Mahabaratha lagii…

Lanjjuuut yuuk dikit.. Hahaha.. πŸ˜†

-yang belom mudeng, baca postingan sebelumnya ya..-

Naah.. Setelah tokoh Khrisna muncul dan bilang kalau ini kisah Mahabaratha, barulah saya tergerak untuk googling cerita Mahabaratha dari awal. Supaya saya nyambung sama filmnya. Dan ternyata, mencari tahu sendiri, baca sendiri.. Jauh lebih efektif daripada sekedar denger dongeng dan pasif “cuma” mendengar aja.. Haha..

Setidaknya buat saya. Jadi sayanya lebih mudeng. Kalau saya ngeblank sama sekali trus nungguin adayang ngedongeng (kaya waktu masih anak-anak dan belom bisa baca), sekali gak nyimak dongengnya, maka buyarlah semuanya..Β  :mrgreen:

Begitulah…

Saya pun lebih paham kisah Mahabaratha ini baru setelah saya gede dan sedang hamil anak ketiga.. πŸ˜€

Untungnyaa… Pas saya nongton film ini -yang sekali lagi kebetulan para pemaennya ganteng-ganteng.. πŸ˜† – nggak terlalu ngerasa bersalah aja kalau ngefans mereka.. Hihi.. Anggap aja bawaan hormon ibu hamil.. #ngeles

Dan akhirnya… Sedikit ngerasa bersalah juga (salahkan hormon! πŸ˜› ) pas akhirnya Ridwan lahir di bulan September 2014.. *pas di klinik juga saya nunggu kontraksi itu tv-nya muter Mahabaratha loh! #penting πŸ˜†

Kebetulannya.. suami saya juga suka nongton Mahabaratha. Bahkan dia duluan nongtonnya lewat youtube karena di tv-nya kelamaan.. Hahaha..

Begitulah sedikit kisah tentang Mahabaratha.

Walaupun kemudian anteve nayangin bermacam film India macam Mahadewa, Mahaputra, Karna, Naviya bahkan kisah Turki Abad Kejayaan.. Belum ada yang bikin saya klik nongton seperti pas saya pertama kali lihat Mahabaratha. Feel-nya gak ada.. #guayaa

 

Hingga akhirnya secara gak sengaja saya nongton Uttaran…!

Ada apa dengan Uttaran..?

Ntar saya cerita lagi ya.. Laper euy..

Sarapan yuuk!

 

Mahabaratha

Beberapa tahun kemaren.. Saya lagi keranjingan nongton mahabaratha di antv. Bukan apa-apa siih..

Cuma selama ini saya harus puas “cuma” denger kisah mahabaratha lewat dongengan simbah dan buyut saya, -bahkan mama saya-.. πŸ˜€ tentang wayang dan para tokohnya.

Tapi ya gitu.. Saya cuma ngedengerin tanpa bisa membayangkan apa sih yang sebenarnya terjadi pada para tokoh-tokohnya.

Pun di saat bapak saya -kalau kebetulan ada acara wayang kulit- ngajak nongton wayang kulit. Sungguh.. Saya hanya mampu mengingat sedikit saja tentang tokoh wayang (itupun lebih ke nama mereka masing-masing tanpa tahu lebih jauh siapa dan apa yang terjadi pada diri mereka dalam kisah ini.. #eeaaa)

Apalagi yang namanya wayang kulit ya begitu itu. Selain diceritakan oleh para dalang dalam bahasa Jawa kuno -yang saya nggak terlalu paham- (iya.. saya ini Jawa yang nggak terlalu Njawi.. πŸ˜› ), penceritaannya juga hanya bagian per bagian saja. Ngga menyeluruh dari awal sampai akhir.

Ya iyalah neng! Bisa sebulan lebih.. Nggak cuma tujuh hari tujuh malam.. πŸ˜†

Ya begitulah..

Hingga akhirnya pada suatu ketika.. Saya kebetulan lihat tv dan channelnya menuju pada anteve. Di awal cerita menuju pada kisah Dewi Gangga dan Prabu Sentanu.. Lalu ada Satyawati.. Dan keluarlah Dewabrata alias Bhisma.. Daan saya langsung jatuh cinta sama kisah ini!

Tanda-tanda saya akan meneruskan nonton sebuah acara televisi itu.. Kalau dari awal saya betah nongton.. ya setidaknya 15 menit di awal.. Bisa jadi saya akan nerusin nongton acara itu. Kalau semenjak liat udah ngerasa “halagh” ya sorry to say. Saya pindah channel atau malah dimatiin aja tv-nya sekalian.. Hahaha..

