Menikah. Bersiaplah kehilangan..


Judulnya serem ya? Sengaja. Biar kalian pada mampir. *eh? :mrgreen:

Saya mau cerita nih.. Disimak yaa!

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya sesama penulis ada acara di Bandung. Kalau nggak salah peluncuran bukunya di salah satu toko buku. Sebenarnya, tempatnya bisa saya jangkau dengan satu kali angkot. Iya, saya ini emak-emak angkoters :mrgreen:. Sebagian diri saya pengen dateng, namun di sisi yang lain saya ini sudah bersuami. Jadi tak sebebas merpati.. *uhuk :D*.

Mungkin kalau masih single, belum punya anak dan suami.. SayaΒ tinggal minta izin bapak dan ibu saya lalu jalan ke lokasi acara dengan mencangking salah seorang sahabat perempuan saya. Beres.

Tapi ini kondisinya beda. Waktu ada launching itu, suami saya baru saja pulang dari dinas di luar kota. Waktu saya tanya baik-baik, seperti biasa jawabannya akan selalu sama “ajak saja temannya ke sini..”. Nah loh? Masa launching bukunya pindah ke rumah saya? :mrgreen:

Beda lagi waktu seorang sahabat mengirim pesan mengajak saya mengunjungi salah seorang sahabat saya yang lain yang baru saja melahirkan. Saya baca pesannya waktu sedang bertamu ke rumah salah seorang kakak ipar. Sementara suami saya nggak ikut. Pesannya nyampai ketika si teman sudah OTW, sementara saya? Β Baru tahu rencananya saat membaca pesan singkatnya. Maka, saya hubungi bapaknya anak-anak. Jawabannya? Nanti kita menyusul saja sendiri.

Bukan. Bukan karena suami saya anti sosial. Saya tahu persis alasannya.

Pertama, kami ini angkoters sejati, sementara angkot itu nunggu penuh baru jalannya lancar.

Kedua. Jarak dari rumah kakak ipar ke rumah saya pun sekitar 45 menit sampai 1 jam dengan angkot. Belum lagi pertimbangan kami baru sampai di rumah kakak ipar, masa langsung mau ngibrit.

Ketiga. Jarak dari rumah saya ke tempat kerabat yang baru melahirkan pun juga lumayan jauh. Dan pertimbangan berikutnya, malam hari nanti suami saya mau balik lagi dinas ke luar kota.

Oke. Mungkin bisa jadi semua hal yang saya jabarkan di atas itu cuma alasan pembenaran. Tapi itulah kenyataannya. Teman-teman lain bisa lebih cepat sampai karena banyak pertimbangan. Mereka menggunakan kendaraan pribadi atau mungkin jarak tempuhnya yang lebih dekat. Semua dengan kemudahan dan pertimbangannya masing-masing. Begitu juga dengan saya.

Lalu saya pun teringat pesan ibu saya. Lebih tepatnya obrolan dengan ibu saya ketika saya masih single.

Ibu saya menikah dengan bapak saya ketika berusia 22 tahun, Waktu itu, ibu saya masih jadi perawat dan sebenarnya mau melanjutkan jadi bidan tapi keburu dilamar. Dan ketika menikah, ibu saya melepaskan pekerjaannya dan ikut merantau dengan bapak saya ke Jakarta.

Setelah berhenti bekerja, ibu saya juga kehilangan kontak dengan teman-temannya. Bisa dibayangkan. Tahun 1976 belum ada twitter, facebook dan ponsel. Jadi akses dengan teman-temannya pun hilang begitu saja.

Itulah sebabnya, ibu saya pernah bilang bahwa setelah menikah, kamu harus siap kehilangan.

Serem banget ya?

Tapi semakin ke sini, saya baru paham maksudnya.

Iya. Menikah itu (memang) banyak kehilangan.

Kehilangan status kejombloan, berubah jadi nyonya.. jadi istri.

