Jalan-jalan ke Surabaya yuuk!

Hai Keke dan Nai.

Kenalin saya mamanya Syifa dan Reina. Ini penampakan mereka.

tiga

Kali ini Dede Syifa dan Reina mau ngajak kakak Keke dan Nai jalan-jalan ke Surabaya. Hayoo.. sudah pernah ke Surabaya belum?

Nah kalau belum pernah kita mulai dari lambang kota Surabaya.

?????????????????????????????????

Surabaya dilambangkan dengan Suro (ikan hiu) dan Boyo (buaya). Sekilas dari gambarnya sepertinya ikan hiu dan buaya yang sedang berantem ya? Tapi kalau Kakak Nai dan Keke nggak suka berantem sesama saudara kan? Jangan ya.. 🙂

Oya, ini ada sedikit cerita tentang pertarungan antara ikan hiu dan buaya seperti yang digambarkan di lambang patung itu. Nanti minta mama menceritakan ya.. 🙂

Nah patung Suro dan Boyo ini berada tepat di depan kebun binatang Surabaya. Kalau ke Surabaya, jangan lupa untuk mengambil gambar di depan patung ini ya.. Seperti tante. *uhuk* 😀

22633_1392783978824_1400636_n

Surabaya dikenal juga sebagai kota Pahlawan. Nah tentunya kakak Nai dan Keke sudah pernah baca buku pelajaran sejarah kan? Berarti tahu Tugu Pahlawan juga kan? Yuuk kita main-main ke sana.

Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.

Monumen ini memiliki tinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Sesuai dengan peristiwa bersejarah 10 November 1945, di mana banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan.

muzy

Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan ini kita bisa masuk untuk melihat dokumentasi foto-foto bersejarah untuk lebih mengatahui seperti apa gambaran keadaan peperangan pada masa perjuangan dulu. Dan di atas dindingnya terdapat tulisan yang sudah sangat kita kenal yang selalu dielu-elukan oleh para pejuang kita.

22633_1392785818870_6492669_n

Beberapa orang mengatakan kota Surabaya panas dan terik sekali. Nah, kali ini dede Syifa dan Reina akan mengajak Kakak Nai dan Keke untuk mengunjungi kebun bibit. Kita cari yang sejuk-sejuk yuuk..!

Apakah Kebun Bibit itu?

Kebun Bibit adalah sebuah taman kota yang sengaja dibuat sebagai paru-paru kota Surabaya. Sebagai kota metropolitan yang padat penduduknya, tentunya polusi udara menjadi permasalahan serius. Untuk itulah keberadaan taman-taman kota seperti ini menjadi penyeimbang yang berperan cukup penting untuk mengatasi permasalahan polusi udara.

Kebun bibit yang ada di Surabaya berada di dua lokasi. Lokasi pertama di kawasan Ngagel Jaya. Kalau kita masuk ke sini, tidak akan dipungut biaya masuk alias GRATIS (menjadi salah satu kabar gembira untuk para orang tua.. :mrgreen:).

Karena lokasinya yang strategis, kabarnya, ada persengketaan lahan antara pemerintah dan swasta. Untuk itulah di luar pagar Taman Flora ini ada spanduk besar bertuliskan “Mari Kita Selamatkan Taman Flora”.. 😀

Menurut saya pribadi, kondisi taman flora ini bagus dan terawat. Bahkan termasuk bersih. Penasaran dengan penampakannya?

Kebun Bibit 1 - Taman Flora - Ngagel jaya*doc. rinibee
Kebun Bibit 1 – Taman Flora – Ngagel jaya
*doc. rinibee

Taman Flora ini juga disebut sebagai taman belajar, itulah sebabnya ada himbauan tegas dilarang berpacaran yang ditulis sebagai peringatan. Jadi, taman yang sejuk ini aman dari tindakan beberapa oknum yang terkadang berbuat curi-curi kesempatan dengan bertindak kurang sopan. Hehehe..

Meskipun masuknya gratisan, di sini kita bisa melihat beberapa binatang yang memang dipelihara. Ada kelinci, kancil, rusa, dan juga ikan. Kita bahkan diperbolehkan memberi makan, setelah sebelumnya membeli seikat kacang panjang atau makanan ikan. Harganya sekitar 1000 rupiah per ikatnya.

