Hehe.. Dan karena kejadian seperti inilah kosa kata bahasa Sunda saya perlahan bertambah.

Selain ibu mertua saya, yang biasanya jadi penerjemah saya adalah kakak-kakak ipar atau adik ipar saya. Biasanya kalau kami berkunjung ke rumah kerabat ibu mertua saya, saya lebih banyak mendengar saja. Sambil mengingat-ingat kata-kata apa yang saya nggak ngerti. Nanti kalau sempat saya tanya artinya ke adik ipar saya. Atau suami saya. Siapa saja yang dekat posisinya dari tempat duduk saya. Pernah saya malu, waktu nanya ke adik ipar saya untuk menerjemahkan sebuah kata, si bapak/ibu yang sedang berbicara dengan bahasa Sunda mendengar saya bertanya. Barulah beliau tahu saya nggak fasih bahasa Sunda. Dengan tersenyum beliau pun membantu saya menerjemahkan kalimatnya, sambil menyebutkan artinya dalam bahasa Indonesia. Bahkan pernah demi supaya saya mengerti perbincangan yang berlangsung, akhirnya pembicaraan dilakukan dengan bahasa Indonesia. Atau campuran Sunda – Indonesia. Hihihi.. :mrgreen:

Tapi sebenarnya, lama-kelamaan kita pasti ngerti sendiri kok. Apalagi bahasa Sunda seringkali dipakai dalam komunikasi saya sehari-hari. Itulah hebatnya bahasa. Bahkan Syifa, anak sulung saya justru lebih jago bahasa Sundanya daripada saya. Pulang-pulang dari main bareng temen-temannya dia bawa kosa kata getek (geli/gatal), ceunah (katanya) atau sok (silakan -digunakan untuk yang seumuran- yang lebih halus mangga). Bahkan kalau saya nggak ngerti kadang-kadang saya juga nanya sama Syifa. Qiqiqi.. :mrgreen:

Nah, itu tadi cerita saya tentang pengalaman saya dengan bahasa Sunda selama 4,5 tahun tinggal di kota kembang. Apa ada yang pernah mengalami hal seperti saya?

Share yuuk! 😀

 

Iklan

11 pemikiran pada “Punten, mangga, nuhun

  1. Bahasa memang menyenangkan untuk dipelajari. Klo aku disini banyak komunitas orang maduranya, jika aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tinggal aku berkata “Maaf, saya tidak mengerti bahasa madura, bisa kah pakai bahasa Indonesia saja?”. Jujur saja dulu… lama-lama tahu sendiri..
    Ayo perkaya pemahaman bahasa daerah di Indonesia…

  2. wah seru banget pengalamannya bu , saya jadi keingetan masa2 waktu masih tinggal bareng sama teteh ipar saya yg kebetulan juga Orang Jawa ( Tulungagung ) suaminya yang orang sunda tuh sepupu saya. Ceritanya tuh gini , teteh ipar saya pernah disuruh sama nenek saya (Sunda) buat beli gedang (pepaya), teteh pun mengiyakan , tp ternyata yang dibeli malah pisang (gedang di jawa), hahahaha , sampai sekarang masih aja keingetan. Tapi dibalik perbedaan itu semua malah menjadi satu hiburan dan kenangan tersendiri

    dan intinya Jawa Sama Sunda tetap saudara , thanks bu udah berbagi pengalamannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s