Kehilangan pekerjaan. Setidaknya saya nggak bekerja di kantor lagi, tapi nambah kerjaan di rumah. Hehehe

Kehilangan kontak dengan teman-teman. Sebagian iya. Karena nggak keep in touch. Dan persahabatan itu memang harus dipelihara, dipupuk, dirawat dan dipertahankan. Coba deh salah satu malas menghubungi sahabatnya, mau deket atau jauh jaraknya mah sama aja menurut saya. Persahabatan itu juga silaturahim kan? Saling mengunjungi dan menyapa. Itu kalau menurut saya.. πŸ™‚

Jadi nggak ngaruh menikah atau nggak. Mungkin bedanya kalau menikah, mereka ngerasa nggak enak sendiri mau menghubungi. Nggak enak sama suaminyalah atau takut nge-ganggu. Hey! Telpon mah telpon aja. Suami saya nggak segitunya kalii.. πŸ˜†

Dan beberapa kehilangan lain seperti kebebasan (harus izin suami kalau ke mana-mana, bahkan meninggalkan rumah kalau suami pergi), privasi (kalau udah punya anak, privasi itu nggak ada artinya deh :mrgreen:) dan silakan ditambah lagi yang lain.

Masalah kebebasan ini juga yang bikin saya sempat ngerasa sedikit sebel.

Ceritanya, saya pengeeen banget ikutan salah satu acara semacam pelatihan menulis yang lokasinya di Yogyakarta.

Baca lokasi aja saya udah pesimis. Yang di Bandung aja saya sering absen, ini lagi di Yogya. Duh..

Tapi Allah SWT memang lebih tahu yang dibutuhkan hamba-Nya daripada yang diinginkan. Saya ingin ikut tapi mungkin Allah berpikir bukan itu yang saya butuhkan.. πŸ™‚

Anak saya masih kecil-kecil. Bahkan belum bisa ditinggal sendiri. Makan? Sama mama aja. Mandi? Pup? Pipis? Semua masih sama mama. Kalau saya tinggal, mereka sama siapa?

Dan mengingat itu semua, saya nggak lagi merasa terintimidasi *halagh.. :D*

Ya mungkin jalan saya bukan di sana. Kalau teman-teman yang sudah menikah boleh pergi sama suaminya, mungkin mereka punya pertimbangan masing-masing. Setiap rumah tangga kan beda-beda. Hehehe..

Dan akhirnya ketika belakangan ada undangan ini – itu yang lokasinya di Bandung, saya minta izin suami, lalu ditolak, ya saya nggak berangkat. Kalau boleh.. (ini kasus khusus kayanya.. :lol:) ya Alhamdulillah.

Saya jadi mikir. Yang ngajak saya mungkin (lama-lama) akan bosan ya? Mungkin juga mikir ‘apa disekap suaminya?’, ‘kenapa dilarang terus sama suaminya?’, ’emang suaminya kenapa sih? Posesif?’ *halaah ke geeran πŸ˜†

Saya cuma bisa nyengir. Bahkan ibu saya pun melakukan hal yang sama. Mau mengunjungi saya ke Bandung? Harus ada izin dari bapak saya. Kalau nggak boleh, ya nggak berangkat. Tuh ibu saya aja gitu. Masa saya nggak? :mrgreen:

Saya pun mengikuti jejaknya. Menuruti pula segala petuah dan pesan beliau. Terserah orang mau bilang apa. Saya ngejar ridho suami. Saya ngejar ridho Allah. Itu saja.

Ibu saya pernah bilang:

“Dik, kalau suami kamu nggak boleh ya jangan memaksa. Kalau boleh, kamu perginya baik-baik. Yang penting rumah tangga sakinah, mawadah, wa rohmah. Nggak ribut sama suami. Rumah tangga harmonis dunia akhirat.”

Kurang lebih gitu deh pesannya.

Tuh.. Ibu saya saja bilang begitu. Tentrem kan dengernya? Hehehe..

Meski banyak kehilangan, banyak pula kebahagiaan lain yang saya dapatkan setelah menikah. Punya anak-anak lucu, punya sahabat dan temen sharing 24 / 7 (udah kaya restoran fast food dan minimarketΒ ya? :D), punya tempat bersandar dan disandarin daaan kebahagiaan lain yang susah ngejelasinnya satu-satu.

Termasuk punya waktu lebih longgar buat bikin postingan ini.

Jadi kehilangan yang udah disebutin di atas ketutupan sama ketambahan *bahasa apa ini? :P* yang diperoleh.