Kebetulan di kisah Mahabaratha ini saya jatuh cinta sama kebijaksanaan si Bhisma. Sampe ngebatin.. “Baek bener deh ini orang..” πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

 

Saya terusin ntar lagi ya ceritanya.*pede ada yang baca*

Mo ngejar Ridwan dolo.. πŸ˜€

 

Yuuk ah!

 

 

 

Sekarang..

Setelah sekian lama… Akhirnya saya memberanikan diri buat nulis lagi. Selama ini.. Ada rasa yang menyesakkan dada saat hendak memulai menulis. Entahlah..

Mungkin hanya pikiran-pikiran irrasional saya saja yang akhirnya menghambat saya menulis.

Trauma?

Haha.. Bisa jadi. Tapi ya sudahlah..

Seseorang pernah berkata.. Waktu akan menyembuhkan. Dan semoga.. Sekarang saatnya saya sembuh dan bangkit lagi!

Sekarang?

Iya.. Sekarang.. Kapan lagi?? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Yuuk ah.. Semangat!

Sesuatu yang selama ini hanya (mampu disimpan dan) tersimpan di dalam hati saja..

Beberapa minggu (atau mungkin bulan ya?) terakhir saya nggak aktif nulis blog lagi. Selain karena saya baru ketambahan anggota keluarga baru yang posesif pisan sama emaknya, my lovely Ridwan (10 m).. Hehe.. Saya juga baru saja kehilangan.

Ya, salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki berpulang ke rahmatullah. Sedih? Sangat. Amat sangat.

Beberapa detik setelah saya menutup telepon dari suami sahabat saya yang mengabarkan kepergiannya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Padahal beberapa menit sebelumnya saya sibuk menghiburnya bahwa sahabat saya itu orang baik, mudah-mudahan Allah SWT menempatkannya di tempat terindah di sisi-Nya. Amin ya robbal alamiin..

Saya shock. Antara sedih dan kaget -nggak percaya kalau dia berpulang secepat itu-Β  bercampur jadi satu. Gimana nggak kaget, sebulan sebelumnya saya baru aja ketemu sahabat saya itu di Surabaya. Kami sempet jalan bareng bertiga sama anak bungsu saya. Seperti biasa, kulineran makan makanan khas Surabaya kalau saya lagi mudik ke Surabaya. Dan sahabat saya ini selalu bersedia meluangkaan waktunya nemenin saya ke sana kemari. Kalau nggak makan batagor Bratang (bukannya batagor makanan Bandung ya? πŸ˜› ) ya makan rujak cingur. Atau sekedar ngobrol ngalor ngidul bareng temen kita yang lain.

Saya mencoba mengingat-ngingat hal apapun tentang sahabat saya ini. Candaan kami, obrolan kami, gaya khasnya bicara, cara dia tersenyum dan apa-apa yang dia (dan kami) lakukan sepanjang persahabatan kami.

Apa saja.

Dan ternyata … – saya – tidak – bisa – menemukan – kekurangannya –

Semua yang saya ingat tentangnya hanya hal positif. Semua yang ada dalam kepala dan ingatan saya HANYA ke-BAIK-annya. Saya nyaris tidak menemukan kekurangannya -sebagai sahabat saya-.

Kepergiannya membuat saya menyadari satu hal penting dalam hidup ini.

Akan seperti apa kita ingin dikenal dan dikenang sebagai manusia? Akan menjadi MANUSIA seperti apa kiranya kita iniΒ  di dalam pikiran orang-orang terdekat kita saat nama kita disebutkan?

Apa kata / kalimat yang terlintas saat nama kita disebut? Hal baikkah atau justru sebaliknya? Naudzubillah..

Itu sebabnya perlahan saya mulai membenahi diri saya. Mulai mengubah sedikit demi sedikit hal mulai dari yang terkecil -dan termudah- dalam hidup saya. Salah satunya belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang tadinya mati-matian saya kejar dan mungkin berusaha untuk diperbaiki. Namun setelah saya resapi lebih dalam, saya sadari bahwa saya sudah berupaya maksimal meski tak jua mendapatkan titik terang. Maka kini saatnya saya pasrahkan pada Sang Maha Kuasa. Allah SWT lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah SWT yang berhak untuk membukakan pintu-pintu hidayah-Nya bagi siapapun yang Ia kehendaki. Saya hanya bisa berdoa dan memohon padanya. Dan berusaha maksimal menjemput hidayah-Nya.

just keep smile.. :)
just keep smile.. πŸ™‚

Intinya, saya mulai mengikhlaskan apapun yang dilakukan orang lain -di luar kehendak saya- dan berusaha tidak terganggu karenanya. Fokus untuk menjadi manusia yang lebih baik. Melakukan hal-hal baik lain yang bisa saya lakukan. Apa saja.

