Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)
Mungkin banyak yang ngejagoin Novita Dewi buat menangin X Factor Indonesia ntar malem. Kalau saya pribadi, sudah jatuh cinta waktu pertama kali denger suara uniknya Fatin waktu audisi. Meski saya sendiri nggak nyangka kalau dia bisa melaju terus sampai dua besar.
Dan minggu lalu, waktu pertama kali diperdengarkan lagu kemenangan yang dipilihkan untuk Fatin, saya langsung melongo saking terpesonanya. Dan begitu lihat Rossa nangis, entah mengapa saya jadi ikutan sedih..
Dan untuk Fatin haters, sorry banget ya.. Kali ini saya ngedukung Fatin..
Mungkin Novita punya kemampuan menyanyi yang lebih oke, mungkin secara teknik menyanyi dia lebih unggul dan berada jauh di atas Fatin, tapi warna suara Fatin lebih unik. IMHO
Dan saya ngedukung Fatin. Menang atau kalah kamu telah berhasil Fatin.
Ya.. kamu berhasil memenangkan hati saya.. *apasih
“Jangan taruh sweaternya di sana, Yaang. Digantung saja,” aku mengomel tatkala Harry meletakkan sweater yang baru saja dikenakannya di atas kursi. Ia selalu seperti itu. Berantakan. Meletakkan barang sesukanya.
“Sayang!” jeritku. Ia menoleh dengan tatapan innocentnya.
“Jangan taruh di sini sweaternya. Tuh digantung di sana. Masa harus aku yang selalu melakukannya?” keluhku.
Alih-alih menuruti kemauanku, ia justru menarikku dalam pelukannya. Mendekap erat tubuhku lalu menciumi rambutku.
“Aish, hentikan!” aku tergelak.
“Baumu enak,” ucapnya spontan.
“Hah?”
“Iya. Baumu enak. Bau yang menyenangkan.”
Aku terdiam. Berusaha mencerna kalimatnya.
“Kalau bauku gimana?” tanyanya.
“Gimana apanya?” balasku.
“Apa bauku juga menyenangkan?”
“Ya. Tentu saja..”
***
“Babe, aku nggak jadi pulang malam ini,” suara Harry di seberang sana membuatku mengerucutkan bibir.
“Ya.. Kok gitu sih?”
“Iya.. Ternyata ada acara tambahan. Paling cepet aku pulang lusa. Sorry ya?”
Aku terdiam. Jujur saja merasa kesal, namun di sisi lain Harry pergi juga karena urusan pekerjaan.
“Kangen ya?” suaranya membuyarkan lamunanku.
“Sabar ya. Aku pasti segera pulang. Udah dulu ya, waktu istirahatnya udah habis. I love you..”
KLIK.
Kuraih sweater biru kesukaan Harry yang tertinggal di kursi. Membaui parfum yang berbaur dengan aroma tubuhnya.
Baumu memang menyenangkan sayang, tapi kehadiranmu jauh lebih menyenangkan. Ucap batinku.
Hari ini saya nemu satu video yang bikin saya sedih dan menangis haru. Penasaran? Ini videonya.
Sebuah cerita tentang seorang anak lelaki dan pohon apel. Mohon maaf kali ini saya nggak mau spoiler ngasih tahu ceritanya. Biar yang penasaran langsung liat videonya aja. Biar efeknya kerasa..
Kalau saya dulu nge-jagoin Shena dan suara kerennya. Eh sayangnya Shena udah tersisih duluan. Oya, jujur aja waktu jamannya masih audisi, saya juga sempet dibikin terperangah oleh suara kerennya si Fatin..
Meski sebenarnya saya inget kalau tiap Jumat malem itu waktunya nonton X Factor, saya suka lupa aja dan kadang ketinggalan karena ribet sendiri sama anak-anak. Akhirnya saya milih nonton di youtube aja. Seperti malam ini (baca: pagi buta). Saat anak-anak udah tidur, saya berselancar dan terdampar di video ini.
Ada yang udah pernah nonton?
Yang mau saya bahas di sini sebenarnya bukan penampilan Fatin ataupun lagunya. Tapi sebuah pelajaran lain di balik penampilannya malam itu. Termasuk juga hubungan yang terjalin antara Fatin dan Rossa. Hubungan mentor dan anak didiknya.
Oke deh, buat yang nggak bisa streaming youtube karena baca postingan ini lewat hp, maka saya ceritakan sedikit kronologisnya.