Nah, mudah-mudahan yang belum punya pasangan / suami / istri semoga diberi kemudahan dan kelancaran ya. Supaya apa yang saya omongin ini kalian bisa ikut merasakan tanpa saya berbusa-busa menjelaskan. Hehehe

Akhir kata, saya cuma mau bersyukur. Bahwa kehilangan yang ditakutkan di atas, jaman sekarang sudah bisa diminimalisir. Dulu kesannya kehilangan kontak banget kan? Apalagi kalau setelah menikah pindah luar kota, luar pulau atau bahkan luar negeri!

Kalau sekarang kan udah ada ponsel, facebook, twitter dan blog. Bisa janjian ketemuan sewaktu-waktu, bisa blogwalking atau mention-mentionan di TL. Lebih mudah kan?

Cuma ya itu tadi. Persahabatan harus di-maintain. Mau dekat atau jauh ya kembali ke orangnya lagi. Dia mau silaturahim nggak? Ya kan?

Gimana menurut kalian?

Share yuuk!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oh iya, ini foto saya dan temen-temen geng di SMA waktu reunian. Setiap kali pulang ke Surabaya, saya selalu menyempatkan untuk ketemu mereka. Mulai dari anaknya masih satu bahkan sampai sekarang punya anak dua. Kebetulan suami Icha itu temen SMA juga. Dan suka motret! (ketahuan pakai #azas manfaat :mrgreen:)

Nah kalau ini waktu ketemu lagi sama Yuniarinukti. Seorang seleb blog yang ternyata temen satu SMP! Terbukti kan nge-blog itu salah satu silaturahim yang bermanfaat. Eh bisa reunian dan ketemu temen lama.

Yang ini dengan Asmie, sahabat SMP saya sekaligus blogger. Saya sering mengunjungi blognya. Kadang silent reader sih.. Hehehe.. Dengan membaca blognya, saya ngerasa dekat dengannya meskipun tidak bisa sering ketemu. Karena saya di Bandung dan Asmie di Surabaya.

Dan bersama Asmie juga saya ketemu seleb blog lain, Pakde Cholik.. πŸ™‚

Ah senangnya. Ngeblog bisa membuat saya tetap menjaga silaturahim dengan teman-teman saya. Teman-teman bisa ikut membaca dan mengetahui kabar terakhir saya meskipun kami jarang bertatap muka. Dan ketakutan kehilangan yang pernah terjadi di masa lalu oleh ibu saya, bisa diminimalisir. Hehehe.. πŸ˜€

Gimana menurut teman-teman? Share yaa… πŸ™‚

253515_2156241344781_6170597_n
Kopdar temen Ngerumpi[dot]com yang sekarang udah tutup.. πŸ˜€
Iklan

55 pemikiran pada “Menikah. Bersiaplah kehilangan..

    1. nikah ituuuuuuuuuuuuu… #tunggu 5 tahun lagi yak budhe :p
      itu kenapa ada orang orang yang wajahnya nggak asing yak -_-
      langsung close ah..
      kaburrrrr.

      btw, angkot dibandung emang kurang jos, nggak menghargai waktu…
      luama bangetttt, puolll bangetnya.

  1. “Seorang sahabat mengirim pesan mengajak saya mengunjungi salah seorang sahabat saya yang lain yang baru saja melahirkan. Pesannya
    nyampai ketika si teman sudah OTW.”

    ups *tutup muka*
    maaf ya mba, waktu itu lia nanyanya ngedadak.. kirain mba udah tau, soalnya para suami udah diskusi soal itu di grup whatsapp dr sehari sbelumnya..

