Sekarang..

Setelah sekian lama… Akhirnya saya memberanikan diri buat nulis lagi. Selama ini.. Ada rasa yang menyesakkan dada saat hendak memulai menulis. Entahlah..

Mungkin hanya pikiran-pikiran irrasional saya saja yang akhirnya menghambat saya menulis.

Trauma?

Haha.. Bisa jadi. Tapi ya sudahlah..

Seseorang pernah berkata.. Waktu akan menyembuhkan. Dan semoga.. Sekarang saatnya saya sembuh dan bangkit lagi!

Sekarang?

Iya.. Sekarang.. Kapan lagi?? 😀 😀 😀

Yuuk ah.. Semangat!

Iklan

Sesuatu yang selama ini hanya (mampu disimpan dan) tersimpan di dalam hati saja..

Beberapa minggu (atau mungkin bulan ya?) terakhir saya nggak aktif nulis blog lagi. Selain karena saya baru ketambahan anggota keluarga baru yang posesif pisan sama emaknya, my lovely Ridwan (10 m).. Hehe.. Saya juga baru saja kehilangan.

Ya, salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki berpulang ke rahmatullah. Sedih? Sangat. Amat sangat.

Beberapa detik setelah saya menutup telepon dari suami sahabat saya yang mengabarkan kepergiannya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Padahal beberapa menit sebelumnya saya sibuk menghiburnya bahwa sahabat saya itu orang baik, mudah-mudahan Allah SWT menempatkannya di tempat terindah di sisi-Nya. Amin ya robbal alamiin..

Saya shock. Antara sedih dan kaget -nggak percaya kalau dia berpulang secepat itu-  bercampur jadi satu. Gimana nggak kaget, sebulan sebelumnya saya baru aja ketemu sahabat saya itu di Surabaya. Kami sempet jalan bareng bertiga sama anak bungsu saya. Seperti biasa, kulineran makan makanan khas Surabaya kalau saya lagi mudik ke Surabaya. Dan sahabat saya ini selalu bersedia meluangkaan waktunya nemenin saya ke sana kemari. Kalau nggak makan batagor Bratang (bukannya batagor makanan Bandung ya? 😛 ) ya makan rujak cingur. Atau sekedar ngobrol ngalor ngidul bareng temen kita yang lain.

Saya mencoba mengingat-ngingat hal apapun tentang sahabat saya ini. Candaan kami, obrolan kami, gaya khasnya bicara, cara dia tersenyum dan apa-apa yang dia (dan kami) lakukan sepanjang persahabatan kami.

Apa saja.

Dan ternyata … – saya – tidak – bisa – menemukan – kekurangannya –

Semua yang saya ingat tentangnya hanya hal positif. Semua yang ada dalam kepala dan ingatan saya HANYA ke-BAIK-annya. Saya nyaris tidak menemukan kekurangannya -sebagai sahabat saya-.

Kepergiannya membuat saya menyadari satu hal penting dalam hidup ini.

Akan seperti apa kita ingin dikenal dan dikenang sebagai manusia? Akan menjadi MANUSIA seperti apa kiranya kita ini  di dalam pikiran orang-orang terdekat kita saat nama kita disebutkan?

Apa kata / kalimat yang terlintas saat nama kita disebut? Hal baikkah atau justru sebaliknya? Naudzubillah..

Itu sebabnya perlahan saya mulai membenahi diri saya. Mulai mengubah sedikit demi sedikit hal mulai dari yang terkecil -dan termudah- dalam hidup saya. Salah satunya belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang tadinya mati-matian saya kejar dan mungkin berusaha untuk diperbaiki. Namun setelah saya resapi lebih dalam, saya sadari bahwa saya sudah berupaya maksimal meski tak jua mendapatkan titik terang. Maka kini saatnya saya pasrahkan pada Sang Maha Kuasa. Allah SWT lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah SWT yang berhak untuk membukakan pintu-pintu hidayah-Nya bagi siapapun yang Ia kehendaki. Saya hanya bisa berdoa dan memohon padanya. Dan berusaha maksimal menjemput hidayah-Nya.

just keep smile.. :)
just keep smile.. 🙂

Intinya, saya mulai mengikhlaskan apapun yang dilakukan orang lain -di luar kehendak saya- dan berusaha tidak terganggu karenanya. Fokus untuk menjadi manusia yang lebih baik. Melakukan hal-hal baik lain yang bisa saya lakukan. Apa saja.

