Bandung dan banyak alasan untuk bersyukur..

Pagi-pagi buta saya dibuat nyengir sama status eh lebih tepatnya sama foto yang dishare kang Emil (Ridwan Kamil), walikota Bandung. Seperti biasa apapun yang dishare Pak Wali ganteng, ramah, jago gambar dan punya rasa humor yang besar ini pasti langsung diserbu oleh ‘like’ dari ribuan follower FBnya.

Nah.. setelahnya, postingan gambar ini biasanya akan dibanjiri oleh komen-komen bernada beragam. Ada dukungan, pernyataan setuju atas dukungan, kadang komen standar semacam ‘good’, ‘nice’, ‘keren, pak’, atau malah jadi semacam ruang chatting yang berisik dari mereka.

Uniknya, beberapa komentar langsung ditanggapi oleh sang empunya FanPage, alias Kang Emil sendiri. Dan di sinilah justru kelucuan seringkali terjadi.

Salah satu contohnya:

Udah bisa nangkap lucunya di mana? 😉

Ya begitulah bapak walikota kami. Selalu ada waktu buat sekedar ‘bercengkerama’ dengan warganya. Bahkan di beberapa kesempatan Pak Wali bersedia loh meluangkan waktu untuk ketemu warganya yang pengen ketemu (dan foto bareng), bahkan untuk alasan ngidamnya ibu hamil sekalipun!

Sebagai warga berKTP Bandung, saya banggalah punya walikota Bapak Ridwan Kamil.

Alhamdulillah..

Dan sepertinya gen keturunan bodor alias kocak ini nggak cuma dimiliki Kang Emil sang walikota aja deh. Banyak kok orang asli Bandung ataupun beberapa kota di Jawa Barat lain (alias orang Sunda) yang juga sama lucunya. Antara lain Sule alias Sutisna, kang Pidi Baiq, (alm) Didi Petet, Epy Kusnandar (Kang Mus) dan masih banyak lagii..

Selalu ada alasan untuk lebih banyak bersyukur. Salah satunya bisa jadi warga kota Bandung dan tinggal di kota dengan suasana yang keren, nyaman, warga ramah, pak walikota pintar dan baik hati, plus bersuamikan orang Sunda yang kalem *uhuk* dan humoris.. #eeaaa… 😀

#postingan ini bukanlah postingan berbayar apalagi semacam #postingan #kode..

:mrgreen:

1536575_10202808343868864_743800901_n
BANDUNG; Salah satu tempat terbaik untuk tinggal dan membesarkan anak-anak.. #eeaaa 😀 

Sekarang..

Setelah sekian lama… Akhirnya saya memberanikan diri buat nulis lagi. Selama ini.. Ada rasa yang menyesakkan dada saat hendak memulai menulis. Entahlah..

Mungkin hanya pikiran-pikiran irrasional saya saja yang akhirnya menghambat saya menulis.

Trauma?

Haha.. Bisa jadi. Tapi ya sudahlah..

Seseorang pernah berkata.. Waktu akan menyembuhkan. Dan semoga.. Sekarang saatnya saya sembuh dan bangkit lagi!

Sekarang?

Iya.. Sekarang.. Kapan lagi?? 😀 😀 😀

Yuuk ah.. Semangat!

Random

Masih berhubungan sama bahasan tentang persahabatan di postingan sebelumnya. Idealnya kan kalau berteman itu, selain saling mendukung, juga berani mengkritik. Cuma jaman sekarang, masih berlaku nggak sih hal kaya gini? Kalau di bagian dukung mendukung kayanya sih paling banyak yang bisa melakukan. Nah masalah kritik mengkritik ini kok kayanya yang paling berat ya (setidaknya menurut saya). Kalau bisa di-skip mah ya di-skip. Cuma jatohnya kok ya tega bener gitu loh. Kok kesannya kalau temen salah kita tega ngebiarin dia tersesat lebih jauh sementara sebagian diri yang lain juga ragu-ragu mau menunjukkan kesalahannya.

Bukan sok paling bener, cuma minimal kita share lah pendapat kita. “Kok kalau sepemahaman saya kaya gini ya… bukan begitu.. gimana menurutmu?”

Mudah teorinya. Gampang kayanya dilakuin. Tapi prakteknya?? Kayanyaa susaaaah benerrr… 😆

Berapa banyak sih manusia yang ikhlas kalau ditunjukin kesalahannya? Sementara ego manusia itu secara naluri punya mekanisme pertahanan diri yang kuat. Macem-macem pula wujudnya.. 😀

Hanya orang berhati besar saja yang rela untuk dikritik. Ya nggak?

Kalau menurut kamu gimana? Share lagi yuuk!

Kamu punya pengalaman nggak tentang hal ini? Boleh pengalaman yang enak atau ngga. Bebas kok. Bagi sama saya yuuk!

Sahabat ideal yang kaya gimana sih?

Idealnya, bersahabat itu nggak hanya saling mendukung apa-apa yang dilakukan dan diucapkan sahabat kita. Namun juga berani menunjukkan kebenaran. Kalau benar ya katakan benar tapi kalau sahabat kita salah (hey, manusia itu tempatnya salah dan dosa kan? nggak cuma kamu, saya juga! 🙂 😀 ) atau keliru dalam menyikapi sesuatu maka ‘idealnya’ kita berani mendebatnya. ya tentu saja dengan debat yang sopan dan santun.

ini pun berlaku kalau saya yang ada di posisi salah tadi. saya dengan senang hati -dan amat sangat bahagia dan bersyukur- kalau sahabat saya mau mengkritik saya dan berusaha mengembalikan saya ke jalan dan pemahaman yang benar.

kebayang dong gimana songongnya saya kalau semua yang saya katakan dan lakukan nggak ada yang mengkritik. berasa saya paling bener sedunia kan? maka.. please help me. tolong saya.

kalau ada sikap dan sifat saya yang berada di luar jalur kebenaran atau berjalan menuju ke sana. tolong ingatkan saya ya.. 🙂

that’s what friend are for, kan?

🙂

nah.. kalau kamu pribadi, lebih seneng temen kamu ngeritik sifat atau sikap kamu kalau seandainya ada yang salah dengan apa yang kamu pahami / lakukan, atau pengen temen kamu selalu ngedukung kamu apapun yang kamu lakukan dan pahami? walaupun apa yang kamu lakukan itu sebenarnya nggak benar tapi kamu yakin benar. istilahnya sih ngebelain kamu mati-matian dengan jalan yang kamu pilih?

biar saya ngga salah paham, boleh tahu alasan kenapa kamu pilih hal itu (didukung mati-matian / terbuka terhadap kritik) ?

dan kriteria orang seperti apa yang pantas kamu sebut sahabat?

 

share yuuk!