[#30hariNgeblog] Hari ke 3: Menahan Sedikit untuk Kemenangan Besar


Judulnya agak provokatif ya? Hehe

Karena ini masih berkaitan dengan #30hariNgeblog yang saya ikuti kemarin. Dan tema hari ke 3 yang sempat saya loncati adalah kemenangan besar. Bukan masalah temanya sebenarnya, tapi karena kemarin sudah tanggal 6, jadi sebaiknya saya posting duluan tema yang dilempar hari itu. Jadilah saya posting cerita tentang cinta dan monyet duluan. Hehehe

Oke, cukup penjelasannya. Dan inilah kisah saya tentang kemenangan terbesar saya.

Saya terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Tak cukup hanya itu saja. Saya pun menjadi anak perempuan satu-satunya. Terbayang sedikit situasinya kan? Ya. Kesan bahwa saya adalah anak bungsu yang manja dan dilindungi dua kakak laki-lakinya seakan melekat kuat dalam diri saya. Setidaknya, begitu kesan yang saya dapatkan dari orang-orang yang mengenal saya.

Setelah menikah, saya tinggal mengikuti suami saya. Pindah dari zona aman dan selama ini terasa nyaman untuk saya. Dari Surabaya ke Bandung. Dari yang dulunya tinggal dengan kedua orang tua kini hanya dengan suami saja.

Banyak perubahan yang terjadi dalam diri saya. Banyak hal baru yang saya alami, saya pelajari dan saya nikmati setiap prosesnya. Jatuh bangun mungkin, sedikit letih dan sakit juga saat terjatuh, namun akhirnya bangkit lagi dan mencoba lagi. Memutuskan untuk tak berhenti berusaha dan tak kenal kata putus asa, membuat semua rasa sakit dan letih tadi menjadi tak lagi terasa sebagai beban. Hanyalah sebuah fase yang harus dijalani untuk sampai pada tahap yang lebih tinggi lagi.

Intinya, saya yang (dulunya) katanya manja dan tergantung orang tua bisa berubah dan bisa melakukan kerjaan sebagai perempuan rumah tangga. Pernah saya ngebatin. Memangnya ada sekolah jadi istri? Kan semuanya harus dipelajari dalam kehidupan. Nggak masuk kurikulum waktu kita sekolah dulu kan? :mrgreen:

Dan kalaupun ada jawaban dari pertanyaan di manakah sekolah menjadi seorang istri? Maka jawabannya adalah.. Sekolah kehidupan.. hehe..

Balik lagi ke tema awal yang dilempar tentang kemenangan besar ya..

Meskipun sesekali saat saya ikutan give away atau kuis saya beruntung dan  mendapatkan hadiah, bagi saya pribadi, bukan kemenangan seperti itu yang bisa disebut kemenangan terbesar. Karena setelah saya renungkan dan saya resapi jauh ke dalam diri saya *uhuk*, kemenangan terbesar adalah ketika saya bisa menang melawan hawa nafsu. Menang melawan diri sendiri.

Tunggu!

Jangan ngeres dulu. Hawa nafsu bukan cuma nafsu yang itu kan ya? 😛

Oke balik lagi ke cerita tadi ya. Banyak hal yang dulunya bisa saya dapatkan dengan mudah hanya dengan cara meminta pada orang tua, setelah menikah, selain karena udah bukan tanggungan orang tua lagi, tentunya karena saya sadar bahwa menikah itu berarti -dan juga sebaiknya- menjadikan saya sebagai pribadi yang tentunya lebih dewasa dalam menjalani kehidupan.

Tenang saja.. Saya nggak akan ngasih kuliah pernikahan kok di postingan ini. Karena saya yakin teman-teman pasti ngerti maksud saya.

Dan setelah ngalur ngidul ke sana ke mari, intinya saya ini mau cerita tentang salah satu hal yang saya anggap kemenangan terbesar saya selama ini, yaitu MENAHAN DIRI.

Seperti apa ceritanya?

Yuuk duduk manis dan dengarkan saya bercerita silakan lanjutkan membaca (lagi).

*Lah.. Baru masuk cerita inti ternyata.. :D*

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, momen Idul Fitri adalah momen untuk berkumpul dengan sanak saudara dan berkumpul dengan kedua orang tua. Dulu, hal itu juga yang terjadi dalam keluarga kami. Waktu saya masih kecil, belum menikah dan kakek – nenek saya masih lengkap semua. Kami biasanya berkumpul di rumah kakek dan nenek saya. Untuk kemudian sholat Ied bersama dan sugkeman.

Setelah menikah, selama 5 tahun pernikahan, 5 kali lebaran pula saya tidak pulang ke Surabaya. Sebagai gantinya, saya mudik di luar waktu lebaran. Awalnya terasa berat, kebayang kan betapa bahagianya orang-orang yang bisa berkumpul bersama keluarga di hari Raya Idul Fitri. Dan di sinilah fase saya untuk belajar menahan diri diuji. Banyak alasan yang tidak bisa saya jabarkan satu per satu yang menyebabkan kami tidak bisa pulang saat lebaran. Tapi bagaimanapun juga saya ambil saja hikmahnya.

Selalu ada rencana indah dari Sang Maha Kuasa.

Dan saya yakin, akan ada saatnya saya dan suami serta anak-anak bisa merasakan juga berlebaran di Surabaya. Aamiin..

Itu baru salah satu contoh kecil. Ada beberapa contoh lain yang terkait dengan menahan diri, termasuk juga ketika ngidam saat hamil, atau menahan diri dari rasa marah dan amarah pada orang-orang terdekat, menahan diri dari keinginan belanja berlebihan, menahan diri untuk melakukan hobi yang akhirnya malah berdampak menelantarkan keluarga, dan masih banyak lagi. Semua itu termasuk nafsu kan? Dan kemenangan terbesar saya adalah ketika bisa Menahan Diri menghadapinya.

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari menahan diri dari hawa nafsu ini. Dan tentunya lebih banyak hal positif yang saya dapatkan. Jadi kalau diambil kesimpulan, sepertinya kemenangan terbesar saya selama ini tak lain dan tak bukan adalah menahan diri.

Ya. Kemenangan Melawan [Hawa Nafsu] Diri Sendiri.

Ini ceritaku hari ini. Bagaimana denganmu?

When you going to supermarket..
Salah satu kemenangan besar, menahan diri dari belanja berlebihan.. 😀
Iklan

2 pemikiran pada “[#30hariNgeblog] Hari ke 3: Menahan Sedikit untuk Kemenangan Besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s