Ketika itu, Fatin mendapat tugas untuk menyanyikan lagunya LENKA yang Everything At Once. Nah ternyata saat ia tampil, Fatin nggak hafal lirik lagunya. Bahkan terdengar jelas kalau di beberapa bagian lagu dia nggremeng (bergumam) saja. Kecuali di bagian lirik “oo oo ooh.. are you wanna be..” itu jelas banget nyanyinya..
Nah, yang nonton di rumah aja jelas ngelihatnya, apalagi juri yang ada di studio kan? Termasuk Rossa sang mentor.
Melihat anak didiknya gelagapan, apa yang dilakukan Rossa?
Di sinilah saya mau cerita.
JENG.. JENG..
Sebagai mentor, ada dua hal yang akan kita lakukan (reaksi) jika kita dihadapkan pada situasi (aksi) seperti ini.
Pertama. Kita akan menyalahkan si anak didik karena melakukan kesalahan
Dan yang Kedua. Kita akan tetap mensupportnya karena bagaimanapun sang mentor bertanggungjawab penuh terhadap anak didiknya.
Dan yang dilakukan Rossa adalah … melakukan hal yang kedua. Mensupport.
Saya iri banget sama Fatin.
Di masa lalu, saya juga punya pengalaman yang mirip seperti ini. Waktu saya kerja, saya punya mentor juga. Saya ditraining oleh si mentor untuk menempati posisi tertentu. Nggak perlulah saya jelasin panjang lebar saya kerja di mana, posisi apa dan siapa nama mentornya kan?
Intinya. Saya melakukan kesalahan.
Kesalahan yang nggak sefatal Fatin. Nggak dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kesalahan yang aah-pokoknya-begitulah. Menurut pengalaman sebelumnya, sepertinya pernah kejadian sama orang lain juga sepertinya. Namun yang saya terima saat itu, si mentor justru menjatuhkan harga diri saya. Menyalahkan dan menyudutkan saya dan mempermalukan saya. Kalau boleh jujur, sebenarnya bisa saja kan dia menegur saya secara empat mata. Tanpa perlu di hadapan teman-teman lain yang nggak ikut terlibat di dalamnya. Yang tidak berkompeten dan tidak perlu ikut campur pada urusan kami. Tapi dia (si mentor) tidak melakukannya.
Ini yang bikin saya iri sama Fatin. Karena dia punya mentor seperti Rossa.
Coba lihat reaksi Rossa saat Fatin masih berada di atas panggung dan bernyanyi dengan kalimat nggremeng dan terbata-bata. Rossa justru bangun dari kursinya seperti ia biasa mensupport anak didiknya. Ia tetap tersenyum. Dan begitu Fatin selesai menyanyi dan terlihat terpukul (karena dia merasa penampilannya berantakan) Rossa buru-buru naik ke atas panggung untuk memeluk Fatin!
Fatin di-support Rossa
Padahal Fatin nangis bukan karena dimarahi, melainkan dia sadar sendiri kalau dia salah.
Seandainya saya punya mentor seperti itu..
Melihat video itu membuat saya terlempar jauh ke masa lalu. Berandai-andai kalau saat itu si mentor yang mendidik saya berkata sama lembutnya dengan Rossa. Menegur dengan pelan tanpa harus menyamai suara petir menggelegar, mungkin saya akan lebih respect padanya. Mungkin hubungan kami jadi lebih manis. Dan saya akan punya kenangan yang indah tentang seorang mentor yang baik hati dan penyayang.
PS: Judul “[Saya iri sama] Fatin dan Rossa” bikin salah persepsi kayanya. Ada yang mengira saya iri dengan perlakuan istimewa Fatin yang diperoleh dari Rossa yang selalu melindunginya. Padahal maksud saya di sini lebih dari cara Rossa memperlakukan anak didiknya. Dilihat dari komentarnya pas ditanyai penampilan Fatin, Rossa pun menjawab, ”nggak akan dimarahin. dimarahinnya nanti di belakang panggung. dijewer!”
Nah di sini kelihatan kan kalau Rossa tahu Fatin sedikit (atau banyak?) mengecewakan penampilannya malam itu. Tapi alih-alih membuat dia semakin drop, Rossa memilih untuk menunda menegurnya. Nanti. Saat mereka sudah berdua. Hanya mereka berdua saja.
Itu aja sih guys.. Inilah yang saya suka dari diskusi.
Suami saya sedang tugas di luar kota. Malam tadi ia menelepon ke rumah. Setelah berbincang dengan saya, lalu mencari si sulung dan adiknya. Baru beberapa saat berbincang dengan sang ayah, si kakak memanggil saya.
