[BeraniCerita #27] Cinta [Bener-Bener] Buta


Kepala plontos, tubuh jangkung sedikit membungkuk serta rokok yang selalu terselip di telinga kirinya. Tak ada yang mengetahui pasti siapa nama aslinya. Dan tak seorangpun yang hendak berurusan dengan lelaki tunakarya yang kerjanya cuma numpang tidur di pos ronda itu. Bahkan tak seorangpun tahu dari mana lelaki itu berasal. Setiap kali ada yang melintas di depan pos rondanya, dengan sigap ia langsung merentangkan tangan, menghalangi anak-anak kecil yang hendak melintas.

Cepek dulu, dong!” todongnya. Dan wajah-wajah polos itu tak kuasa menolaknya. Takut, tentu saja. Dan mereka pasrah merelakan uang jajannya pindah ke kantong si lelaki plontos yang biasa dipanggil Pak Ogah itu.

“Jaman udah ganti, cepek masih berlaku Gah?” Ableh, satu-satunya orang yang berani bercakap-cakap dengan Pak Ogah tetiba muncul di balik pintu pos ronda.

“Eh, elu Bleh. Gue kira siapa. Iya nih.. Jaman sekarang cepek bisa dapat apa? Permen aja gak dapet. Gopek doong! Hehehe..”

“Ah elu. Beraninya ama anak-anak kecil. Gue ada kerjaan, nih. Ikut gue yuk?”

“Kerja? Ogaah aaahh..” tolaknya.

“Kalau duit segepok, masih tetep ogah?”

Mata Pak Ogah langsung berbinar-binar.

Siapa yang nggak tertarik dengan duit segepok? Batinnya.

***

IMG0079A
Pak Ogah

Dua bulan berselang, tersiar kabar bahwa Pak Ogah akan menikah. Tak tanggung-tanggung, yang jadi calon istrinya seorang perempuan cantik anak Pak Darji, boss baru Pak Ogah. Kabarnya, gadis secantik Sulastri itu dulunya kembang desa di sana. Namun popularitasnya semakin menurun semenjak terlibat pesta alkohol dengan teman-teman gaulnya. Secantik apapun seorang gadis, kalau suka mabok maka kecantikannya seketika memudar.

Dan kini, Pak Ogah dan Lastri sepakat menutup masa lalu dan membuka lembaran baru bersama.

***

Di dalam kamar pengantin usai hajatan besar, Sulastri menatap dingin ke arah Kardiman, nama asli Pak Ogah.

“Ingat perjanjian kita ya, Man! Segera setelah aku melahirkan bayi ini, perjanjian kita selesai. Kita langsung pisah. Dan selama itu, sebelum aku melahirkan bayi ini, kamu tak boleh menyentuhku sama sekali!”

“Oya? Siapa bilang? Kamu sah istriku. Ini buktinya!” dilemparnya buku nikah ke atas tempat tidur.

Lastri gelagapan, “Eh.. mau apa kamu?”

Alih-alih mengikuti kemauan Lastri, Kardiman mencengkeram tubuh perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Mendekatkan bibirnya ke mulut perempuan berkulit bersih itu dan membungkamnya dengan mulutnya. Menciumnya beringas. Lastri memberontak, namun Kardi mendekapnya lebih erat.

“Kamu mau apa?? Kamu sudah gila!! Lepask …” teriakan Lastri lagi-lagi tertahan karena Kardiman menciumnya bertubi-tubi.

***

Tiga bulan yang lalu.

“Boss, tentang permintaan Bos kemarin, saya sudah dapat orangnya.”

“Bagus! Dia mau menandatangani kontrak kan?”

“Iya Bos.. Tapi ada sedikit kendala..”

“Kendala apa?”

“Dia.. dia pengangguran, Bos. Dan saya juga nggak tahu persis asal usulnya.”

Pak Darji terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab lantang, “Ya sudah. Cepat bawa dia ke sini. Waktu kita nggak banyak. Saya mau lihat dulu orangnya.”

Mudah-mudahan laki-laki ini cocok. Supaya ada suami yang mendampingi Lastri saat melahirkan. Batin Pak Darji.

***

“Kamu serius menjodohkan si Ogah dengan Mbak Lastri, Mas?” tanya istri Ableh gusar, “Tapi sepertinya dia itu sedikit nggak waras tho?”

“Ya memang! Apa menurutmu ada orang waras yang mau menikah dengan gadis pemabuk?”

-selesai-

banner-BC#27

Ikutan #NgasihHadiah-nya Harry Irfan lagi yaaa.. Sekalian buat BeraniCerita #27 ya.. 🙂

RT @NafriYrrah: RESTU. “Sama anak yg suka mabuk itu? Gila kamu!” | “Maka dari itu, Yah. Siapa lagi yang mau sama orang gila selain pemabuk?”

Iklan

12 pemikiran pada “[BeraniCerita #27] Cinta [Bener-Bener] Buta

  1. Ceritanya mengenai sasaran.
    Dalam Al-Qur’an sudah ada peringatan agar umat Islam memilih manusia yang baik untuk dijadikan pasangan hidup. Dan ada benarnya bahwa wanita baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik.

  2. Logis gak logis sih kalo gue bilang. Pertama, Pak Ogah ditawarin kerjaan trus jadi mandor dan berkecukupan. Kedua, gadis pemabuk pasti dpt jodoh kok, apalagi dia cantik dan bersih sesuai penggambaran. Ketiga, kayak antiklimaks aja tiba2 dibilang kalo Pak Ogah tu gila. Keempat, kok ya ada yg mo mempekerjakan orgil? Kelima, tega2nya ortu si Gadis ngawinin anaknya ama orgil? Hohoho, udah ah! Kali gue yg ikut2an gila karna terlalu banyak mikir ttg kegaklogisan. Hehe..

  3. secara garis besar aku setuju dengan komentar eksak di atas. perpindahan cerita dari pak ogah yang suka ‘malak’ anak kecil lalu ditawari kerja oleh Ableh nggak ‘smooth’. Tiba-tiba pak Ogah jadi mandor. Kok bisa? Siapa yang ngasih kerjaan? “Orang gila’ mana yang mau nyuruh pemalak jadi mandor yang cuma ongkang-ongkang kaki? Lalu kemana si Ableh? Kok ilang? Apa dia semacam ‘peri pengabul keinginan’? Muncul pada saat-saat tertentu aja?
    Dan eh…tiba-tiba cerita melompat jauh. Wuuuush, pak Ogah akan dikawinkan dengan perempuan muda anak pak Darji. Lho, kok pak Ableh yang menjodohkan? Apa hubungan Pak Ableh dan Pak Darji?
    Duh….
    Sorry, Rini…komenku ‘karetnya tiga’. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s