Belajar lagi. Belajar apa saja, di mana saja. Kapan saja. Pada apa dan siapa saja. Meningkatkan kualitas diri saya.

Bismillah.

Semoga Allah memudahkan.

Dan ketika saya mengingat kembali tentang sahabat saya ini, satu hal yang akan selalu saya ingat tentangnya adalah bahwa sahabat saya ini, alm. Desi Kustianti selau mendengar apapun yang saya ucapkan. Apapun yang saya ceritakan.

Ya. Dia PENDENGAR YANG BAIK.

Sebagai orang Jawa yang tinggal dan menetap di tanah Pasundan, saya sangat merindukan bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Dan Desi (kami punya panggilan sayang satu sama lain ‘Jo’) adalah salah satu teman yang sering saya hubungi sekedar untuk bertukar kabar dan mengobrol untuk bicara bahasa Suroboyoan -yang tentu saja tidak bisa dilakukan suami saya yang aseli Sunda- :p πŸ˜€ ). Kalimat yang sering saya ucapkan padanya “sek talah jo, rungokno aku dhisik, aku arep crito.” (Sebentar ya Jo. dengerin aku mau cerita).

Dan sambil tertawa ia mempersilakan saya untuk bercerita. Begitu saja. Salah satu hal yang paling membuat saya kehilangan seorang Dechi Jo. Saya rindu untuk didengar.

Ya. Di jaman medsos ketika semua orang mulai sering dan asyik ‘ngomong’ sendiri -baik didengar ataupun nggak-, baik ngomong di medsos -status, blog (lah ini kamu juga kan bee? πŸ˜† ), tweet, path, dan apalah-apalah lainnya yang saya nggak tahu- semakin sedikit saja orang yang mau mendengar.

Apalagi mendengar dengan hati. Semakin menipis stok orang yang benar-benar mau mendengar yang benar-benar ‘mendengarkan’ bukan sekedar mendengar untuk kemudian berkomentar -apalah- setelahnya.. 😦

YA ALLAH.. Saya kembali tertampar, bahwa mulai saat ini saya harus bisa lebih banyak mendengar yang benar-benar mendengarkan. Mendengar untuk memahami tiap makna yang tersirat di setiap kata yang diucapkan orang lain. Karena ternyata didengarkan itu ternyata juga salah satu kebutuhan mendasar manusia. Tak hanya kebutuhan seorang rini bee saja. Tuh bee… Ulah egois atuh.. :sight: πŸ™„

Terima kasih Desi Kustianti. Kau membuatku menyadari banyak hal. Terima kasih telah menjadi salah satu sahabat terbaikku.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima amal ibadah, iman dan Islamnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiiin ya robbal alamiin..

saya dan (alm) desi..

Dan saya juga nggak tahu inti tulisan ini tentang apa sebenarnya. Campur aduk macam-macam sepertinya. Hanya mencoba bercerita dan mengungkapkan apa yang selama ini tertahan di dalam dada hati saya.

Bagaimanapun juga, untuk anda yang sudah bersedia meluangkan waktunya tersesat mampir ke postingan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Terima kasih telah mendengarkan saya.. πŸ™‚

Random

Masih berhubungan sama bahasan tentang persahabatan di postingan sebelumnya. Idealnya kan kalau berteman itu, selain saling mendukung, juga berani mengkritik. Cuma jaman sekarang, masih berlaku nggak sih hal kaya gini? Kalau di bagian dukung mendukung kayanya sih paling banyak yang bisa melakukan. Nah masalah kritik mengkritik ini kok kayanya yang paling berat ya (setidaknya menurut saya). Kalau bisa di-skip mah ya di-skip. Cuma jatohnya kok ya tega bener gitu loh. Kok kesannya kalau temen salah kita tega ngebiarin dia tersesat lebih jauh sementara sebagian diri yang lain juga ragu-ragu mau menunjukkan kesalahannya.

Bukan sok paling bener, cuma minimal kita share lah pendapat kita. “Kok kalau sepemahaman saya kaya gini ya… bukan begitu.. gimana menurutmu?”

Mudah teorinya. Gampang kayanya dilakuin. Tapi prakteknya?? Kayanyaa susaaaah benerrr… πŸ˜†

Berapa banyak sih manusia yang ikhlas kalau ditunjukin kesalahannya? Sementara ego manusia itu secara naluri punya mekanisme pertahanan diri yang kuat. Macem-macem pula wujudnya.. πŸ˜€

Hanya orang berhati besar saja yang rela untuk dikritik. Ya nggak?

Kalau menurut kamu gimana? Share lagi yuuk!

Kamu punya pengalaman nggak tentang hal ini? Boleh pengalaman yang enak atau ngga. Bebas kok. Bagi sama saya yuuk!