“Mama, kok bunyinya ‘tut tut’..?” tanyanya.
Oooh. Mungkin pulsa suami saya habis. Lalu saya menekan nomor telepon suami saya untuk menghubungkan kembali.
Tut.. tut.. tut..
Telepon diangkat.
Yang mengangkat perempuan.
“Ini siapa yah? Haloh? Ini siapah?” Saya kaget. Langsung saya tutup teleponnya.
Apa saya salah mencet nomor telepon? Pikir saya.
Saya telepon kembali nomor ponsel suami saya. Kali ini yang mengangkat suami saya. Lalu saya tanya.
“Aa tadi barusan ada telepon nggak?” tanya saya. Seperti bisa membaca pikiran saya, dia menjawab.
“Iya. Tapi yang ngangkat kok malah abegeh,” jawabnya.
“Cewek ya? Jadi Aa denger juga? Iya ih. Kok malah abegeh. Kacau ih …” alih-alih marah pada suami saya, kami malah jadi ketawa ngakak berdua.
“Kacau bener ini telkom. Coba kalau Ade cemburuan padahal iya pasti udah berantem ini tadi. [Telepon nyasarnya berdampak] ngerusak rumah tangga aja nih..”
“Iya. Tadi dikira suara kakak, kok malah jadi suara abegeh,” kata suami saya.
Dan malam itu jadi malam yang menggelikan untuk kami berdua. Apa kalian juga pernah mengalami hal semacam ini?
Ini cerita konyol saya hari ini. Apa ceritamu, teman?
Ani menatap dan mengusap sepatunya dengan sayang. Sebulir air mata menetes di pipinya. Teringat kata-kata wali kelasnya tadi pagi.
“Ani, Senin depan kamu menjadi pembawa bendera merah putih. Ibu minta, ganti sepatumu dengan sepatu berwarna hitam. Tidak perlu yang baru. Tapi yang warnanya hitam. Supaya serasi dengan teman-temanmu sesama petugas pengibar bendera. Oke?”
“Tapi Bu .. Saya..”
“Tidak ada tapi-tapian! Ibu sudah cukup toleran selama ini kamu menggunakan sepatu merah sedangkan teman-temanmu yang lain pakai sepatu hitam. Ibu tidak mau dianggap pilih kasih!” tegasnya.
“Baik, Bu..” Ani berjalan pelan tanpa menoleh lagi. Samar-samar suara bisikan Bu Dahlia mampir di telinganya.
“Apalagi sepatunya juga sudah butut begitu..”
JDER..!
Sakit hatinya. Bagai sebuah palu godam raksasa diayunkan langsung di depan dadanya.
***
“Anii.. Ani…!” panggilan ibu membuyarkan lamunannya. Belum sempat ia mengusap air matanya, tirai kamar sudah tersibak. Ibu berdiri di hadapannya.
“Kamu kenapa?”
“Aah.. Nggak, kok. Nggak pa pa, Bu..”
“Jangan bohong, Ani. Kau pikir Ibu bisa dibohongi dengan mudah? Ibu tidak membesarkan seorang pembohong. Ayo cerita! Ada apa?” ibu langsung duduk di sebelahnya. Di atas sebuah tikar yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur.
Sepeninggal ayah, hanya ibu satu-satunya orang yang dimiliki Ani. Ibu bekerja sebagai buruh cuci, sementara Ani bisa bersekolah di sekolah terbaik berkat beasiswa kurang mampu yang didapatnya dari bantuan pemerintah. Biaya sekolahnya saja yang gratis, sementara seragam, sepatu dan peralatan tulisnya harus dibiayai sendiri. Sepatu merah Ani pun didapatnya dari lungsuran sepatu Marini, anak Bu Darman, langganan cuci ibu. Dan sepatu itu telah berumur tiga tahun. Seiring bertambah besar kakinya, sepatu itupun semakin usang. Dan kini terlihat berlubang di beberapa permukaannya.
“Senin depan Ani jadi petugas upacara, Bu. Jadi pembawa bendera …”
Wajah ibu berbinar, ”Alhamdulillah..” tanggapannya spontan.
“Iya, Bu, alhamdulillah.. Tapi …”
“Tapi kenapa?”
“Tapi aku harus pakai sepatu hitam. Nggak boleh pakai sepatu merah…”
Ibu terdiam. Bingung harus menjawab apa. Ia sedikit menunduk.