  2. pernikahan adalah jerat. jerat yang membatasi gerak. Namun jerat itu begitu indah hingga kita tak sadar telah terperangkap.
    pernikahan itu kontrak yang tak pernah habis, dan selalu bertambah. jika diurai dalam bentuk tulisan, ribuan lembar takkan cukup. jika diurai dengan lisan, ratusan jam takkan usai.
    Tapi pernikahan begitu indah hingga tak kuasa menjauh darinya.
    πŸ˜€
    komentarnya kepanjangan yaaa.. padahal masih banyak yg mo ditulis

  3. *peluuuk*
    Iyaaaa bener banget, klo kemana-mana juga rempong harus bawa anak-anak, apalagi kalo naik angkot/bus.
    Gak bisa ketemu sahabat/temen, kadang masih iri sama temen yang statusnya masih gadis dan bisa jalan-jalan kemana-mana.
    Dan akhirnya blog-lah yang gak bikin kesepian lagi πŸ™‚

    1. *peluk mba Mayya*

      Nah kalau harus naek bus, kayanya bapaknya anak-anak udah nggak bakalan ngebolehin, Mba. Jadi bisa dipastikan pergi-perginya yang deket-deket aja.. Hehehe

      Dan nge-blog emang paling ampuh menjadi tempat menumpahkan segala rasa.. πŸ™‚

    1. Tapi banyak juga yang diperoleh. Kebahagiaan dan ketentraman jiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.. πŸ™‚

      Suatu saat nanti temanmu juga akan berumah tangga kan? :mrgreen:

  4. Justru terlalu bebas itu membosankan πŸ™‚

    Somehow saya pingin balik kecil lagi, dilarang bapak ibuk untuk ini itu. Ah, menyenangkan πŸ™‚

    Kalau dilarang suami.. Haha..saya belum tahu rasanya. Tapi tampaknya menyenangkan πŸ™‚

    Tulisan ini menyenangkan sekali, mba πŸ™‚ TFS πŸ™‚

  5. pernikahan itu jerat yang penuh ilusi hingga mereka yang terperangkap tetap bahagia atau merana sesuai dengan ilusi yg diyakininya. #wwing… kedip2in mata.

    1. Nah.. Ini balik lagi ke masing-masing orang kayanya. Kalau dibawa Happy ya Happy aja. Menikah itu (seharusnya) bahagia kan?

      Kalau kata ibu saya, mau tinggal di mana saja asal dengan orang yang dicinta ya rasanya bahagia.. πŸ™‚

      Termasuk masalah jerat-jeratan ini. Kalau terjerat cinta ya tetap saja bahagia.. *eh? :mrgreen:

  6. Aku smnjak punya anak, kemana2 bawa anak mak, ntah itu kopdar atau acara lainnya. Suami sih oke2 aja, asalkan anak jangan dititipin dia krn dia juga kan kerja hihihi. EH btw baru tahu aku kalo ngerumpi udah tutup

    1. Lho.. kalau bawa anak itu sudah pasti, Mba. Saya ke mana-mana satu paket sama anak-anak. Suami saya juga oke-oke aja. Tapi bagaimanapun juga, saya selalu minta izin dulu. Nggak bisa langsung ngibrit kan? Dan lihat situasi juga, apakah kebutuhan perginya mendesak apa nggak, lalu juga masalah kepentingannya. Apa manfaatnya dan tujuan apa yang mau diperoleh. Paling itu nanti ditanyakan lagi ke saya. Kalau jawabannya cuma main aja, paling dicengirin.. :mrgreen:

      Saya jarang nitipin ke bapaknya anak-anak, Mba. Selain anaknya kepengen ikut saya ya karena bapaknya kerja.

      Iya Mba, ngerumpi udah tutup. Saya bikin postingan juga tentang ini.

      https://rinibee.wordpress.com/2013/01/14/rip-ngerumpidotcom/

      Makasih sudah mau mampir ke sini ya, Mba.. πŸ™‚

  7. ya memang benar begitu. klo suamiku spt yg dituduhkan Rini di atas: antisosial ekekekeke…. sampe skrg masih mengajari suami utk mau bersilaturahim, bahkan ke keluarga besarnya sendiri aja dia males. Tp pernah ada kejadian, pas iseng silaturahim ke keluarga besarku, eh tanteku mau jual rumah di tempat strategis. Klo aku yg beli, harganya lebih murah. Suamiku pikir2, dan jadilah kami beli rumah itu, yg skrg harganya udah dua kali lipat dr harga belinya. Aku bilang, “itu berkah silaturahim. makanya jgn malas jalan2 ngunjungi orang, bukan mall melulu.”
    walopun suamiku masih belum selalu mau kuajak ke mana2 ketemuan dg teman2, tp setidaknya udah ada perubahan jd kadang2 mau. Dulu itu, utk hadir di launching bukuku aja gak mau, apalagi liat launching buku orang hehe….

