Sesuatu yang selama ini hanya (mampu disimpan dan) tersimpan di dalam hati saja..


Beberapa minggu (atau mungkin bulan ya?) terakhir saya nggak aktif nulis blog lagi. Selain karena saya baru ketambahan anggota keluarga baru yang posesif pisan sama emaknya, my lovely Ridwan (10 m).. Hehe.. Saya juga baru saja kehilangan.

Ya, salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki berpulang ke rahmatullah. Sedih? Sangat. Amat sangat.

Beberapa detik setelah saya menutup telepon dari suami sahabat saya yang mengabarkan kepergiannya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Padahal beberapa menit sebelumnya saya sibuk menghiburnya bahwa sahabat saya itu orang baik, mudah-mudahan Allah SWT menempatkannya di tempat terindah di sisi-Nya. Amin ya robbal alamiin..

Saya shock. Antara sedih dan kaget -nggak percaya kalau dia berpulang secepat itu-Β  bercampur jadi satu. Gimana nggak kaget, sebulan sebelumnya saya baru aja ketemu sahabat saya itu di Surabaya. Kami sempet jalan bareng bertiga sama anak bungsu saya. Seperti biasa, kulineran makan makanan khas Surabaya kalau saya lagi mudik ke Surabaya. Dan sahabat saya ini selalu bersedia meluangkaan waktunya nemenin saya ke sana kemari. Kalau nggak makan batagor Bratang (bukannya batagor makanan Bandung ya? πŸ˜› ) ya makan rujak cingur. Atau sekedar ngobrol ngalor ngidul bareng temen kita yang lain.

Saya mencoba mengingat-ngingat hal apapun tentang sahabat saya ini. Candaan kami, obrolan kami, gaya khasnya bicara, cara dia tersenyum dan apa-apa yang dia (dan kami) lakukan sepanjang persahabatan kami.

Apa saja.

Dan ternyata … – saya – tidak – bisa – menemukan – kekurangannya –

Semua yang saya ingat tentangnya hanya hal positif. Semua yang ada dalam kepala dan ingatan saya HANYA ke-BAIK-annya. Saya nyaris tidak menemukan kekurangannya -sebagai sahabat saya-.

Kepergiannya membuat saya menyadari satu hal penting dalam hidup ini.

Akan seperti apa kita ingin dikenal dan dikenang sebagai manusia? Akan menjadi MANUSIA seperti apa kiranya kita iniΒ  di dalam pikiran orang-orang terdekat kita saat nama kita disebutkan?

Apa kata / kalimat yang terlintas saat nama kita disebut? Hal baikkah atau justru sebaliknya? Naudzubillah..

Itu sebabnya perlahan saya mulai membenahi diri saya. Mulai mengubah sedikit demi sedikit hal mulai dari yang terkecil -dan termudah- dalam hidup saya. Salah satunya belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang tadinya mati-matian saya kejar dan mungkin berusaha untuk diperbaiki. Namun setelah saya resapi lebih dalam, saya sadari bahwa saya sudah berupaya maksimal meski tak jua mendapatkan titik terang. Maka kini saatnya saya pasrahkan pada Sang Maha Kuasa. Allah SWT lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah SWT yang berhak untuk membukakan pintu-pintu hidayah-Nya bagi siapapun yang Ia kehendaki. Saya hanya bisa berdoa dan memohon padanya. Dan berusaha maksimal menjemput hidayah-Nya.

just keep smile.. :)
just keep smile.. πŸ™‚

Intinya, saya mulai mengikhlaskan apapun yang dilakukan orang lain -di luar kehendak saya- dan berusaha tidak terganggu karenanya. Fokus untuk menjadi manusia yang lebih baik. Melakukan hal-hal baik lain yang bisa saya lakukan. Apa saja.

Belajar lagi. Belajar apa saja, di mana saja. Kapan saja. Pada apa dan siapa saja. Meningkatkan kualitas diri saya.

Bismillah.

Semoga Allah memudahkan.

Dan ketika saya mengingat kembali tentang sahabat saya ini, satu hal yang akan selalu saya ingat tentangnya adalah bahwa sahabat saya ini, alm. Desi Kustianti selau mendengar apapun yang saya ucapkan. Apapun yang saya ceritakan.

Ya. Dia PENDENGAR YANG BAIK.

Sebagai orang Jawa yang tinggal dan menetap di tanah Pasundan, saya sangat merindukan bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Dan Desi (kami punya panggilan sayang satu sama lain ‘Jo’) adalah salah satu teman yang sering saya hubungi sekedar untuk bertukar kabar dan mengobrol untuk bicara bahasa Suroboyoan -yang tentu saja tidak bisa dilakukan suami saya yang aseli Sunda- :p πŸ˜€ ). Kalimat yang sering saya ucapkan padanya “sek talah jo, rungokno aku dhisik, aku arep crito.” (Sebentar ya Jo. dengerin aku mau cerita).

Dan sambil tertawa ia mempersilakan saya untuk bercerita. Begitu saja. Salah satu hal yang paling membuat saya kehilangan seorang Dechi Jo. Saya rindu untuk didengar.

Ya. Di jaman medsos ketika semua orang mulai sering dan asyik ‘ngomong’ sendiri -baik didengar ataupun nggak-, baik ngomong di medsos -status, blog (lah ini kamu juga kan bee? πŸ˜† ), tweet, path, dan apalah-apalah lainnya yang saya nggak tahu- semakin sedikit saja orang yang mau mendengar.

Apalagi mendengar dengan hati. Semakin menipis stok orang yang benar-benar mau mendengar yang benar-benar ‘mendengarkan’ bukan sekedar mendengar untuk kemudian berkomentar -apalah- setelahnya.. 😦

YA ALLAH.. Saya kembali tertampar, bahwa mulai saat ini saya harus bisa lebih banyak mendengar yang benar-benar mendengarkan. Mendengar untuk memahami tiap makna yang tersirat di setiap kata yang diucapkan orang lain. Karena ternyata didengarkan itu ternyata juga salah satu kebutuhan mendasar manusia. Tak hanya kebutuhan seorang rini bee saja. Tuh bee… Ulah egois atuh.. :sight: πŸ™„

Terima kasih Desi Kustianti. Kau membuatku menyadari banyak hal. Terima kasih telah menjadi salah satu sahabat terbaikku.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima amal ibadah, iman dan Islamnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiiin ya robbal alamiin..

saya dan (alm) desi..

Dan saya juga nggak tahu inti tulisan ini tentang apa sebenarnya. Campur aduk macam-macam sepertinya. Hanya mencoba bercerita dan mengungkapkan apa yang selama ini tertahan di dalam dada hati saya.

Bagaimanapun juga, untuk anda yang sudah bersedia meluangkan waktunya tersesat mampir ke postingan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Terima kasih telah mendengarkan saya.. πŸ™‚

Iklan

Satu pemikiran pada “Sesuatu yang selama ini hanya (mampu disimpan dan) tersimpan di dalam hati saja..

  1. Assalamu’alaikum..
    Salam kenal mbk..
    Saya baca blog ini,nangis mbk..teringat mbak desy.
    25 mei thn ini, sdh 1thn mbk desy pergi ke rmh Allah.
    Rindu bgt rasa nya..
    Mmg benar, beliau adallah pendengar yg super, dan sangat sabar.. Senyum nya nenangin jiwa.
    Miss you mbk desy.. Makasi kasih sayang nya selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s