“Tapi nggak pa pa kok Bu. Besok Ani bilang saja pada Bu Dahlia. Ani membatalkan diri jadi petugas upacara. Supaya bisa digantikan yang lain. Iya.. Gitu saja Bu. Begitu pasti bisa..” Ani berusaha keras meyakinkan ibunya. Meski ia sendiri tak yakin dengan kalimatnya.
“Apa bisa begitu? Bukannya petugas upacara itu memang bergilir? Dan kali ini giliranmu. Iya kan?”
Ani terbelalak. Tak menyangka kalau ibunya sekarang sudah menjadi pembaca pikiran.
“Sudah.. Tenang saja. Ibu tahu bagaimana caranya. Kamu tidur dulu saja sekarang. Besok siang kamu pulang sekolah, kita cari sepatu baru,” putus ibunya.
“Tapi Bu …”
“Sudah, tidur sana! Jangan lupa baca doa!” Ibu mencium kening Ani sekilas, lalu berjalan menuju dapur yang terletak di bagian samping gubug reyotnya.
Diambilnya pisau dapur dan perlahan ia mengangkat baju kebayanya. Meraba-raba bagian tubuhnya dan mulai mengiris perlahan di bagian dadanya. Setelahnya dikeluarkannya sebuah benda mungil berwarna merah menyala. Lalu mengambil isolasi untuk menutup dan merekatkan bagian yang sedikit menganga.
Kemarin Bu Sarah bilang butuh donor hati. Mudah-mudahan hatiku cocok. Ucap batinnya.
Diusapnya bagian lain tubuhnya, tempat ginjalnya dulu pernah berada. Ginjal yang dijualnya sebelah saat Ani butuh uang untuk membeli buku dan seragam sekolah.
Dua tahun yang lalu.
-selesai-
PS: Flash fiction yang dipadukan dengan fiksi mini.
Enjoy..!
[FM: SEPATU. Dari lubang menganga di dadanya, dikeluarkannya benda berwarna merah. "Kemarin ada yang butuh donor hati. Semoga milikku ini cocok. Aku butuh uang untuk membeli sepatu anakku."]
Kulirik jam di pergelangan tanganku. Pukul delapan kurang tiga menit. Piano mulai mengalunkan Canon in D. Dadaku bergemuruh. Kupastikan jas hitamku sudah rapi. Kuarahkan pandangan ke sisi kiri dan di sanalah pemandangan indah itu terlihat.
Wajahmu.
Lelaki itu menggandengmu perlahan, kulihat senyum bahagia di wajah rentanya. Kupastikan kau akan bergumam pelan di telinganya, “Tuntun aku, Ayah. Jangan biarkan aku terjatuh.”
Dan kini penutup kepalamu telah dibuka, wajah cantikmu terlihat bersinar. Jantungku berhenti berdetak. Waktu seakan berhenti dan membawaku kembali ke masa lalu.
***
“Kalau kita menikah aku ingin Canon in D diperdengarkan. Dan saat ayah menggandengku, aku akan membisikkan kata ‘Tuntun aku, Ayah. Jangan biarkan aku terjatuh.’…”
“Persis seperti film Breaking Dawn … ‘” aku dan Andhara mengucapkan kalimat bersamaan. Lalu kami berdua tertawa bersama.
Semuanya sempurna. Sangat sempurna. Seandainya waktu dapat diputar kembali.
***
“Mana cincinnya? Don! Mana cincinnya?!” lamunanku buyar, dan aku langsung merogoh saku jas hitamku. Mengeluarkan sepasang cincin dan menyerahkannya pada Damar.
“Andhara Aurelia Bahtiar, aku berjanji akan menyayangi dan mencintaimu dalam suka dan duka. Saat sehat dan sakit. Seumur hidupku. Sampai maut memisahkan kita..”
Damar menyematkan cincin berlian itu ke jari Andhara. Jari perempuan yang pernah membuatku menjadi lelaki yang paling bahagia.
Sebelum aku merusak semuanya. Sebelum aku mengkhianatinya dengan menghamili sahabatnya. Ya.. Perempuan yang duduk di deretan saksi itu, yang mengenakan gaun berwarna pink. Itulah Indah, istriku. Dan lelaki yang menikahi Andhara adalah Damar, adik sepupuku. Aku beruntung, Andhara mengizinkan aku menjadi pendamping pengantin pria. Meski kami baru memberitahunya semalam. Dan saat ia mengetahuinya, ia langsung memberikan tamparan telak di pipiku.