    1. Hehehehe…

      Suami saya emang jarang banget ke mana-mana, Mba. Ke mall aja juga jarang. Paling ngajak anak-anak main di taman Tegallega yang bisa ditempuh jalan kaki sekitar 10 sd 15 menit dari rumah. Atau ke tukang bubur langganan kami yang emang rasanya enak banget. Juga jalan kaki. Atau ke tukang lontong kari, (masih) jalan kaki.
      Ke rumah saudara mau sih tapi itupun inisiatif datangnya dari dia. Kalau nggak, selama bisa ketemu di rumah ya ketemuannya di rumah kami aja. Hehehe..
      Tipe orang rumahan banget. Sekalinya mau pergi, ngajaknya dadakan.
      Ya.. mudah-mudahan sedikit demi sedikit ke depannya, bisa diajak silaturahim lebih banyak lagi. Aamiin..

      Makasih untuk sharingnya juga ya mba.. πŸ™‚

  8. Sementara cewek-cewek seumuran saya pada demen-demennya pengen nikah, saya dari dulu justru agak probia sama yang namanya nikah ini, Kak. (Eh, ini manggil Kak apa Mak ya baiknya? Ah, sudah lah…) Alasannya ya karena takut kehilangan kebebasan dan kehidupan sosial itu…

    😦

    1. Nah.. Kayanya di sini ini kembali ke kemantapan masing-masing orang. Ada yang nyaman dengan kesendirian.. Ya monggo. Kalau sudah mampu dan lebih nyaman ‘diresmikan dalam ikatan pernikahan’, ya itu lebih baik lagi. Tapi setiap keputusan itu ada konsekuensinya. Kalau sendirian ya paling ditanya ‘belum pengen nikah?’ dan pertanyaan sejenisnya. Siapkan jawaban yang terbaik saja.
      Nah kalau sudah menikah, konsekuensinya ya itu tadi. Nggak bisa selalu bebas dan kalau sudah punya anak.. TARA.. Emaknya sepaket sama anaknya.. :mrgreen:

      Bagaimanapun, selalu ada dua sisi dari setiap keputusan yang kita ambil. Take your time, dear. Ada saatnya engkau memiliki kemantapan itu.. Ketika sudah menemukan dan dipertemukan dengan yang terbaik untukmu.. πŸ™‚

  9. saya juga akhir2 ini khawatir sama yang namanya “kebebasan” , mengingat bentar lagi mau nikah. takut ga bisa pergi main kemana2 lah, takut ga bebas lah, dll. tapi kayaknya emang udah waktunya , mungkin pas menikah ada kompensasinya dalam bentuk lain πŸ™‚

  10. Uhukk… saya mampir lagi mam. Ini lagi kucing-kucingan sama pakbos komennya. Soalnya tiba-tiba muncul di belakang. “mba ugha, bisa minta tolong bikinin kopi?”. Seperti di warteg ya mam? :))

    Nah…nah… ini postingan nendang bangett, menendang saya dari makassar ke bandung, dari bandung ke makassar :D.

    Saya sedang mempersiapkan masa untuk menikah. Eh eh bukaannn saya belum (akan) menikah. Ga tau itu, bapaknya anak-anak belum berkunjung ke rumah, nyasar mungkin. Nyasar dulu ke rumahnya si anu, baru mampir ke rumahku *ini ngomong apa sih* :))

    Belakangan saya memikirkan untuk menikah tapi itu tadi, bapaknya anak-anak belum datang. Tapi saya selalu yakin, semua orang ditakdirkan berpasang-pasangan, saat ini saya insya Allah sedang memperbaiki diri, menambal kelakuan-kelakuan yang ‘robek’, berdoa semampu saya, saya minta yang terbaik saja dari Allah, yang diridhoi-Nya, orang dicintai-Nya, kelak menuntun saya di jalan-Nya *nangis*.

