Bukan Mesin Pembunuh Mimpi


Kemarin.. Eh tepatnya beberapa waktu yang lalu.. Saya sempat baca postingan yang ditulis Fahd Pahdepie di status FB-nya. Masih seputaran kisah bang Fahd (sok kenal.. 😛 ) dengan Rizqa, istrinya. Kali ini obrolan serius pasangan ini tentang mimpi-mimpi dan apa yang ingin diwujudkan sang istri. Tentang apa mimpi dan cita-cita sang istri, coba deh buka FB-nya Fahd. Karena yang mau saya bahas bukan fokus ke cita-cita sang istri sih.. 😀

Saya lebih tertarik sama kalimat motivasi yang ditulis bang Fahd di akhir postingannya. Kalimat penutup yang menurut saya cukup bagus buat dishare. Dan udah bisa ditebak kan kalo Bang Fahd pastilah mendukung sang istri dengan segala mimpi-mimpinya. Baik mimpi besar maupun mimpi sederhana. Dan seperti itu kan memang seharusnya dan sebaiknya seorang suami bersikap..? Begitupun sebaliknya. Istri pasti mendukung penuh apa yang dicita-citakan dan menjadi impian sang suami. Selama tidak menyimpang dari ajaran agama dan perintah Allah SWT.

Oh iya, ini petikan obrolan pasangan muda ini yang diceritakan kembali dalam sebuah postingan di FB Bang Fahd:

….

“Aku mau jalanin bisnis ini,” katanya, sambil menunjukkan sesuatu di tangannya, “Boleh, ya? Bantuin…”

Saya melihat impian menyala-nyala dari matanya. Saya melihat semangat yang sama seperti setiap kali Rizqa ingin mewujudkan sesuatu. Saya tahu, sejak beberapa waktu terakhir Rizqa serius dengan semua ini, ia menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk sampai pada kesimpulan ini…

Saya mengangkat kedua bahu dan tangan saya, “Apalagi yang harus ditanya?”

Rizqa mengangkat kedua alisnya, “Jadi, boleh, kan?”

“Tentu saja,” jawab saya, “Apapun itu… yang membahagiakanmu.”

Rizqa tersenyum. “Makasih, ya.” Katanya.

Dan cerita pun ditutup dengan kalimat manis di akhir postingannya.

Dalam hati, saya selalu berjanji, saya tak ingin menjadi suami yang jadi mesin pembunuh cita-cita istrinya sendiri.

🙂

Dan pada saat yang sama saya teringat pada Aa suami. Betapa selama ini, tanpa banyak bicara, ia selalu mendukung apa yang menjadi mimpi dan cita-cita saya. Baik saat saya utarakan (bukan Uttaran loh ya.. *eh? 😛 ) maupun yang tidak saya sampaikan. Hahaha

Iya. Saya mulai ketularan heningnya bapaknya anak-anak. Rasanya malu aja kalo terlalu bawel (tapi ini juga musiman sih.. Saya juga masih suka “berisik” kok kadang-kadang). Jadi ya kalau dirasa nggak terlalu penting, ya nggak usah banyak bicara.. 😆

Dan iapun sepertinya mulai ketularan saya. Seolah bisa membaca pikiran.. (sounds like fortune teller?!.. Haha.. 😆 )

Jadi saya nggak perlu banyak bicara merepet bawel saat pada suatu ketika komputer saya ngadat dan nggak bisa nyala. Cukup bilang sekali saja ke Aa suami -(percayalah, memang awalnya menahan diri untuk nggak mengulang permintaan itu cukup berat … setidaknya buat saya.. 😆 ) kalau komputernya gak bisa nyala.

Lalu menunggu.

Ya. M-E-N-U-N-G-G-U.

Dan di sinilah kesabaran kita dimulai. Kesabaran yang nggak ada batasnya. Karena kita nggak pernah tahu kapan tepatnya komputer itu akan berfungsi kembali. Bisa sejam, sehari, seminggu atau… ah sudahlah!

Hingga akhirnya saya melupakan kalau saya punya komputer. Kalau saya pernah getool banget doyan nulis blog. Dan semuanya perlahan terlupakan -dan tergantikan- oleh kegiatan lain yang mulai mengisi waktu dan keseharian saya.

Iya.

Saya sempat lupa klo dulu menulis (termasuk nulis blog dan bikin FF) itu adalah salah satu hal yang sangat saya sukai hingga saya seolah tak bisa meninggalkan kebiasaan itu barang sesaat (mulai lebay… 😆 ).

Saya lupa begitu saja.

Ganti kegiatan lain karena si teteh (anak sulung saya) sudah mulai masuk SD dan adik-adiknya tentu juga butuh perhatian ekstra dari saya. Mau tidak mau saya pun harus banyak bersyukur dan berterima kasih pada rencana indah-Nya. Juga bersyukur pada satu momen di mana komputer saya rusak.

Iya.

Terima kasih, komputer rusak.. 😉

Saya jadi punya banyak waktu untuk melakukan kegiatan lain kan?

Dan beberapa hari yang lalu, tanpa banyak bicara, -tanpa saya perlu mengulang lagi permintaan saya untuk membetulkan komputer- (ini lebih karena saya udah lupa pisaan jigana mah.. :mrgreen: ), suami saya tiba-tiba saja mengangkat-angkat PC dan monitor ke ruang kerjanya.. Ambil penyedot debu, menyedot dan menyapu debu di sini dan sana dengan kuas catnya. Tanpa banyak bicara.

Lalu pertanyaan sederhana pun terlontar darinya.

“Adik udah gak repot? Itu di bawah meja komputer tolong dibersihin ya..  (iya.. banyak banget harta karun yang ada di sana -mengingat saat ada monitor di atasnya agak susah beberes bagian bawah meja komputer #alesyan 😛 ) Aa mau mindahin monitor sama PC ke sana.”

Itu berarti… Komputer saya udah nyala lagi!

Begitulah.

Singkat cerita, komputer saya jalan lagi. Nyala lagi. Berfungsi lagi. Horeee!

Begitulah suami saya.

Tanpa kalimat puitis dan rayuan menye-menye *halagh*, di dalam ‘keheningannya’, saya selalu yakin dia akan selalu tetap mendukung saya dan passion saya. 🙂

I love you, beib.. 🙂

Udah. Gitu aja

Gubeng I'm In Love.. :D
Gubeng I’m In Love.. 😀

 

Maka.. Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kau Dustakan? 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s