Be A Writer, Tak Sekadar Mencari Beken


Be A Writer.

Menjadi seorang penulis. Mungkin itu sebagian besar cita-cita teman-teman blogger. Menjadi seorang penulis yang buku hasil karyanya nangkring di rak-rak toko buku besar, laku keras dan kemudian dikenal masyarakat. Aamiin.. πŸ™‚

Tapi kalau bagi saya pribadi, sebagai blogger saja kita sudah menjadi penulis. Hehehe..

Tapi kali ini be a writer yang mau saya bahas adalah Be A Writer sebuah grup menulis. Yang tentunya cita-cita dari 110 orang anggotanya sebagian besar (termasuk juga saya lho anggotanya.. *ehem.. :oops:) juga mendekati keinginan dan cita-cita kita semua.

Menjadi seorang penulis yang memiliki karya dan bisa berbagi kebaikan dan nilai-nilai positif dari karya yang kita buat. Aamiin..

Apa dan bagaimana hubungan saya dengan BAW dan bagaimanakah kemesraan ini bermula. Yuuk simak cerita saya berikut ini.

JENG.. JENG..

Sekilas tentang pengalaman saya bergabung dengan BAW.

Saya dipertemukan dengan mba Leyla Hana, salah satu perempuan hebat yang sudah menelurkan banyak karya baik novel fiksi ataupun buku motivasi non fiksi Islami, sekaligus pendiri grup menulis Be A Writer melalui sebuah audisi menulis flash fiction dengan tema poligami. Kebetulan salah satu tulisan FF saya ada yang temanya poligami. Dan saya memang suka menulis FF.. :mrgreen:

Tanpa diduga, cerita flash fiction yang berjudul KUE COKLAT DAN SEPUCUK SURAT CINTA UNTUK SUAMIKUΒ milik saya lolos dan mendapatkan kesempatan untuk konsultasi menulis dengan mba Leyla. Hanya saja waktu itu batas waktunya cuma 1 bulan. Karena saya sedang hamil anak kedua jadinya saya minta waktu khusus. Tapi kemudian terjadi perubahan. Mba Leyla memasukkan saya ke sebuah grup be a writer. Dan sayapun mulai mengenal banyak penulis hebat di sana. Meskipun mereka memiliki segudang prestasi, berpuluh-puluh karya dan prestasi namun mereka tetap rendah hati dan tidak sombong, bahkan rela untuk berbagi ilmunya.Β Jadi kalau ada yang bilang penulis cuma cari beken saja, mereka belum mengenal perempuan dan lelaki hebat yang bergabung di be a writer bersama saya.

Betapa senangnya saya dimasukkan dalam grup BAW ini. Karena ilmu saya yang dangkal bin cetek sedikit demi sedikit mulai terisi. Saya belajar banyak hal, antara lain langkah-langkah membuat PLOT, bagaimana berhubungan dengan editor dan banyak tips yang dibagikan secara cuma-cuma oleh para mentornya. Dan di sini juga tak ada sebutan senior dan junior. Semuanya memiliki rasa kebersamaan.

Di sini kami berbagi. Berbagi energi positif. Awalnya saya kikuk, minder dan bingung. Tak jarang saya berkecil hati dan mungkin dihampiri sedikit rasa iri saat teman-teman yang berhasil menelurkan karya tulis atau memenangkan kontes menulis ini dan itu membagi kebahagiaannya. Dan di sinilah bedanya BAW dengan grup menulis lain yang pernah saya singgahi. Para teman-teman di BAW juga saling mengingatkan dan juga memotivasi teman lain yang mungkin sempat dihampiri penyakit hati yang bernama ‘iri’ seperti saya. Hehehe.. πŸ˜€

Simak deh tulisan mba Leyla yang ini:

Rasa iri tersebut bila terus dipelihara, tentu akan menyurutkan niat kita untuk aktif di BaW. Begitu membuka grup, adaaaa saja yang menang lomba, sedangkan kita? Uh, males deh nengokin grup. Abis, gw gak punya prestasi apa-apa sih. Kita merasa tulisan kita jeleeeeek banget, kalah sama yang lain, dan sebagainya. Naskah gak terbit-terbit, eh dia lagi-dia lagi yang nerbitin buku. Giliran gw, kapaaaan?

