Granuloma Umbilikalis


Cerita serius kedua. 😀

Jadi ceritanya, waktu Ridwan lahir saya diberi pesan oleh bidan yang membantu persalinan, bahwa puser Ridwan tidak perlu diberi cairan apapun -termasuk alkohol- untuk perawatannya. Cukup dibungkus kassa kering dan diangin-anginkan saja. Entah sayanya yang udah lupa cara merawat pusernya (karena dua anak saya yang sebelumnya diberi alkohol), maka saya iya-iya saja. Jadi selama 4 hari sejak kelahirannya, puser Ridwan nggak tersentuh alkohol sama sekali.

Di hari ke 4, saudara sepupu suami saya yang membantu memijat Ridwan pun baru ‘mengingatkan’ saya masalah pemberian alkohol dan kassa ini. Entah karena sedikit teledor atau karena saya ngantuk waktu mengganti popok Ridwan, sepertinya pusar Ridwan secara tidak sengaja pernah terkena pipisnya. *selftoyor*

Sejak hari ke 4 itulah puser Ridwan mulai tersentuh alkohol dan kassa. Hasilnya? Waktu pusernya puput, ternyata puputnya tidak lepas dengan sempurna. Sehingga masih meninggalkan sedikit daging berwarna merah. Agak seram melihatnya. Karena kok kaya daging tumbuh ya? 🙄

Deg-degan juga saya. Tapi tetap berpikiran positif saja.

Atas saran beberapa kerabat, puser Ridwan yang ada ‘daging tumbuh’ berwarna kemerahan itu ditutup saja dengan kassa basah steril. Oh ya, saya baru tahu kalau ada kassa basah dalam bentuk bungkus bijian yang bernama Alkafil. Selama ini saya tahunya kassa kering yang dikasih alkohol. *jadul pisan euy :p *

Jadi lebih praktis. Nggak perlu membasahi kassa kering lagi dengan alkohol. Si kassa basah steril tadi langsung ditempel di atas puser saja. Lalu dibungkus/ditutup gurita. Oya, pemakaian gurita ini juga sudah mulai dilarang di beberapa tempat. Begitulah peraturan yang terbaru.

Berhubung si bayi itu aktif, gurita yang dipasang pun akhirnya kegeser-geser. Termasuk kassa basah yang lama kelamaan mengering. Akhirnya di guritanya (dan juga di kassa-nya) pun meninggalkan noda semacam darah mengering.

Beberapa kali dicek, si puser ini teruus saja basah. Segala cara saya lakukan supaya si daging tumbuh ini masuk ke dalam pusernya lagi. Tapi tetep aja nggak ada perubahan. Bahkan sampai lewat 40 hari hingga menginjak bulan ke dua.

Antara cemas dan tetap berpikiran positif serta menghabiskan belasan alkafil, saya mencari informasi tentang kondisi puser Ridwan. Ada banyak kasus puser bayi bermasalah yang mirip dengan kondisi Ridwan, dan dengan menggunakan kassa Alkafil, mereka bisa berhasil sembuh. Pusernya mengering dan lepas sendiri. Tapi Ridwan kok nggak ya? 😦

Melihat tidak adanya perubahan yang berarti dan kondisi pusernya juga tetap basah dan terkadang berdarah, suami saya pun menyarankan untuk membawa Ridwan ke dokter spesialis anak di rumah sakit I. Kebetulan rumah sakit ini dekat dengan tempat tinggal saya *nggak mau nyebut merk ah, biar gak bermasalah :D*

Oh ya, sebagai catatan, kondisi puser Ridwan yang basah dan seolah-olah ada benjolan daging kemerahan ini selalu saya bersihkan setiap hari. Dan saat saya cium, baunya cuma bau alkohol, nggak ada bau aneh-aneh semacam bau busuk atau apa. Jadi, kondisi pusernya bisa dikatakan Insya Allah nggak infeksi. Dan si bayi ganteng pun tetap lincah. Nggak demam ataupun rewel.

Anaknya aja ceria kaya gini. Nggak panas, nggak rewel.. :D
Anaknya aja ceria kaya gini. Nggak panas, nggak rewel.. 😀

Berbekal kondisi tadi, saya pun pede membawa Ridwan ke dokter. Dalam pikiran saya, si dokter cuma akan memberi resep obat supaya pusernya bisa mengering dengan cepat.

