25 Januari


Kuremas -remas kedua tanganku yang terasa sangat dingin. Berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Kutatap kalender duduk di atas meja telepon.

25 Januari.

Sekaranglah saatnya.

Kutarik napas panjang lalu mengembuskannya sembari meniup kedua tangan yang tergenggam mengepal di depan mulut. Setelah menyambar anak kunci dengan gantungan berbentuk kuda, aku bergegas menuju BMW merahku.

***

BRAK!

Moncong BMW sukses menghajar pagar rumah sundal simpanan suamiku tanpa ampun. Kulihat perempuan binal itu berjalan terburu mencari tahu siapakah yang menghancurkan gerbang kebanggaannya. Sekilas kutatap inisial BM -inisial nama suamiku dan si sundal-, berwarna gold yang semula disematkan di depan gerbang hitam itu terlepas dan teronggok di dekat kakiku. Kuinjak penuh kebencian saat aku menerobos masuk rumahnya tanpa permisi.

Sialan! Rumah ini seharusnya kutempati bersama kedua anak-anak kami. Namun lelaki yang sama brengseknya dengan si sundal itu memberi alasan akan merenovasinya, dan kini justru dihibahkan pada perempuan murahan itu.

Selama sepersekian detik, aku dan si sundal saling menatap. Dengan reaksi cerdas, ia memilih menunduk kalah. Membuatku urung melayangkan tamparan di pipinya.

Tak menyia-nyiakan waktu, aku berjalan cepat menuju pekarangan rumah. Berjongkok di bawah pohon melati yang kini telah tumbuh menjulang tinggi. Lalu mulai menggali.

***

Kutatap tajam lelaki uzur berjenggot panjang di hadapanku. Yang kuingat, terakhir kali aku bertemu dengannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Penuh rasa kesal, kuserahkan balutan kain putih yang penuh dengan noda tanah. Dengan murka aku berkata tegas padanya.

“Bapak masih inget saya kan??!! Tiga puluh tahun yang lalu bapak bilang bahwa benda ini bisa menjaga cinta mas Bams hanya untuk saya. Tapi mana buktinya? Dia menduakan saya dengan biduan sundal itu!”

wpid-gemes.jpg

Lelaki itu meraih bungkusan yang kuserahkan padanya. Membolak-balik untuk memastikan bahwa memang benar ia yang memberikannya.

Tak lama, ia mengembalikannya padaku.

“Ibu pasti tidak membaca dengan teliti ya? Ini expired-nya tujuh tahun yang lalu,” jawabnya datar.

-selesai-

Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama.

Catatan:

Cerita di atas hanya fiktif belaka. Jika ada nama, tempat, dan detil kejadian yang mirip dengan cerita dalam kehidupan nyata, percaya deh, itu cuma kebetulan.. :mrgreen:

Iklan

17 pemikiran pada “25 Januari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s