Selain kebun binatang mini, di sini juga ada lokasi mainan anak-anak seperti ayunan (favoritnya neng Syifa), perosotan, jungkat-jungkit, serta ketangkasan. Dan pada beberapa kesempatan, kebun bibit juga digunakan sebagai lokasi out bound sekolah.

Di tengah-tengah lokasi taman flora (oya, Kebun Bibit 1 yang berlokasi di Jalan Ngagel Jaya ini lebih dikenal sebagai Taman Flora), ada kolam ikan yang cukup besar. Juga ada air mancurnya. Dan memberi makan ikan-ikan di kolam ini juga menjadi keasyikan tersendiri untuk Syifa dan Reina.

Jadi kalau ingin suasana yang berbeda saat berjalan-jalan ke Surabaya, mengunjungi Taman Flora ini sangat disarankan lho.. :)

***

Sekarang, kita beralih ke sisi lain kota Surabaya. Sekarang kita bergerak ke arah Rungkut. Lokasi kedua dari kebun bibit. Kita sebut saja Kebun Bibit 2. Lokasinya di daerah Wonorejo. Awalnya berdasarkan dongeng kakeknya Syifa dan Reina, kebun bibit ini hanya digunakan sebagai tempat untuk pembuangan sampah. Tapi luas tanahnya yang nyaris dua kali lipat lebih besar dari Taman Flora pun mendorong pemerintah kota untuk membuat lahan hijau yang digunakan untuk pembibitan tanaman. Sebagai salah satu misi penghijauan kota. Jadi, sebelum dibuka untuk umum, memang fungsi utama kebun bibit Wonorejo ini ya pembibitan.

Setelah jumlah bibitnya banyak dan suasana hijau semakin terlihat, maka Kebun Bibit tahap kedua inipun akhirnya resmi dibuka. Bedanya, di sini tidak ada binatang-binatang yang terlihat (atau mungkin belum ada ya?). Sama seperti kebun bibit 1, di sinipun ada mainan anak-anak. Dan tak seperti di Taman Flora, di Kebun Bibit Wonorejo kita bisa melihat sebuah danau buatan. Kabarnya danau ini menjadi salah satu tempat favorit untuk melakukan foto pre wedding (mungkin murah meriah karena ngga bayar ya? *eh? :mrgreen: ).

Ya. Sama seperti di Taman Flora, masuk ke lokasi Kebun Bibit 2 ini kita juga tidak dikenakan biaya sama sekali. Dan di hari Minggu bahkan juga ada yang mengajar senam pagi.

Meskipun tak ada binatang, di sini ada sebuah bukit mini dan lahannya yang luas memang cocok untuk yang ingin berolahraga pagi dengan berjalan kaki. Tapi jangan siang-siang ya. Karena kalau sudah siang, sinar matahari memang kerasa banget kalau kita berjalan ke arah bukit kecil ini.

Penasaran dengan penampakannya?

Ini dia.

kebun bibit 2
Kebun Bibit 2 – Wonorejo

Nah, kalau Keke dan Nai liburan ke Surabaya, jangan lupa mampir ke sini ya.

Selamat berlibur Keke dan Nai..!

Tulisan ini diikutsertakan 1st Giveaway : Jalan-jalan Seru untuk Keke dan Nai.

“Kuis Seven Days by. Rhein Fathia” Liburan impian saya? Pulau Umang saja..!

Pagi ini saya blogwalking ke blog-nya Rhein Fathia. Yup, dia novelis yang baru aja launching novel COUPL(OV)E itu lho. Nah dalam rangka peluncuran novelnya (lagi) SEVEN DAYS yang juara 1 Lomba Novel Romance Qanita, Rhein pun ngadain kuis. Pertanyaannya:

“Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan haarus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?”

Waah.. Kalau disuruh berandai-andai gini saya bisa doong.. :mrgreen:

Inilah jawaban saya.

Kalau dibayarin liburan gratis, nggak usah jauh-jauh, cukup di negeri sendiri aja. Saya pengennya ke Pulau Umang.

