Anonim dan Absurd :D


Beberapa waktu yang lalu, saya ketemu salah seorang sahabat. Suka nulis juga. Blogger juga. Untuk alasan privasi, saya nggak bisa menyebut namanya. Sebut sajalah anonim. Hehehe

Saya sering main ke blognya dan jadi silent reader. Meskipun kadang-kadang meninggalkan jejak juga. *halah.. mbulet*

Saya bisa betah bangett kalo maen ke sana. Selain karena bahasa yang dia pakai diksinya keren banget -menurut saya-, isi curhatannya banyak yang bikin saya de javu.

Berasa kalau bisa komen di tiap postingannya, pasti tuh isinya “I Feel You banget”.. Hehehe..

Kebanyakan sih isi postingannya memang mewakili perasaan saya jaman dulu. Ya iyalah.. namanya juga de javu.. πŸ˜€

Sempat terbersit pikiran ‘enak kali ya kalau bisa ketemu langsung dan bisa ngobrol plus curhat langsung sama si empunya blog‘. Dan taraa..

Kapan hari kamipun ketemuan. Hasilnya? Seruu bangett.. Nyenengin banget dan berasa banget waktu ketemuannya kurang lama.. πŸ˜› :mrgreen:.

Hihihi..

Err… Sebenarnya saya ini pendiem banget loh. Tapi kalau udah cocok sama seseorang, barulah ‘cerewetnya’ keluar.. *uhuk* πŸ˜€

Oya, gara-gara baca blognya, saya jadi kangen banget pengen bisa jadi penulis anonim (lagi). Maksudnya, saya pengen bisa nulis yang jujur dan nggak terbatas.Β Nggak muncul pemikiran di kepala saya ‘apa yang orang pikir kalau saya nulis begini?’. Nggak paranoid kalau saya nulis yang agak liar dikit maka orang akan menghubungkan cerita yang saya tulis tadi adalah curcol saya dalam kehidupan pribadi. Semacam itulah.

Emang kalau sekarang kenapa?

Ya kalau sekarang.. jujur aja, tulisan saya terbatas. Saya nggak mungkin bisa nulis yang agak menjurus seperti seks, atau kekacauan rumah tangga atau apalah. Selalu ada pemikiran ‘takut dibaca orang tua saya, takut dibaca keluarga besar, teman dan semacamnya’ dan itulah sebabnya kadang saya justru menikmati masuk ke sebuah grup (nulis) yang orang-orangnya belum dan nggak saya kenal. Saya ngerasa lebih enjoy karena tulisan saya jadi berwarna.. πŸ˜€

Setidaknya itu yang pernah saya rasakan. Saya aneh? Bisa jadi. Tapi bagi saya, menulis itu butuh kenyamanan, dan menulis itu panggilan jiwa.

Menulis itu butuh passion. Semacam akan tetap melakukannya meskipun nggak ada yang nyuruh apalagi membayar.. πŸ™‚

Dan saya terlaluΒ capek dengan pemikiran singkat beberapa oknum yang menganggap kalau penulis selalu dikaitkan dengan tulisannya. Bahwa apa yang ditulisnya itu pasti tentang dirinya. Dan semisalΒ saya punya pendapat gini.. maka langsung dijudge begini.. Kalau begitu maka begitu.

Padahal menulis itu rekreasi buat saya. Biar saya balik fresh. Tapi kalau baca komen nge-judge, itu kan malah jadi nambah-nambahi masalah.. πŸ˜† :mrgreen:

Lelah banget. Hehe..

Dan atas pemikiran inilah saya beri privasi si teman tadi untuk tetap menjadi anonim bagi pembaca yang lain. Suatu saat nanti, mungkin saya juga pengen mengikuti jejaknya.

Menjadi anonim.

Nulis tanpa khawatir pikiran orang karena orang nggak tahu siapa yang nulis. Hehe..

Menjadi penulis yang dinilai ‘apa tulisannya’ bukan lagi ‘siapa penulisnya’.

πŸ™‚

Ya begitulah.

Ini tentang apa sih? Tentang curhat absurd.. Iya. Akhir-akhir ini saya lagi suka nulis absurd. Boleh di-skip kok.. *halah telat bilangnya* πŸ˜€

Selamat pagi!

Selamat berlibur… πŸ˜€

 

*lagi.. ditulis tanggal 17 Nov tapi baru sempet dan bisa diposting hari ini Β πŸ˜›

Iklan

11 pemikiran pada “Anonim dan Absurd :D

  1. setuju pada satu point Mba Bee..
    kalo udah berkeluarga apalagi dah berbuntut kadang suka mikir ribuan kali untuk bikin tulisan “yang terlalu sesuai isi hati dan perasaan”.
    Tapi positifnya adalah kita tahu koridor πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s