Ssstt…


Haii… Apa kabar semua?

Seperti kemarin saya bilang, masih ada beberapa cerita yang mau saya bagi. Hehehe..

Karena kemarin belum sempat, saya lanjutin sekarang yaa… 😉

Nah cerita bahagia saya kali ini sebenarnya nggak diprediksiin sebelumnya. Kalau kelahiran dua buah buku saya itu setidaknya udah ada proses ‘rencana penyusunan buku’ dan sedikit ‘bocoran’ dari SPP -Surat Perjanjian Penerbit- yang didapat setelah naskah novel resmi diterima. Dan di sana tertulis paling lambat Oktober 2014 saya dan Ria udah bisa melihat penampakan Shanata dalam bentuk novel di tangan saya.

Alhamdulillah, sebelum saya bertambah usia di akhir Oktober nanti, eh Shanata duluan brojol.. Hehehe..

Naaah… Kabar yang ini…

Hehehehe… Jadi pengen senyum.. :mrgreen:

Senyum karena setelah mengaitkan satu kejadian dan kejadian lain akhirnya kejawab juga kenapa beberapa bulan terakhir sebelum saya memutuskan rehat dari dunia perblog-an -yang diwarnai ditambah kasus salah paham dan buntunya kemampuan saya untuk bisa menjelaskan maksud saya pada … ah sudahlah! -, saya tuh ngerasa sensiii banget… Gampang sedih, marah, sakit hati bin cepet kesulut emosi *eh sama aja kali Bee.. 😀

Intinya kesenggol dikit -baik dengan sikap maupun kata-kata- rasanya kalau nggak mau meledak ya nangis di pojokan. Kalau nggak pengen ngejedotin kepala ke tembok (naudzubillah..) ya curhat geje sambil whatsapp-an *haaallaaagghh… 😀

Karena terkadang seringkali maksud baik kita belum tentu bisa diterima dengan baik juga. Lebih Seringnya justru ditepiskan dan dibalas dengan kejahatan ujian mental bertubi-tubi yang seolah menguji sejauh mana kita bertahan tetap menjadi baik (menjaga keikhlasan) atau ikutan jahat juga.. Naudzubillah…

Tapi waktu itu, itikad baik saya mengirim email berharap masalah mereda malah dibalas caci maki dalam postingan terbuka yang menyudutkan posisi saya. Rasanya isi kalimatnya semuanya berusaha keras meruntuhkan harga diri saya. Menghina saya seolah saya ini orang yang paling hina di dunia ini. Orang yang gak bisa empati, ngeyel, nggak bisa nunggu, dst.. dst.. Menyamakan saya dengan an***, menuduh saya macam-macam.

Tapi hey! Itu email yang saya kirimkan justru email penyesalan dengan untaian rasa sesal dan permintaan maaf yang tulus dari hati saya. Setelah saya melalui perenungan mendalam dan menepiskan ego pribadi saya dan menanggalkan pertahanan diri saya untuk selalu merasa paling benar. Saya juga meminta maaf setulus hati untuk kelemahan diri saya yang mungkin tidak bisa berempati hingga membuatnya terluka. Tapi caci makilah balasannya. Iya, email privasi itu malah ditepiskan dengan tidak hormat. 😦 😦

Hancurkah hati saya?

YA.. TENTU SAJA.

Apakah saya menaruh dendam?

Sakit hati, iya.. Itu sebabnya saya memutuskan tidak menyentuh blog untuk sementara. Supaya semuanya mereda.

Apakah saya ingin melupakannya?

Melupakan rasa sakit? Pastinya. Tapi tetap saja kalau mengingatnya saya pasti sedih. Semoga waktu bisa mengobati luka di hati saya. Dan seperti saya bilang di postingan sebelumnya. Saya sudah merasa jauuh lebih baik. Ya. Saya sudah memaafkannya. Dan berdoa semoga suatu hari nanti ia juga bisa memaafkan kesalahan saya.

Ada niat untuk membalas dendam? Melupakan orang itu? Menghapusnya dari hidup anda? Me…

Hey! Stop! Pertanyaan apa ini? Saya nggak suka balas dendam. Jika karma itu memang ada, biarkan ia bekerja sesuai tugasnya. Saya tak akan berniat untuk mengambil alih tugasnya. Dengan alasan apapun. Siapa saya? Saya ini hanya manusia biasa. Saya tak luput dari dosa. Dan sebagai manusia biasa, dengan segala kerendahan hati saya.. Saya berharap orang lain bisa memaafkan segala kesalahan saya di masa lalu seperti saya juga berusaha mengikhlaskan dan merelakan apa-apa yang pernah diperbuat orang lain di masa lalu terhadap saya.

Semuanya?

Iya. Semuanya. Saya hanya berusaha yang terbaik semoga Allah SWT membolak-balikkan hati kami dan menuntun kami ke jalan yang baik. Menyatukan kami semua yang pernah bertikai dengan persahabatan yang jauh lebih indah. Kenapa lebih indah? Karena telah lulus ujian dulu kan? Semua yang melewati ujian, tentunya dan Insya Allah jauh lebih baik daripada yang belum diuji ketahanannya. 

Insya Allah. Aaamiiin

***

Jadi postingan ini tentang apa sih Bee?

Astaghfirullah…!

Iya euy.. saya malah ke mana-mana bahasannya.. Hahaha..

Maaf.. Intinya mah bukan untuk membuka luka lama. Tapi isi postingan ini adalah jawaban tentang kesensitifan saya beberapa waktu yang lalu.. Bahwa ternyata.. Saya sensi itu.. Karena…

*testpack check*

G.A.R.I.S. D.U.A.

Iya. Insya Allah saat ini saya sedang mengandung anak ketiga saya.. 🙂

Mohon doanya semoga kehamilan saya ini tidak ada masalah yang berarti. Dan dimudahkan serta dilancarkan seperti dua kehamilan saya sebelumnya. Aamiin..

Tuh.. Jadi ngikik kan? :mrgreen:

Jadi, ada TIGA tipe wanita.

Yang pertama. Wanita sulit. Yaitu tipe wanita seperti saya.

Yang kedua. Wanita super sulit. Yaitu tipe wanita seperti saya yang sedang PMS.

Dan yang terakhir. Wanita super duper sulit. Yaitu tipe wanita seperti saya saat sedang hamil.. (cuma guyon! :D)

 

Kesimpulan: Pantesan kemarin tuh sensi bener rasanya… 😉 :mrgreen:

Maaf yang kena imbasnya ya.. Iya, kalian yang udah sempat baca postingan geje sensi saya kemarin-kemarin ituh. Percayalah. Itu pengaruh hormon.. #denial #pencitraan..

 

Jangan bosen-bosen main ke sini ya!

Cara paling ampuh mereda kesedihan adalah memeluk duo bocah ini.. :D
Cara paling ampuh mereda kesedihan adalah memeluk duo bocah ini.. 😀

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “Ssstt…

  1. Ping-balik: MUDIK | Rini bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s