Bicara liburan, sebenarnya kepengennya sih saya ngajak seluruh keluarga. Ya bapak saya, mama saya, ibu mertua saya, anak-anak juga kakak-kakak saya serta para keponakan. Namun berhubung cuma boleh ngajak 1 orang saja. Maka… saya pun mengajak bapaknya anak-anak saya. Suami saya.. 😀

Oh ya, dulu setelah menikah saya belum sempat jalan-jalan bulan madu berdua sama suami saya. Kebetulan cutinya nggak lama, udah harus langsung kerja lagi. Belum sempat ngatur liburan khusus berdua aja, eh saya udah keburu hamil. Jadi selama ini liburannya rame-rame terus, dan kalau nggak pas hamil ya bareng anak-anak dan keluarga besar. Jadi pengen deh sekali-sekali cuma berdua aja sama suami saya. Bulan madu yang telat! Hahaha..

Maaf ya kakak Syifa dan dede Reina.. 😦

Nah.. sekarang kita kembali lagi ke tujuan liburan kita tadi. Pulau Umang.

Di manakah Pulau Umang itu? Ini petanya.

PETA10-clr-ok4
sumber: website resmi Pulau Umang

Peta-P

Pulau Umang itu terletak di daerah Ujung Kulon, dekat Pandeglang – Banten. Bagi saya pribadi, liburan ke Pulau Umang itu bener-bener liburan yang diperuntukkan untuk lari dari kejenuhan dan rutinitas harian kita. Berbalik 180 derajat dengan tempat tinggal kami di Bandung yang merupakan daerah pegunungan, Pulau Umang membawa saya pada suasana ‘anak pantai’. Dan saya suka liburan di pantai. Yippiee…! 😀

Kalau pantai doang kenapa nggak ke Ancol atau ke Bali?

Nah.. masalahnya, kan tujuan saya liburan kali ini adalah untuk bulan madu.. *uhuk!*. Bulan madu itu waktu untuk berdua dengan pasangan kan? *ehm :D* bukan rame-ramean. Kalau Ancol dan Bali terlalu ramai buat saya.. 😀

Jadi yang keinget kalau ke Bali atau Ancol adalah wisata belanjanya *halaaagh.. :D*, sedangkan Pulau Umang memang diperuntukkan untuk pasangan yang ingin menikmati suasana ‘pantai pribadi’. Ih sok tahu banget deh rinibee ini, mungkin itu beberapa pikiran anda ya?

Ya saya tahu lah. Kan saya pernah diajak liburan ke sini, tapi waktu itu rame-rame dan juga bareng sama Syifa kecil sedangkan Reina masih di dalam perut. Makanya saya bertekad, ntar kalau ada yang mau bayarin liburan gratis untuk bulan madu, saya nggak nolak kalau ke Pulau Umang lagi.. Hihihi.. :mrgreen:

Oke, saya gambarkan sedikit ya gimana suasana di Pulau ‘pribadi’ Umang ini.

dsc_0025

Sebelum memasuki kawasan Pulau Umang, kita diminta mengantri dulu sebentar untuk menunggu kapal boat yang akan membawa kami menuju pulau Umang. Jadi dari ‘parkiran bus’ kami cuma tinggal naik kapal saja. Koper dan tas gedenya biar menyusul. Lalu kami diminta untuk langsung masuk ke dalam ‘rumah’. Yup.. tempat penginapannya berbentuk rumah gazebo yang terdiri dari dua kamar. Begitu memasuki kawasan Pulau Umang, aura pantainya kerasa banget. Dengan background debur ombak, saya memasuki kamar kami. Dan langsung… jatuh hati!

Siapa yang nggak jatuh hati dengan tatanan kamarnya yang manis nan romantis. Sayang nggak ada gambarnya.. :D. Kamar mandinya pun dibentuk cantik dan manis. Sungguh, suara debur ombak kedengeran sepanjang hari. Nggak bakalan bosen. Saya saja sampai lupa waktu karena suasananya kerasa libur mulu.. 😀

Jangan harap ada minimarket! Jadi kalau mau, nyetok dulu ya? Termasuk pembalut dan lain-lainnya. Di sana kerasanya kita bener-bener jauh dari keramaian. Tuh, cocok banget buat bulan madu kan?