Belajar lagi. Belajar apa saja, di mana saja. Kapan saja. Pada apa dan siapa saja. Meningkatkan kualitas diri saya.

Bismillah.

Semoga Allah memudahkan.

Dan ketika saya mengingat kembali tentang sahabat saya ini, satu hal yang akan selalu saya ingat tentangnya adalah bahwa sahabat saya ini, alm. Desi Kustianti selau mendengar apapun yang saya ucapkan. Apapun yang saya ceritakan.

Ya. Dia PENDENGAR YANG BAIK.

Sebagai orang Jawa yang tinggal dan menetap di tanah Pasundan, saya sangat merindukan bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Dan Desi (kami punya panggilan sayang satu sama lain ‘Jo’) adalah salah satu teman yang sering saya hubungi sekedar untuk bertukar kabar dan mengobrol untuk bicara bahasa Suroboyoan -yang tentu saja tidak bisa dilakukan suami saya yang aseli Sunda- :p 😀 ). Kalimat yang sering saya ucapkan padanya “sek talah jo, rungokno aku dhisik, aku arep crito.” (Sebentar ya Jo. dengerin aku mau cerita).

Dan sambil tertawa ia mempersilakan saya untuk bercerita. Begitu saja. Salah satu hal yang paling membuat saya kehilangan seorang Dechi Jo. Saya rindu untuk didengar.

Ya. Di jaman medsos ketika semua orang mulai sering dan asyik ‘ngomong’ sendiri -baik didengar ataupun nggak-, baik ngomong di medsos -status, blog (lah ini kamu juga kan bee? 😆 ), tweet, path, dan apalah-apalah lainnya yang saya nggak tahu- semakin sedikit saja orang yang mau mendengar.

Apalagi mendengar dengan hati. Semakin menipis stok orang yang benar-benar mau mendengar yang benar-benar ‘mendengarkan’ bukan sekedar mendengar untuk kemudian berkomentar -apalah- setelahnya.. 😦

YA ALLAH.. Saya kembali tertampar, bahwa mulai saat ini saya harus bisa lebih banyak mendengar yang benar-benar mendengarkan. Mendengar untuk memahami tiap makna yang tersirat di setiap kata yang diucapkan orang lain. Karena ternyata didengarkan itu ternyata juga salah satu kebutuhan mendasar manusia. Tak hanya kebutuhan seorang rini bee saja. Tuh bee… Ulah egois atuh.. :sight: 🙄

Terima kasih Desi Kustianti. Kau membuatku menyadari banyak hal. Terima kasih telah menjadi salah satu sahabat terbaikku.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima amal ibadah, iman dan Islamnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiiin ya robbal alamiin..

saya dan (alm) desi..

Dan saya juga nggak tahu inti tulisan ini tentang apa sebenarnya. Campur aduk macam-macam sepertinya. Hanya mencoba bercerita dan mengungkapkan apa yang selama ini tertahan di dalam dada hati saya.

Bagaimanapun juga, untuk anda yang sudah bersedia meluangkan waktunya tersesat mampir ke postingan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Terima kasih telah mendengarkan saya.. 🙂

Random

Masih berhubungan sama bahasan tentang persahabatan di postingan sebelumnya. Idealnya kan kalau berteman itu, selain saling mendukung, juga berani mengkritik. Cuma jaman sekarang, masih berlaku nggak sih hal kaya gini? Kalau di bagian dukung mendukung kayanya sih paling banyak yang bisa melakukan. Nah masalah kritik mengkritik ini kok kayanya yang paling berat ya (setidaknya menurut saya). Kalau bisa di-skip mah ya di-skip. Cuma jatohnya kok ya tega bener gitu loh. Kok kesannya kalau temen salah kita tega ngebiarin dia tersesat lebih jauh sementara sebagian diri yang lain juga ragu-ragu mau menunjukkan kesalahannya.

Bukan sok paling bener, cuma minimal kita share lah pendapat kita. “Kok kalau sepemahaman saya kaya gini ya… bukan begitu.. gimana menurutmu?”

Mudah teorinya. Gampang kayanya dilakuin. Tapi prakteknya?? Kayanyaa susaaaah benerrr… 😆

Berapa banyak sih manusia yang ikhlas kalau ditunjukin kesalahannya? Sementara ego manusia itu secara naluri punya mekanisme pertahanan diri yang kuat. Macem-macem pula wujudnya.. 😀

Hanya orang berhati besar saja yang rela untuk dikritik. Ya nggak?