Entah mba Leyla memang bisa membaca pikiran atau nggak, yang pasti kalimat itu juga mewakili perasaan saya. Hingga postingannya yang ceplas-ceplos namun jujur pun membuat saya kembali dialiri energi positif. Penasaran kalimat apa yang membuat saya menjadi positif? Baca lebih jelas di sini yaa.. πŸ™‚

Itu yang saya suka dari rumah BAW ini. Selalu balance. Ada diskusi kepenulisan yang serius tapi juga diselingi komentar yang kadang lucu dan menghibur dari beberapa teman yang lain. Dan nggak hanya kebahagiaan yang dibagi di sini. Kita juga berbagi beban, berbagi segala rasa sedih dan kesusahan. (Nah bagian yang ini nggak usah dibahas terlalu dalam bentuknya ya. Supaya semata keikhlasannya tetap terjaga dan pahalanya nggak menguap. Selain juga menghindari sifat riya. :D)

Kalau ada pertanyaan mengapa saya bergabung dengan komunitas menulis?

Jawabannya karena saya ingin menimba ilmu dari para teman-teman yang telah berhasil lolos dan menembus penerbit. Kiat-kiat apa saja yang membawa mereka pada kesuksesan. Trik jitu apa yang mengiringi keberhasilan mereka dan juga supaya saya tertular aura positifnya doong.. Mulai sekarang, lupakan pikiran-pikiran negatif.

Be Positif.. πŸ™‚

Dan menulis bagi saya adalah untuk keseimbangan. Menulis seperti menuangkan ide-ide yang berseliweran di kepala saya ke dalam wadahnya. Dan untuk saat ini saya menikmati sekali menulis flash fiction. Mudah-mudahan ke depannya semakin bertambah menjadi cerbung atau novel..

Aamiin.. πŸ™‚

Oya, untuk menghalau rasa iri karena keberhasilan teman-teman BAW, saya pun rajin melihat informasi lomba dan pengumuman pemenangnya. Untuk apa? Kalau saya menguasai temanya, saya ikutan lombanya juga. Tapi biasanya saya yang mengumumkan pemenangnya jika ada teman BAW yang lolos dan jadi pemenang. πŸ˜€

Dan aura kemenangan teman-teman tadi nular lho ke saya.. πŸ™‚

tiga

Buat yang suka menulis dan pengen menimba ilmu tentang kepenulisan juga. Mampir aja ya ke www.bawindonesia.blogspot.com.Β Dijamin nggak akan rugi karena banyak ilmu yang bisa kita dapat di sana. Oya, BAW juga ngadain Give Away lho.. Cek info-nya di sini buat dapetin buku-buku keren.

Tulisan ini diikutkan untuk memeriahkan Launching Blog Be A Writer.

animated gifs

Iklan

25 pemikiran pada “Be A Writer, Tak Sekadar Mencari Beken

  1. Mbak Rini adalah salah satu orang yang saya kagumi di BAW, dengan tulus selalu menjadi yang pertama mengumumkan kebahagiaan orang lain yang menuai prestasi, padahal kadang si empunya malah belum tau pengumumannya. Salut mbak, keep Be Positive (bukan positif hamil yaa :D)

    1. sepuluh*eh*
      maksudnya sakig sangat se-7-nya jadi nggak cukupkalo cuma setuju aja.. he.. he.. tuju tuju deh kalo bunda Rini tuh yg paling rajin ngumumin pemenang lomba. bukan hanya pemenang dind tapi juga nominator.. wah. bikin aku bebunga-bunga.. rela deh buat bee-nya bunda Rini.. hi.. hi..
      jazzakillah, Bund

  2. Mbak Rini keren. Saya salut sama perhatian mbak Rini yang suka mengumumkan pengumuman pemenang lomba2 kalau ada teman2 yang menang. Mbak Rini contoh orang yang positif dlm hal ini. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s