Oya, penataan antara ruang keluarga dengan tempat tidur pun sangat mirip dengan rumah impian saya.. *ngimpi mulu.. :D*

Dari dulu saya selalu pengen punya rumah yang antara tempat beraktifitas dengan tempat untuk tidur itu kepisah. Kurang lebih gini gambarannya.

Jadi ruang di bagian bawah memang sengaja dibuat untuk beraktifitas (mandi, nonton TV –well, TV nggak sering dinyalain kalau liburan kayanya- atau sekedar bercengkerama dengan pasangan, duduk-duduk sambil bersenderan atau apalah terserah kalian, be creative! :D- sementara di atas adalah ruang tidur, yang dihubungkan melalui tangga kayu di sisi sebelah kirinya. Tangga yang khusus menuju tempat tidur. Khusus buat tidur. Dan lagi-lagi kecantikannya bikin saya meleleh. Karena tempat tidurnya cantiiik banget dengan kelambu di atasnya. Mirip tempat tidurnya putri dari negeri 1001 malam. Di bagian atapnya dibuat terbuka, supaya bisa melihat bintang-bintang.

🙂

Sepintas mirip gini, tapi percayalah di sana jauh lebihh cantiik.. 😀

pulau-umang-3

Sama seperti di pantai lain di seluruh dunia, di sini kita juga bisa lihat sunset dan sunrise.

Nah, kalau pagi hari, kita bisa lihat pemandangan secantik ini.

DSC_0079
hello!
DSC_0077
morning!
DSC_0081
happy day!

Agak siang dikit.

DSC_0002
si cantik

Pulau Umang juga surganya bagi pencinta olahraga air. Sebut saja apa yang kamu suka? Banana boat? Speedboat? Snorkeling? Diving? Yuuk..!

Sayangnya, waktu saya liburan kemarin saya nggak sempet nyobain menyelam, karena lagi hamil anak kedua. Etapi diving ada nggak ya? *halaagh*. Ntar kalau liburan lagi, mau ah nyobain menyelam. Dan baru nyobain snorkeling aja udah nyenengin bangeet.. Sayang nggak bisa moto di dalam lautnya. Mendingan mampir ke sini ya buat lihat gambar-gambarnya lebih lengkap.

Itu cerita saya seputar liburan ke Pulau Umang. Supaya nggak hoax, ini foto saya di depan Pulau Umang.

DSC_0394
our little family.. 🙂

Di sini saya kelihatan gede ya? Iya, itu di dalam perut saya ada Reina.. 🙂

Oh iya, udah menjawab kuisnya Rhein belum ya?

Kalau diajak liburan 7 hari saya milih ke PULAU UMANG. Bolehnya cuma ngajak 1 orang aja. Sama siapa? Ya sama bapaknya anak-anak saya, yaitu suami saya. Alasannya? Karena Pulau Umang cocok untuk bulan madu, sementara dulu pas pertama nikah saya belum pernah sempat pergi bulan madu (kesian deh! :D). Hehehe.. 😀

Simple kan?

Udah gitu aja. Ini ngomongin liburan kan ya?

Oya, ada alasan lain kenapa liburannya nggak terlalu jauh. Soalnya saya ninggalin dua balita selama 7 hari (ini pede bener ada yang ngebayarin liburan :D) jadi yang terpikir di kepala saya ya liburan yang deket-deket aja tapi tetep romantis. Ntar kalau anak-anak udah agak gede mau ah saya liburan ke Lombok.. 🙂

Tulisan ini diikutsertakan untuk kuis novel Seven Days-nya Rhein Fathia.

sevendays 3
seven days by rhein fathia

Baby Travelling

Saya tumbuh dan dibesarkan di kota Surabaya. Sementara suami saya lahir, tinggal, tumbuh dan dibesarkan di kota kembang Bandung. Setelah menikah, kami tinggal di Bandung. Meski demikian, saya terbilang cukup sering bolak-balik Surabaya – Bandung, untuk mengajak kedua anak saya menemui akung (mbah kakung) dan uti (mbah putri)-nya.