Ridwan pun akhirnya diperiksa oleh seorang dokter berjilbab. Oya, waktu itu, saya masih memakaikan Ridwan gurita untuk ‘mengikat’ si kassa supaya nggak mondar mandir. Namun yang membuat saya agak sebal, si dokter tadi cuma mengintip sekilas dan buru-buru memasang wajah panik sambil menulis ‘surat cinta’ rujukan ke dokter spesialis bedah anak dan memaksa perawat untuk mengantar saya hari itu juga supaya langsung ke lantai 3 menemui ‘atasan’nya (dokter bedah anak). Katanya puser Ridwan harus segera dioperasi. Dia takut kalau dibiarkan maka akan infeksi.

Duuh dokter. Jangan gegabah napa ya? Minimal dicium dulu atuh itu pusernya. Hihh! 😕 😡

Setelah menulis-nulis catatan, seorang perawat mengantar saya sambil membawa surat rujukan dari dokter tadi. Menjelaskan bahwa nanti akan ada pendaftaran lagi dengan biaya bla bla bla…

Saya gak konsen. Antara kaget campur sebel sebenarnya. Berpikir keras gimana caranya kabur dengan elegan.. 😛

Setelah mengambil napas panjang banget dan berusaha untuk tetap tenang, akhirnya saya memberanikan diri bertanya, “Suster, ini harus hari inikah saya ke dokter bedahnya? Kalau seandainya saya tunda dulu nggak pa pa? Jadi saya bawa dulu saja surat pengantarnya, besok saya ke sini lagi langsung ke lantai 3 ya? Gimana?”

“Lho memangnya kenapa, Bu?”

“Iya. Saya kan harus bicara dengan bapaknya anak-anak dulu, Suster. Saya nggak bisa langsung memutuskan sendiri. Harus saya bicarakan dulu. Gimana?”

“Oooh begitu. Nggak sekarang?” *mulai terdengar nada kecewa*

Dan selepasnya ketika ia mengambil amplop untuk membungkus surat rujukan dari dokter spesialis anak yang ‘cuma mengintip puser’ tadi, teman-teman perawatnya yang lain mulai kepo bertanya ini itu padanya. Dan entah saya yang sensi kali ya, nada ucapan mereka seolah mencibir. *Iya Bee, kamunya yang sensi* 😆

Bodo amat.

Satu hal yang ada di pikiran saya. Saya harus cari opsi lain. Saya harus menanyakan (lagi) kondisi puser anak saya ke petugas medis lainnya. Dan pilihan saya jatuh pada … bidan yang menolong kelahiran Ridwan! 😀

Iya. Saya pergi ke bidan Imas di jalan Siti Munigar. Saya tepiskan jauh-jauh wajah panik saya yang dihadirkan oleh dokter anak di rumah sakit sebelumnya.

Begitu melihat puser Ridwan, sesuai dengan harapan saya, si ibu bidan pun mengecek pusernya yang katanya bersih *yeayy!! 😀 * dan saat dicium pun tidak mengeluarkan bau yang menyengat. Jadi masalahnya hanya pusernya yang menonjol memerah seolah seperti daging tumbuh.

Bu bidan pun menjelaskan bahwa bagian menonjol ini adalah jaringan yang tidak terpakai *persis seperti yang saya baca di artikel saat saya googling*, jadi akan dipotong. Maka dengan cekatan beliau pun memasang benang dan melilitkannya di puser Ridwan. Menjelaskan bahwa tujuan pemasangan benang ini adalah untuk mematikan jaringan, supaya mudah memotongnya. Selain itu beliau pun memberikan obat turun panas, batuk dan pilek (sesuai kondisi Ridwan yang saat itu pilek) dan kebetulan sesuai jadwalnya, jadi sekalian diimunisasi DPT 1. Oya, untuk menghindari infeksi, maka Ridwan juga diberi antibiotik.

Untuk membuat pusernya cepat kering, dokter memberikan salep Genalten cream. Dan setelah bolak-balik kontrol beberapa hari setelahnya, alhamdulillah.. sekarang pusernya Ridwan sudah sembuh. Sudah mengering dan copot dengan sendirinya.. 🙂

Kondisi puser Ridwan ini biasanya dikenal dengan sebutan Granuloma Umbilikalis.

Apa sih Granuloma Umbilikalis itu?

Nih saya kasih potongan artikelnya ya..

Granuloma Umbilikalis (umbilical granuloma), yaitu pertumbuhan jaringan granulasi pada pangkal pusar setelah tali pusar copot/putus.

Sepintas mungkin tampak seperti benjolan kemerahan atau “daging” yang basah dan berair. Bila ukurannya kecil biasanya granuloma tersebut membaik dengan pemberian cairan perak nitrat (silver nitrate) pada permukaannya. Namun bila ukurannya cukup besar atau tidak responsif terhadap pemberian cairan perak nitrat, maka granuloma itu perlu tindakan pembedahan.

