Rezeki itu ngga pernah tertukar. Iya kan? :D


Dua tahun yang lalu, salah seorang kakak ipar saya mendapatkan sebuah cobaan. Kedua putrinya yang duduk di sekolah dasar dan di taman kanak-kanak harus masuk rumah sakit selama 2 minggu. Tepat ketika beliau harus menyelesaikan thesisnya. Tentu saja hal ini banyak menyita pikirannya. Belum lagi biaya rumah sakit yang membengkak. Ditambah biaya mondar-mandir antara rumah – rumah sakit untuk istrinya dikarenakan kakak ipar saya memiliki dua anak balita lain yang tidak mungkin ditinggal begitu saja. Apalagi si bungsu masih menyusui membuat kakak ipar saya yang perempuan harus bisa menyiasati untuk menggunakan waktu sebaik mungkin, -tentu saja disesuaikan dengan ‘jadwal’ sang suami yang sudah cukup padat dengan mengajar sebagai dosen di salah satu universitas negeri di kota Bandung ditambah kebutuhan menyelesaikan thesis yang juga membutuhkan banyak pemikiran-. Ribett? Tentu saja. Itu yang ada dalam benak saya. Apalagi saya yang baru saja menikah dan dikaruniai seorang putri merasa diri yang paling repot saat itu. :mrgreen:

 

Duuh.. malunya saya. Allah SWT menegur saya dengan cara yang manis. Memperlihatkan kalau saya merasa paling susah, ternyata ada yang jauh lebih ribet tapi ngga ngerasa susah sama sekali. Ya kakak ipar perempuan saya dan sang suami itu.. 🙂

Hingga menjelang hari Raya Idul Fitri, kedua ponakan saya belum bisa pulang ke rumah. Akhirnya, selesai sholat Iedul Fitri, kami secara bergantian mengunjungi kedua keponakan saya, yang sayangnya tak ada sepupunya yang bisa menengok ke dalam kamar karena memang ada larangan untuk mengunjungi pasien typhus jika usianya di bawah 10 tahun.

Namun, Allah SWT tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dan setelah masa kritis kedua keponakan saya pun bisa kembali pulang ke rumah.

Dan setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Akan ada jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi. Tanpa diduga oleh kedua kakak ipar saya, seluruh biaya rumah sakit tempat kedua keponakan saya dirawat selama sekitar 15 hari ditanggung oleh universitas tempat kakak ipar saya bekerja. Alhamdulillah..

 

Maka setelah ujian berhasil dilewati, perlahan Allah SWT pun mengganti segala kesedihan yang pernah dirasakan -meski tidak diperlihatkan- kedua kakak ipar saya dengan kebahagiaan yang beruntun. Tak hanya dibebaskan dari beban membayar biaya rumah sakit saja, ternyata Allah SWT telah menyiapkan kejutan lain yang tak kalah membahagiakan.

 

Tak lama setelah menyelesaikan thesis-nya, -alhamdulillah dengan nilai yang memuaskan-, kakak ipar saya mendapatkan rejeki yang tidak disangka-sangkanya. Sebuah rumah yang cukup luas untuknya, istri dan keempat anaknya. Ditambah lagi, mendapatkan bonus umroh secara cuma-cuma dari sang atasan.

Tak ada lagi yang bisa saya ucapkan selain rasa syukur dan turut berbahagia atas segala rizqi yang diberikan Allah kepada kedua kakak ipar saya ini.

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (sumber: penggunaan Subhanallah dan Masya Allah yang sering tertukar)

 

Setiap rezeki tiap-tiap umat tidak akan pernah tertukar.  Dan Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengantarkan rizqi itu kepada kita.. 🙂

 

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban

 

Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? (Surat Ar-Rahman).

***

 

Iklan

2 pemikiran pada “Rezeki itu ngga pernah tertukar. Iya kan? :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s