Kalau menurut kamu gimana? Share lagi yuuk!

Kamu punya pengalaman nggak tentang hal ini? Boleh pengalaman yang enak atau ngga. Bebas kok. Bagi sama saya yuuk!

Sahabat ideal yang kaya gimana sih?

Idealnya, bersahabat itu nggak hanya saling mendukung apa-apa yang dilakukan dan diucapkan sahabat kita. Namun juga berani menunjukkan kebenaran. Kalau benar ya katakan benar tapi kalau sahabat kita salah (hey, manusia itu tempatnya salah dan dosa kan? nggak cuma kamu, saya juga! 🙂 😀 ) atau keliru dalam menyikapi sesuatu maka ‘idealnya’ kita berani mendebatnya. ya tentu saja dengan debat yang sopan dan santun.

ini pun berlaku kalau saya yang ada di posisi salah tadi. saya dengan senang hati -dan amat sangat bahagia dan bersyukur- kalau sahabat saya mau mengkritik saya dan berusaha mengembalikan saya ke jalan dan pemahaman yang benar.

kebayang dong gimana songongnya saya kalau semua yang saya katakan dan lakukan nggak ada yang mengkritik. berasa saya paling bener sedunia kan? maka.. please help me. tolong saya.

kalau ada sikap dan sifat saya yang berada di luar jalur kebenaran atau berjalan menuju ke sana. tolong ingatkan saya ya.. 🙂

that’s what friend are for, kan?

🙂

nah.. kalau kamu pribadi, lebih seneng temen kamu ngeritik sifat atau sikap kamu kalau seandainya ada yang salah dengan apa yang kamu pahami / lakukan, atau pengen temen kamu selalu ngedukung kamu apapun yang kamu lakukan dan pahami? walaupun apa yang kamu lakukan itu sebenarnya nggak benar tapi kamu yakin benar. istilahnya sih ngebelain kamu mati-matian dengan jalan yang kamu pilih?

biar saya ngga salah paham, boleh tahu alasan kenapa kamu pilih hal itu (didukung mati-matian / terbuka terhadap kritik) ?

dan kriteria orang seperti apa yang pantas kamu sebut sahabat?

 

share yuuk!

Beurit

Jadi ceritanya.. beberapa waktu yang lalu rumah saya tiba-tiba aja listriknya padam. Waktu saya cek, rupanya bukan lampu mati serentak di daerah kami. Salah satu sekring listrik di rumah kami (ada 3 sekring) mengarah ke bawah. Dengan kata lain ada salah satu aliran listrik yang korslet eh apa konslet ya? Ya pokoknya salah satu aliran listrik terjadi hubungan arus pendek. Jadi secara otomatis saluran listriknya padam ke seluruh rumah.

Ketika saya nyalakan lagi listriknya, ternyata yang bermasalah itu adalah pada listrik jet pump. Berhubung saya nggak tahu banyak tentang listrik dan jet pump, saya panggillah tetangga yang lebih ahli buat ngecek kondisi si jet pump *sekalian ngebetulin listrik telepon yang emang kebetulan juga rusak. 😀

Ternyata keputusan saya manggil tukang benerin jet pump ini tepat saudara-saudara.. Kenapa? Karena ternyata, jet pump saya konslet tak lain dan tak bukan karena ulah tikus.. Hii… >.<

Iya. Jet pump saya dianggap cukup hangat oleh si mbok tikus dan dibuatlah sarang di sana. 😛

Gimana nggak konslet coba kalo kabelnya digigit-gigit sampai putus *dan kenapa pula tikusnya nggak kesetrum ya? Umur panjang! 😆

Oya.. Waktu dicek, si mbok tikusnya kebetulan nggak ada di tempat. :penting: Jadi kita cuma bisa lihat anaknya aja yang jumlahnya nggak kurang dari 5, atau mungkin malah 6. Masih kecil dan warnanya putih. Gelii mengarah ke jijik sih sebenarnya banget lihatnya. Si mang tukang benerin aja juga bergidik.. Hahaha.. 😆

Dengan bantuan keikhlasan yang besar, si mang jet pump rela mengumpulkan anak-anak tikus itu untuk dikoleksi dan membuangnya ke kresek hitam. Saya nggak nanya lagi dibuang ke mana. :penting:

Singkat cerita, jet pump saya akhirnya kembali nyala.

