[BeraniCerita #26] Terpanggil


Aku berada di dalam gudang yang tak terawat. Beberapa hari yang lalu, banyak kardus masih tergeletak di sana. Mungkin dulunya gudang ini adalah salah satu kamar kost yang disewakan oleh sang pemiliknya. Entah mengapa kamar ini akhirnya dialihfungsikan sebagai gudang. Ataukah karena letaknya yang terpisah dari kamar-kamar yang lain?

Bisa jadi.

Lima hari yang lalu, aku mengetuk pintu rumah kost ini, bertanya hati-hati pada sang ibu pemilik kost. Dan sebuah penolakan kuterima.

“Maaf, Nak. Sudah tak ada lagi kamar kosong di sini. Semua sudah terisi,” jawabnya saat kutanya apa aku boleh menyewa salah satu kamar kostnya.

“Saya mohon, Bu. Saya sangat membutuhkan tempat tinggal. Rumah saya jauh sekali dan tak seorangpun saya kenal di kota ini. Saya rela tinggal di mana saja. Bahkan di gudang pun saya mau,”

Selama beberapa saat ia terdiam. Mendengar kata gudang sepertinya mengingatkannya akan sebuah ruang kosong yang sudah lama tidak terjamah oleh siapapun. Sedikit ragu ia mengundangku masuk lalu menunjukkan sebuah ruang kosong yang jika dibersihkan memang masih layak disebut sebagai kamar.

timthumb.php
Gudang

***

Tak terasa, sudah memasuki bulan kedua aku tinggal di kamar kost berukuran 20 meter persegi ini. Kamar yang cukup luas untuk kuhuni sendiri, tentu. Dan setelah dibersihkan, kamar ini ternyata memang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Di luar ekspektasiku saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Meski sebelumnya aku berpikir akan mencari tempat tinggal lain, namun setelah menimbang harga sewa kamar yang terbilang jauh lebih murah daripada beberapa tempat kost lain yang telah kudatangi, membuatku urung meninggalkan kamar kost ini. Tapi, sebagus apapun sebuah keadaan tentunya ada sisi kelemahannya. Ya, terkadang di malam hari, aku seakan merasakan bulu kudukku berdiri karena hawa dingin yang sedikit tak wajar untukku. Kutepiskan pikiran irasional tentang makhluk gaib dan hal-hal mistis yang secara selenting kudengar dari penghuni lain, dan memilih untuk tetap berpikiran positif bahwa semua itu semata karena perbedaan suhu dari tempat tinggalku sebelumnya di Banyuwangi yang dekat dengan pantai dengan kota Bandung yang merupakan daerah pegunungan.

Beruntung, di malam ke 43 aku tinggal di sini, ibu di kampung meneleponku. Aku pun menumpahkan semua rasa gundah yang kurasakan.

“Sabarlah Nduk, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Tentunya ada alasan kenapa kamu harus tinggal di sana. Apapun yang kamu lakukan, ibu akan mendukungmu. Begitu pun dengan ayahmu.”

KLIK.

Kututup telepon dan mengakhiri percakapan dengan ibuku. Tetiba hatiku berdesir. Hawa dingin kembali berembus di belakang leherku. Kutarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Mengatur napasku sebelum kemudian berkata perlahan.

“Keluarlah Arumi. Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu. Kali ini, aku siap mendengarkan,”

Cermin di belakang punggungku memantulkan bayangan perempuan berbaju merah yang sedang tersenyum. Perempuan yang akhir-akhir ini kurasakan mencoba berkomunikasi denganku, namun selalu saja kuabaikan.

Perempuan cantik yang wajahnya menghiasi lukisan di ruang keluarga ibu kostku. Lukisan mendiang putri tunggalnya. Arumi.

Bagaimanapun aku menolaknya, takdir akan tetap membawaku pada panggilan jiwaku. Untuk menjembatani komunikasi antara makhluk dari dunia nyata dan dunia gaib. Seperti mendiang ayahku.

-selesai-

banner-BC#26

Iklan

4 pemikiran pada “[BeraniCerita #26] Terpanggil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s