Kalau lagi nggak nulis, trus ngapain…? Ya baca dong!


Saya lagi rehat nulis. Bukan mau saya sih, tapi emang ‘peralatan perang’nya yang nggak ada. Kenapa ngga pakai hp? Duh.. Jangan dibayangin hp saya itu didesain bisa gampang buat nulis blog. Nulis status di fb atau ngasih komen mungkin iya. Tapi buat update blog? Nggak banget! :mrgreen:

Oh iya. Berhubung saya lagi nggak aktif nulis blog atau nulis novel *eh? 😀 maka kegiatan saya akhir-akhir ini adalah membaca. Bukan buat gaya-gayaan sebenarnya. Tapi tiba-tiba aja saya tersadar bahwa saya tuh punya banyak novel, kumcer maupun buku nonfiksi yang belum kelar dibaca. Malah sebagian (besar) masih dalam segel plastik.. *tepokjidat*

KOK BISA??

Ya bisa. Karena sebagian (besar) buku-buku tadi adalah buku yang dipinjami oleh teman saya ataupun hadiah waktu saya mengikuti giveaway, kuis dan sejenisnya.. 🙂

Dari dulu, saya tuh paling nggak bisa ngabisin novel sekali duduk. Nggak tahu juga. Mungkin kemampuan membaca cepat bukanlah keahlian saya. Entah mengapa, kalau membaca itu saya harus menghayati banget apa yang saya baca. Jadi nggak asal baca cuma nggak ngerti apa yang dibaca *mbulet*.

Demikianlah.

Maka ketika membaca novel dengan diksi yang selangit. Ampun-ampunan deh. Bagi sebagian orang mereka menikmati mendayunya kalimat puitis yang dibuat si penulis, kalau saya? Muter otak lebih keras mencoba memahami maksud kalimat manis bertingkat tadi. Sambil manggut-manggut dan bergumam dalam hati “ooh.. jadi gini ya bahasa yang dipakai saat nulis novel?”. Jangan salah, itu saya sambil belajar juga lho!

Nah.. maka tak heran ketika akhirnya ada yang bilang novel ini-anu-eta-ieu bagus, saya belum tentu setuju. Dan ketika ada yang bilang ini novel garing nggak-banget dan idenya pasaran, mungkin saya bisa senyum-senyum saat membaca dan menikmati ‘kesederhanaan’ yang dipersembahkan si penulis. Yah.. namanya juga selera.. 😀

Balik lagi ke masalah gak bisa baca cepet tadi. Waktu dulu saya pinjem novel Harry Potter series ke temen saya, saya pasti bilang kalau saya nggak janji bisa ngebalikin novelnya cepet. Ya karena saya sadar kemampuan saya dalam membaca tadi. Iya, saya emang penggemar Harry Potter, tapi saya nggak koleksi bukunya sama sekali. Karena mahal dan nggak mampu beli dan kalau saya udah baca novel itu sekali, sedikit kemungkinan saya akan mengulang kembali membacanya.

Kecuali novel itu bagus sekali.

Karena bagi saya, kenikmatan membaca novel itu adalah ketika saya mengikuti alurnya dan hanyut dalam cerita yang dituturkan sang penulis. Ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh dan menebak-nebak akhir cerita dari novel dalam genggaman saya. Di situ letak kenikmatannya. Tapi kalau saya udah tahu jalan ceritanya, kok gregetnya jadi kurang ya? IMHO

Bicara masalah membaca novel, beberapa waktu kemarin, saya sempat membaca dua buah novel dari dua orang teman maya saya. Dua-duanya belum pernah saya temui di dunia nyata. Dan novel yang saya baca itu debut novel dari keduanya.

Yang satu tentang romance berbalut intrik ala Harlequin dan yang satunya lagi kisah asmara bergenre chicklit. Dan ternyata… Saya lebih menikmati saat membaca cerita ringan berbentuk chicklit tadi. Bukan masalah personal kok. Tapi ya itu tadi. Masalah selera.

Romance sebenarnya salah satu favorit saya. Cuma kalau romance-nya harlequin, kok saya ngerasa nggrogi bin panas-dingim tak beralasan saat membacanya ya.. Jadi gelisah sendiri dan wajah tiba-tiba tegang.. Hahaha… 😆 :mrgreen:

Mudah-mudahan ngerti maksud saya ya?

Dan bisa ditebak. Saya membuat rekor baru. Chiclit tadi saya selesaikan kurang dari seminggu. *disambi nyapu, ngepel, setrika dan lain sebagainya.. 😛

Sementara yang lain, saya taruh-baca-taruh-baca terus… 😆

Tapi bagusnya, dengan membaca novel teman lain, biasanya ide menulis itu membanjir lho. Setidaknya itu yang saya rasakan. Jadi, kalimat:

Mereka yang mencintai menulis, mengawalinya dengan mencintai membaca (buku) — Cassandra Clare

itu bener banget!

Karena amunisi untuk menulis itu ya membaca. #eaaa.. 😀

Oh ya, hal ini juga terjadi saat saya membaca kumcer milik @Mandewi yang diterbitkan self publishing di nulisbuku.  Judulnya Melahirkan Eliana. Sambil membaca, saya nemu ide buat tulisan-tulisan saya..

Terima kasih Mandewi.. Terima kasih untuk inspirasinya.. 🙂

Nah itu kegiatan saya akhir-akhir ini. Membaca novel yang bertumpuk sambil mengumpulkan ide. Masih menulis, tapi baru beberapa potong kalimat.. 🙂

Bagaimana denganmu, teman?

Beberapa buku dalam antrian baca saya.. :D
Beberapa buku dalam antrian baca saya.. 😀
Iklan

12 pemikiran pada “Kalau lagi nggak nulis, trus ngapain…? Ya baca dong!

  1. hihihihih…klo bacanya novel sandra brown..lebih panas dingin yah teh 😛
    Kayanya kita punya kesamaan teh : Gak bisa baca novel dengan cepat.
    suka salut sama yang bisa baca novel tandas dalam beberapa jam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s