 

Oya, kondisi granuloma umbilikalis ini bisa berbeda-beda antara bayi yang satu dengan yang lain. Alhamdulillah pada kondisi yang dialami Ridwan termasuk yang ringan. Kalau seandainya puser yang bermasalah tercium bau pesing atau bau lainnya yang mencurigakan, kemungkinan berhubungan dengan saluran air seni atau saluran pencernaan. Jadi sebaiknya dibawa ke dokter saja. Kalau kondisinya kaya begini, mungkin harus dilakukan operasi untuk menutup saluran yang ‘bocor’ tadi. Dan yang paling penting, jangan cepat panik dan mintalah banyak pendapat dari dokter ahli / bidan tentang kondisi anak kita serta langkah apa yang sebaiknya diambil. Jangan lupa juga untuk banyak-banyak googling buat nyari informasi. Biar banyak pengetahuan.. #eeaaaa.. 😀

Kalau tidak ada masalah serius, Insya Allah tidak perlu sampai dioperasi kok.. 🙂

Semoga artikelnya bermanfaat yaa..

 

Maaf kepanjangan.. Lagi niat nulis, ceritanya.. Hehehe..

Iklan

15 pemikiran pada “Granuloma Umbilikalis

  1. beh malesin amat ketemu ama dokter yg pemalesan macam gitu, dikit2 main operasi, mesti mikirnya balik modal jd dokter *biarin suudzon2 deh*
    ah iya baru tau nama pangerannya itu, mesti keren sampe gedenya ntar #eh :mrgreen:

  2. ih gemes banget sama si ibu dokter yg lebay itu siii, untuk dirimu mommy cerdas jeng 😉 sekedar sharing aja, dulu 2 anakku pusernya ga ada yg pake alkohol tapi pake betadine. Alhamdulillah cepet banget kering, trus tingalkan saja gurita rin 😉 sehat -sehat yaa dede ridwan :*

  3. ih, kejadian yang sama pernah terjadi di aq waktu anakku umur 7 bulan..dateng ke dokter spesialis anak karena batuk, eh terus dokternya liat pusernya yg waktu itu emang belum menutup sempurna gitu..dari hasil googling, tanya2 temen katanya kan ditunggu sampe 2 tahun dulu..kalo gak nutup juga baru dipertimbangkan utk operasi..eh ini ujug2 si dokter langsung ngerujuk saya ke dokter spesialis bedah anak di situ..karena panik, waktu itu nurut2 aja ketemu si dokter bedah..eh, pusernya cuma ditengok sedikit dan langsung bilang silahkan ibu urus administrasinya utk operasi ya..beuuuuh..dokter apaan tuh..*emosi
    jangan2 rumah sakitnya samaan nih ya.. 😀
    Alhamdulillah cari second opinion, dan pusernya berhasil nutup sendiri tanpa operasi2an..

  4. Bun anak ke 2 aku kebetulan kyk gini nih.. telat bacanya.. hikss..
    Anak ku 1bln 5hr kemaren baru aj ku bawa ke rs, sm dsa nya bener di bilang granuloma tindakannya di kasih alkohol trs di cabut tuhh, dikasih abothyl abis itu di tutup pake kasa yg dikasih betadine dan di plester.. gk boleh kena air dan 3 hr kemudian kontrol lagi.. masalahnya itu 3hr di diemin gpp yaa? Jadi bingung.. pulang ny di resepin antibiotik, sama si dede dilepehin trs obatnya.. ooyaa udelny dede jg gk bau koq.. sebelumnya tanya ke bidan cm di saranin pake betadine, ud seminggu tp gk ad hasil..

    Thanks ya bun sharenya…

  5. Bun.. Makasih ya infonya. Anakku abis puputan kmrn pusernya basah terus eh sm ada putih ddlmnya, aq baca artikel ini trus aq cobain alhamdulillah skrg ud lepas sndri. Oiya saya smpt ke spesialis anak eh br diliat dia blg itu nanah trus diobok2, trus diresepin antibiotik pdhl ud saya tolak, emosi deh sm dktr yg smbrangan diagnosa

  6. Anak saya juga mengalami hal yang sama Granuloma Umbilikalis sdh umur 7 tahun, tolong dimana alamat bidannya ini nomor tltpon saya 0853 4069 8429 Pak Desran.

  7. Ibu Rini. tolong diinformasikan alamat bidannya, saya kwatir dengan anak saya. saya ingin bawa anak saya ke bidan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s