    Eh…rencananya saya mau ngomong (curhat) melebihi postingan ini, cuma pakbos manggil lagi. Pas baca ulang, lahhh kok OOT. Tapi saya yakin mama lebah tau maksud saya :)). Ya sud mam. Kapan-kapan, doain semoga saya banyak rejeki, tahun ini apa tahun depan saya ke Bandung jalan-jalan, sebelum bapaknya anak-anak datang ke rumah :D. Doain mam ya… *peluk*

  11. Saya nggak ngerasa kehilangan mbak
    Entah ya, masa kuliah sampe awal kerja ngekos, banyak temen, jalannya sama temen. Semua sama temen rame-ramean. Setelah menikah, temen saya paling deket ya si mas misua. Kemana-mana sama dia. Jadi nggak ada ruang kosong di hati *ceileeee* karena setelah temen2 saya itu mulai menjauh, ada penggantinya.
    Btw, mungkin juga karena saya masih berdekatan secara fisik dengan banyak teman kuliah saya (kami sekolah kedinasan, lalu ditempatkan di salah satu kementerian). Di lingkup kantor saya ini yang lumayan gede, tersebar temen2 saya jaman kuliah, hihihii. Ke gedung sana ketemu temen, kesini ketemu temen
    Trus temen sekosan saya juga beberapa di sini, tinggalnya sekitaran sini juga, jadi masih gampang ketemuannya πŸ˜€
    Temen2 yang jauh2 alhamdulillah masih saling menghubungi lewat socmed, atau chat, kalo lagi deketan diusahain ketemuan. Dan suami saya sering nemenin kalo saya mau ke rumah temen, atau sekedar ketemuan sama temen, biarpun nantinya dia maen sendiri, hahaha

    Gitu aja sih. Ceritanya panjang banget yak :p

    1. Hehehe.. Nggak pa pa Mba. Nah itu mungkin bedanya sama saya. Setelah menikah saya jadi perantauan dan di Bandung ini nggak ada temen saya. Hahaha..

      Ada juga yang ngajak ketemuan itu niatnya mau kopdar. Jadi temen dari grup / komunitas menulis. Belum pernah berjumpa sebelumnya. Kalau pas di Surabaya ya saya sempetin ketemu lagi sama teman-teman. Apalagi teman-teman saya pun banyak yang setelah menikah pindah ke luar kota/pulau.

      Seneng ya masih sering ketemu temen-temen. πŸ˜€

  12. salam kenal mak.
    hihihi kadang itu konsekuensi dan langsung berlaku tepat setelah ijab kabul :D. nikmatin aja, cari ritmenya, nanti nemu selanya deh untuk punya ‘me’ time πŸ™‚

    1. Hehehe.. Tapi ibu rumah tangga yang repot sekalipun pasti ada istirahatnya kan? Kapan-kapan janjian aja. Bilang ‘aku mau nelpon nih. kangen. kapan ada waktu kosongnya?’

      pasti temennya seneng deh.. πŸ™‚

  13. Aku yg masih suka kemana2 sendiri malah dipertanyakan sm orang2 nih mba, “kok dibolehin sama suaminya?” qiqiqiqi. Ya memang beda2 pertimbangannya ya mba, yg penting menikah itu itu memang membahagiakan πŸ™‚

    1. Hehehe… Itu namanya rejeki mba Orin. Dan rejeki masing-masing orang beda-beda.

      Saya tetap positif thinking aja. Nggak boleh pergi saat ini, itu bukan harga mati. Mungkin cuma harus ditunda dulu waktu perginya.. πŸ˜‰

      Nggak sekarang.. Tapi nanti..

      *tetep optimis* :mrgreen:

  14. dan berlaku juga buat kaum Adam mba bee…
    setelah menikah banyak kebebasan dan teman yg harus di relakan pergi.tapi Allah pasti menggantinya dengan kebahagian yg lain hehehe πŸ˜€
    #sokbijak bgt ya gue πŸ˜›

  15. ‘ketambahan’ πŸ˜†

    syahdan memang begitu.. cuma kalau di rumah, saya juga bisa melihat kebebasan yang papa mama dapatkan. Mungkin bagi mereka itu kebebasan baru. wkwkwk …

    au ah masih gelap. saya belum nikah … missing home.. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s