Kalau ada yang mengantar, ya saya naik kereta api. Tapi kalau nggak ada, ya naik pesawat saja. Bertiga sama duo krucil saya. Iya. Cuma bertiga.

Mungkin banyak yang heran, kok bisa pergi bertiga aja dengan dua anak balita. Apa nggak repot?

Kalau dilihat dari sisi repot ya jadinya repot. Tapi berhubung saya memandang kalau perjalanan ini akan menyenangkan, jadinya ya menyenangkan. Dan Alhamdulillah dua anak saya ini manis sekali. Dan nggak mabuk perjalanan. Otomatis perjalanan menggunakan kendaraan apapun nggak masalah kan? 🙂

Saya masih ingat, perjalanan dengan kendaraan pertama kali dilakukan Syifa waktu umurnya 3,5 bulan. Waktu itu, ada pernikahan sepupu saya di Bekasi. Dari Bandung, saya dan suami berangkat naik kereta dan ketemu di stasiun Jatinegara. Perjalanan yang ditempuh lebih kurang 3 jam itu jadi perjalanan perdana yang sekaligus membuat saya deg-degan. Karena takut bayinya kenapa-kenapa. Etapi dia asyik-asyik aja kok. Dan justru lebih mudah karena anak saya minumnya ASI.

Untitled

Foto di ujung kiri itu perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Pas dari Bandung ke Jakarta-nya nggak kepikiran foto-foto. :mrgreen:. Dan foto bapaknya anak-anak dalam balutan baju beskap ya? Itu sebenarnya nggak cuma iseng aja dipajang, tapi mau menunjukkan tas ransel serbaguna yang ada di sebelahnya. Hehehe.. Yang kalau sudah dibuka, bentuknya seperti gambar di bagian kanannya ini. 🙂

Sehari setelahnya, sebelum sorenya saya pulang kembali ke Bandung, kami sekeluarga jalan-jalan ke Ancol. Di Ancol, sekaligus makan siang. Maka, sementara bapak – ibu, akung – uti serta pakdhe – budhe-nya makan, Syifa diletakkan di matrasnya.

<
Di dalam tenda – Ancol, Jakarta
<
Selalu bawa ransel serbaguna, biar bisa bobo.. 😀
<
Si bayi murah senyum.. ^___*

Beberapa bulan setelahnya, ada acara kantor ke Ciater – Subang. Kali ini jarak tempuhnya lebih deket dari Bandung kalau dibandingkan ke Bekasi. Jadinya, saya udah nggak terlalu khawatir. Kebetulan acara family gathering ini nginep selama beberapa hari. Nggak masalah buat saya. Selama di acara tersebut, Syifa memang lebih banyak tidur sih. :mrgreen:

dkt ransel 2
Di antara tas ransel. Hangat.. 🙂
dkt ransel
Lebih banyak bobo
dkt ransel - selimut jaket papa
Diselimutin jaket papa, biar gak kedinginan. :mrgreen:

Setelahnya, kalau ngajak Syifa bepergian saya udah tenang-tenang aja. Perbekalan saya siapin sebelum perjalanan jauh. Dalam tas ransel yang saya bawa sudah ada baju ganti min. 1 set, kaos kaki, kaos tangan, sepatu bayi (kalau udah mulai jalan), tisu basah, tisu kering, topi bayi, bedak, minyak telon, popok, jaket. Pokoknya semua perlengkapan bayi. Termasuk bantal kecil. Karena ransel saya serbaguna, ada matras kecilnya di bagian depan buat digelar pas bayinya diletakkan. Jadi nggak sakit. Praktis. Nggak ribet.

Kalau bepergian agak jauh, lebih dari 6 jam. Sediakan kantung plastik (kresek) kecil untuk wadah popok/diapersnya yang terkena pup. Jangan lupa sabun kecil untuk jaga-jaga. Membersihkan tangan bunda setelah membersihkan si bayi.