Harusnya mah happy ending ya? Tapi …

Setelah kejadian tersebut. Beberapa hari setelahnya tikus di rumah saya jadi berulah. Celana hitam saya digigitnya di bagian bawah. Juga satu celana pendek yang saya pakai buat dinas (baca: nyapu, ngepel, beberes dan mandiin anak-anak) di rumah *okelah celana ini mah udah lama pisan. Jadi saya rela lah jikalau akhirnya harus mengalihfungsikannya menjadi lap pel. :D*

Cuma nggak sampai di situ. Bedong Ridwan pun digigitnya, juga kerudung sekolah si teteh. Saya sampai bingung kapan tepatnya dia menggigiti baju-baju kami. Apa waktu sedang direndam, ditaruh di tempat baju kotor atau di mana?

Hingga akhirnya kebrutalannya berakhir begitu saja. Kami berdamai. *halagh*

Hingga pada suatu hari…

Tibalah giliran mesin cuci saya yang kemudian bermasalah. Entah mengapa, sepertinya ada air menggenang di samping tabung mesin cuci saya. Kalau digerakkan rasanya kokkaya ada bunyi air. Pun demikian dengan mesin pompanya. Kalau dibuat mencuci lama sekali airnya terisi. Saya panggil lagi si mamang yang dulu pernah betulin jet pump. Dan ternyata … si tikus tadi pindah rumah ke bawah mesin cuci saya. >.<

Duh.. kacau bener ini si tikus. Saya kan nggak pernah ganggu-ganggu dia, toh?! Itu yang buang anaknya kan mamang jet pump, bukan saya. *lepas tangan* 😆

Si mamang kembali bergidik karena kabarnya si mbok tikus yang bersarang di sana cukup besar. *nah loh? 😀

Singkat cerita si tikus tadi kabur dengan sendirinya sebelum diusir. Tapi ternyata itu hanya sementara. Karena ternyata, beberapa hari setelahnya, saat saya mencuci. Si tikus kembali mengamuk dan melakukan aksi brutal. Menghancurkan baju yang ada di mesin cuci.

Jadi biasanya saya mencuci di malam hari, tapi menjemurnya di pagi harinya. eh ini keduluan si tikus. Baju yang udah bersih di mesin cuci malah dikrikiti (baca: dimakan kecil-kecil) olehnya. Dan yang jadi korban kali ini baju kesayangan anak-anak.. hu hu hu.. 😦

Sedih rasanya. Soalnya itu baju kesayangan Reina.

Berulang kali saya minta maaf pada Reina karena bajunya rusak dimakan tikus. Alhamdulillah-nya Reina legowo pisan orangnya. Jadi nggak ada adegan deramah menangisi baju yang terkoyak. *halagh* 😀

Ada hikmah juga sih dari kejadian ini. Bahwa sebaiknya kita tidak menyayangi segala sesuatu (dalam hal ini barang) secara berlebihan. Termasuk baju juga. Dan kayanya saya harus lebih bisa mencuri-curi waktu buat nyuci di pagi hari aja. Tadinya saya pikir kalau nyucinya malam maka semua baju sudah dalam keadaan bersih, nggak nyimpen baju kotor tapi jadinya malah dimakan tikus 😛. Hehehe..

Bismillah.. Semoga ke depannya selalu bisa berpikir positif dalam menghadapi semua kejadian. Aamiin..

 

Beurit dalam bahasa Sunda artinya tikus.

Ps: Foto menyusul ya..

Foto baju yang terkoyak. *halagh* 😀

Eh iya, ada yang nanyain kabar si tikus? Nggak saya apa-apain kok tikusnya karena nggak berani juga. Iya, saya cemen. :D. Malah mau nanya sama teman-teman. Apa ya cara yang ampuh mengusir tikus tanpa perlu menyakitinya.. #eaaa..

Masa saya harus nyewa Ibam-nya mba Ade Anita? *uhuk* #modus 😆

 

Posesif

Gimana rasanya punya bayi (lagi) umur 3 bulan?

Kalau misalnya ada yang nanya gitu, saya jadi pengen ketawa senyum. Jujur aja saya udah nyaris lupaa gimana rasanya.. Hahaha..

Karena terakhir kali saya punya bayi itu, ya sekitar 3 tahun kemarin. Jadi pas punya lagi ya balik kaget lagi.. *halagh*

Punya bayi 3 bulan itu ibarat naik roller coaster. Naik turun deg-degan. Takut dia jatoh dari tempat tidur (karena udah mulai miring-miring bobonya).

