Prompt #25: Susu Untuk Sari


Cerita sebelumnya

****

Esok harinya Warti menjemputku tepat pukul 9 pagi. Bersama Sari dalam gendongan, aku mengekor di belakangnya. Tanpa banyak bertanya aku mengikutinya naik turun angkot sebelum akhirnya berhenti di sebuah pasar yang cukup ramai.  Dikeluarkannya ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang. Tak lama ia memintaku menunggu.

Di seberang sana kulihat Warti melambai, dan aku mendekat ke arah laki-laki bertopi dan berkaca mata hitam itu. Entah apa yang dikatakan Warti tentangku dan Sari, tapi Warti ngotot memaksaku mengikuti apa yang disarankan laki-laki itu. Ia meminta waktu pada pria yang kuketahui bernama om Jon itu untuk membujukku.

“Kamu sudah gila?!” teriakku pada Warti, “Aku kira kamu menawarkan pekerjaan apa. Kalau cuma mengemis, ngapain kita jauh-jauh ke sini? Bukannya aku tak pernah memikirkannya. Tapi aku masih punya harga diri, War!”

“Iya, Yun.. Tapi dengarkan aku dulu.. Tak selamanya kamu akan mengemis seperti ini. Ini cuma sementara. Sampai kamu punya cukup uang untuk memulai pekerjaan lain.”

“Aku tidak bodoh, War! Sekali aku masuk dalam perangkap, aku tak pernah bisa lepas dari lelaki itu!”

“Ya sudah, terserah kamu. Aku cuma bisa membantumu saja. Apa kamu tega melihat Sari selalu menangis minta susu seperti kemarin? Aku cuma mencoba menolongmu.. Jika kamu tak bisa melakukan ini untuk dirimu. Lakukan untuk Sari!”

Ucapan Warti seakan menamparku. Meruntuhkan seluruh harga diriku. Dalam keterpaksaan, aku mengikuti permainan ini. Merelakan harga diriku terinjak-injak dan membiarkan lelaki itu menjeratku dan tak membiarkan aku lepas dari cengkeramannya. Permintaanku hanya satu. Agar ia mengizinkan Sari berada di dekatku. Aku tak mau ia memisahkan gadis kecilku dariku. Hanya ia satu-satunya yang kumiliki. Lelaki itu menyetujui. Ia bahkan berpikir bahwa pengemis yang membawa anak justru lebih mengundang keprihatinan orang-orang.

***

Tiga puluh tiga kali ditolak, dua puluh satu kali gelengan, dan dua belas ucapan yang bernada mengusir. Dan setelah sepuluh jam berjalan berkeliling akhirnya penantianku berujung. Seorang ibu renta berkerudung itu menyerahkan sebuah bungkusan untukku.

Susu untuk Sari.

Kucium tangannya dengan air mata berlinangan. Entah mengapa, kebaikannya membuat hatiku bergetar hebat. Kumpulan cairan bening hangat di pelupuk mataku jatuh berderai tanpa bisa kutahan.

Alhamdulillah.. Masih ada orang-orang berhati mulia di dunia ini.

***

“Ya! Kerja bagus, teman-teman…! Terima kasih semuanya.. Istirahat yang cukup karena besok kita pindah lokasi ke Pasar Paing.. Kamu boleh istirahat, Yuni. Terima kasih atas kerja samanya. ” Om Jon, produser acara ‘TERGERAKKAH HATIMU MENOLONGKU‘ menyerahkan amplop coklat berisi segepok uang pada Yuni. Rasa lelah dan pegal luar biasa di kedua kakinya menguap seketika.

Alhamdulillah… Kita bisa beli susu dan makanan sebulan, Sayang. Batinnya. Dikecupnya sayang pipi Sari dan mendekapnya erat. Sebelum menyadari amplop coklat di sisi kanannya telah raib. Disambar copet yang telah mengawasi gerak-geriknya sejak siang tadi.

-selesai-

susu-formula130204b

Iklan

12 pemikiran pada “Prompt #25: Susu Untuk Sari

  1. Ternyata ini syuting yang nolongin pengemis dapat hadiah itu. Ceritanya kok, sedih banget, sih, Mbak? :))
    Aku cuma sedikit terganggu di kalimat “cairan bening hangat di kelopak mataku”. Kelopak itu kan yang buat nutup mata, kan, ya? Yang di atas? Yang bener kelopak atau pelupuk, ya? *rewel* Maap, Mbak… Soalnya masih suka bingung sama bahasa Indonesia. Banyak kata yang aku sebenernya kurang ngerti definisinya. Hahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s