Kalau bepergian ke Surabaya misalnya. Karena menggunakan kereta api memakan waktu lebih kurang 12 sampai 14 jam. Mungkin saya akan lebih memilih untuk berangkat pagi. Supaya di jalan si bayi bisa melihat pemandangan. Kalau berangkat malam mungkin jadinya gelap gulita ya? Dan AC-nya cenderung terlalu dingin. Tapi kalau memang ingin si bayi bisa tidur nyenyak, kereta malam mungkin menjadi pilihan yang tepat.

Saya sih milih dua-duanya. Gantian. Pas berangkat naik kereta pagi, pulangnya kereta malam. Hehehe.. 😀

Setelah punya anak dua, saya pun memperlakukan Reina dengan sama. Sejak dini diperkenalkan untuk siap bepergian naik kendaraan. Kereta api. Nggak terlalu susah, karena saya sudah belajar lebih dulu ketika baru punya anak Syifa. 😀

Image179
Syifa waktu masih bayi
FxCam_1320620017935
Reina tidur di kereta api

Dan ini beberapa foto Reina saat berada di kereta api. Karena memang belum bisa duduk tegak, jadinya lebih banyak berbaring. Terkadang disangga oleh bantal supaya lebih nyaman.

reina 2
Senyum-senyum 😀
reina
“Aku ini dimana ya?”

Mengajak anak-anak bepergian itu cuma satu kuncinya. Dibawa seneng aja. Kalau kitanya seneng, auranya kebaca sama anak-anak. Jadinya mereka ikut seneng.

FxCam_1320621209931
Mama dan Syifa berpose sementara Reina bobo di sebelahnya.. 😀

Oh iya, khusus kalau bawa balita yang agak gede. Pelajari makanan kesukaannya. Makanan yang bikin dia bisa duduk manis. Itu juga saya pakai kalau bepergian cuma bertiga sama anak-anak sementara bapaknya masih ada kerjaan. Tentunya diantar sampai bandara. Sampai di Surabaya nanti langsung dijemput akung sama utinya.

Jangan salah. Membuat Syifa tetap duduk tenang selama 1 jam itu perjuangan berat. Anak saya aktif. Suka lari ke sana ke mari. Beda kalau disuruh duduk diam. 1 jam saja (karena perjalanan Bandung – Surabaya itu sekitar 1 jam). Duuh.. segala cara saya pakai. Nah, biasanya saya cari jadwal pesawat yang pagi tapi nggak terlalu pagi. Karena saya nggak mau kalau Syifanya tidur saat di perjalanan.

Saya sudah wanti-wanti supaya si kakak nggak tidur. Kalau dia tidur, nasib saya gimana? Sementara Reina pun harus saya gendong. :mrgreen:

Hehehe…

Alhamdulillah selama ini semuanya lancar-lancar saja.

Oh ya, saya pernah punya pengalaman. Waktu itu kami berangkat dari Surabaya sekitar jam lima sore. Pas nunggu di ruang tunggu Syifa tiba-tiba berbisik kalau dia mau pup. Waduh. Apa-apaan ini? Saya pun bertanya pada petugas di bandara apa masih sempat kalau mau ke kamar kecil? Setelah memastikan masih bisa, saya pun segera mengantar si kakak ke kamar mandi. Masalah berikutnya si kecil Reina. Akhirnya saya bawa dua-duanya ke kamar kecil. Alhamdulillah ada seorang pramugari yang bersedia menemani Reina sementara saya membersihkan Syifa. Jadi semuanya berjalan lancar. Selama ini belum ada masalah yang berat kok. Semuanya masih bias diatasi.

Dan terakhir kali berangkat dari Bandung ke Surabaya sampai pulang lagi Surabaya – Bandung saya cuma pergi bertiga aja. Dan Alhamdulillah lancar. Hehehe

Reina dan Syifa
Pulangnya, si dede nggak mau digendong, mau jalan sendiri.. 😀

Jadi, apakah ada yang berniat pergi bersama balita? Nggak usah takut. Saya sering kok. Hehehe.. 🙂

Kebun bibit

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang taman Tegallega yang ada di Bandung. Nah waktu itu saya bilang kalau Tegallega itu mirip sama kebun bibit yang ada di Surabaya. Sekarang dibalik. Saya mau cerita tentang kebun bibit. Siapa tahu ada yang belum tahu.