Ibarat punya mainan baru. Seneeeeng mulu bawaannya. Karena si bayi selalu punya caranya sendiri bikin kita senyum. Bayinya juga suka senyum sendiri sih! :* (ada yang bilang katanya bayinya diajak senyum malaikat, kita sayanya aja sering ke-geeran dan ngerasa kalau bayinya senyum sama kita. *plak* )

Ibarat telat masuk kampus. Mandi harus cepet-cepetan. (nggak ada perumpamaan laen ya?)

Yang pasti nggak bisa ditinggal dikit deh. Kecuali dia bobo pules. Si bayi bakalan terus ngeekk (nangis maksudnya) kalau kita jauh darinya. Mau nyuci.. “ngeek”. Baru ngambil sapu.. “ngeek”. Baru ngangkat setrika bentar.. “ngeek”.. bahkan kita lagi di kamar mandi… juga “ngeeek”. Akhirnyaa.. waktu kita habis cuma buat dia..

Kuserahkan seluruh waktuku bersamamu, Sayang.. *saingan ama bapaknya ya? *uhuk* hehehe.. 😛 )

Kalau ibu saya bilang.. “nggak iso ngentut, nggak iso mandi.. nggak iso lapo-lapo..” Hahahaha… 😆

Apalagi anak saya cowok.. yang katanya lebih kuat minum ASI-nya daripada anak cewek.

Kalau dipikir-pikir tentang tingkah laku si bayi yang selalu pengen deket saya dan nggak bisa ditinggal ini, saya jadi pengen senyum ketawa sendiri dan ngebatin.

Jadi.. Gini rasanya diposesifin cowok? 😆

Hahahaha…

 

Sekalian nanya deh sama ibu-ibu yang punya dan pernah punya bayi. Sama juga nggak rasanya? 😉

My lovely ridwan
My lovely ridwan

Mengingat Kebaikan

Ketika kamu sedang marah pada seseorang, jangan fokus pada apa yang membuatmu marah pada orang tersebut. Tapi ingatlah selalu hal-hal menyenangkan yang pernah kau lakukan bersamanya. Ingatlah bagaimana kamu bisa tertawa dengan lelucon garingnya atau hal-hal lucu dan menyenangkan yang pernah sama-sama kalian nikmati dan tertawai bersama. Maka nantinya.. Bisa jadi Mungkin kemarahanmu padanya tidak akan sebesar dan separah saat ini sebelumnya. 🙂

 

Saya sedang kangen dengan seseorang. Pada sahabat saya. Pada hal-hal manis yang pernah dia lakukan pada saya. Ya. Sahabat saya itu luar biasa baiknya pada saya. Selama kami berteman, dia selalu bisa dan telah melakukan banyak hal baik pada saya. Kejutan manis, cerita inspiratif bahkan lelucon garing, semua dibaginya pada saya.

Tapi itu dulu.

Sebelum akhirnya saya melakukan sesuatu hal fatal yang membuatnya marah. Lalu semuanya berubah.

Jangan tanya pada saya kenapa bisa begitu ya. Karena sampai detik inipun saya belum berhasil membuatnya mengangkat telepon dan berbicara pada saya.

Menemuinya?

Ah. Mungkin saya terlalu cemen. Saya takut ditolak. Saya belum siap dimaki-maki secara berhadap-hadapan. Kalau dimaki tertulis, saya sudah pernah. 😦

Maka.. Doakan saja suatu hari nanti saya berani menghadapi semua makiannya dan punya nyali cukup besar untuk menemuinya. Minta maaf. Udah. Itu aja. Saya nggak berani minta macam-macam. Da aku mah apa atuhh.. 😀

 

Jadi ketika akhirnya saya merindukannya. Saya pun mengingat hal-hal baik tentangnya. Hal menyenangkan yang pernah kami lalui bersama. Hanya berharap. Semoga saat dia marah, dia masih atau setidaknya pernah sedikiit saja mengingat hal baik yang pernah kami lalui bersama. Itu saja.

Kalau kalian… Sedang apa? Apakah kalian merindukan seseorang? Saya mungkin..? *eh..? 😛

 

Eh iya. Itu kutipan di atas dari siapa sih? *kali aja ada yang nanya*

Uhuk.. Itu dari saya sendiri.. *poof* *ngilang* 😀

rinibee