Apa sih kebun bibit itu?

Jadi, kebun bibit itu semacam kebun luas tempat bibit tanaman dikembangbiakkan (bahasa apa ini? :|). Ya intinya salah satu taman kota yang ada di Surabaya. Paru-parunya kota. Supaya masyarakat Surabaya bisa bernapas lebih lega karena jelas di taman ini nggak ada polusi udara.

Naah.. Gosip kalau SURABAYA PANAS TERIK nggak akan berlaku kalau kita main-main ke taman ini. Kebun bibit yang saya ketahui berada di dua lokasi. Lokasi pertama di kawasan Ngagel Jaya. Kalau kita masuk ke sini, tidak akan dipungut biaya masuk. Kabarnya, ada persengketaan lahan antara pemerintah dan swasta. Karena memang letaknya yang strategis.

Meski demikian, kondisinya nggak memprihatinkan lho. Bahkan termasuk bersih. Penasaran dengan penampakannya?

taman flora 1
Kebun bibit 1 – Ngagel Jaya, Surabaya
*doc. pribadi rinibee

Meskipun masuknya gratisan, d sini kita bisa melihat beberapa binatang yang memang dipelihara. Ada kelinci, kancil, rusa, dan juga ikan. Kita bahkan diperbolehkan memberi makan, setelah sebelumnya membeli seikat kacang panjang atau makanan ikan. Harganya sekitar 1000 rupiah. Biasanya anak-anak senang. Tapi anak saya takut. *halaagh.. 😀

Selain kebun binatang mini, di sini juga ada lokasi mainan anak-anak. Standarlah. Ada ayunan (favoritnya neng Syifa), perosotan, jungkat-jungkit, ketangkasan dan kabarnya kebun bibit juga digunakan sebagai lokasi out bound sekolah.

Di tengah-tengah lokasi taman flora (ah saya baru tahu kalo kebun bibit ini bernama taman flora :D), ada kolam ikan yang cukup besar. Juga ada air mancurnya.

Jadi kalau ingin suasana yang berbeda saat berjalan-jalan ke Surabaya. Mengunjungi taman flora ini sangat disarankan lho.. 🙂

***

Sekarang, kita beralih ke sisi lain kota Surabaya. Sekarang kita bergerak ke arah Rungkut. Lokasi kedua dari kebun bibit. Kita sebut saja Kebun Bibit 2. Lokasinya di daerah Wonorejo. Awalnya berdasarkan dongeng bapak saya, kebun bibit ini hanya tempat untuk pembuangan sampah. Tapi luas tanahnya yang nyaris dua kali lipat lebih besar dari Taman Flora pun mendorong pemerintah kota untuk membuat lahan hijau yang digunakan untuk pembibitan tanaman. Sebagai salah satu misi penghijauan kota. Jadi, sebelum dibuka untuk umum, memang fungsi utama kebun bibit Wonorejo ini ya pembibitan. 😀

Lalu kebun bibit 2 inipun akhirnya resmi dibuka. Bedanya, di sini tidak ada binatang-binatang yang terlihat (atau mungkin belum ada ya?). Sama seperti kebun bibit 1, di sinipun ada mainan anak-anak. Dan tak seperti di Taman Flora, di Kebun Bibit Wonorejo kita bisa melihat sebuah danau buatan. Kabarnya danau ini menjadi salah satu tempat favorit untuk melakukan foto pre wedding (mungkin murah meriah karena ngga bayar ya? *eh? :mrgreen:).

Lalu di sini juga ada sebuah bukit mini dan lahannya yang luas memang cocok untuk yang ingin berolahraga pagi dengan berjalan kaki. Tapi jangan siang-siang ya. Karena kalau sudah siang, sinar matahari memang kerasa banget kalau kita berjalan ke arah bukit kecil ini.. 🙂

Penasaran dengan bentuknya?

Ini dia.

kebun bibit 2
Kebun Bibit 2, Wonorejo – Surabaya

Kalau kebetulan ke Surabaya. Mampir aja ke sana. Dijamin nggak akan bilang Surabaya panas terik lagi. Hehehehe.. 🙂