Selepas Kau Pergi


“Kau pikir kau ini segalanya ya? Kau pikir aku tak bisa hidup tanpamu? Begitu? Sial! Aku tak butuh kau Radit…! Aku tak butuh kau!”

BRAK!

Kututup telepon dengan keras. Biar saja ia tahu kalau aku marah. Seenaknya saja. Dipikirnya aku ini siapa? Pengemis cinta? Cih! Kau belum tahu siapa aku Radit.

***

Namanya Raditya. Lelaki tampan bertubuh atletis mantan ketua OSIS SMA-ku. Sudah tiga tahun yang lalu kami lulus SMA. Dan aku telah bersamanya selama tak kurang dari lima tahun. Semua baik-baik saja. Hubungan kami terbilang awet dan langgeng. Kata orang kami pasangan ideal. Radit yang ketua OSIS tentu sepadan denganku, Rania, ketua Paskibra.

Seperti kisah cinta pada umumnya, hubungan cinta kami berawal dari benci. Perlahan rasa benci itu bermetamorfosa menjadi cinta. Dan seperti kata orang tua jaman dulu, batas antara cinta dan benci itu hanyalah sekat tipis yang kasat mata. Maka kami pun akhirnya saling mencintai. Hanya saja, yang tak diceritakan kemudian adalah ketika segalanya bermula dari rasa benci. Maka akhirnya berakhir pula dengan kebencian. Seperti saat ini, aku membencinya. Sangat membencinya.

Bagaimana mungkin aku bisa kecolongan? Ia menduakanku! Dengan adik kelasnya yang baru dikenalnya enam bulan yang lalu.

Dasar laki-laki!

 

Aku meraih ponselku dan mengetikkan sebuah pesan singkat.

Mel, malam ini nginep di rumahku ya? Aku butuh kamu.

Pesan terkirim.

 

Secepatnya ia membalas pesanku. Tentu saja, sahabat terbaikku itu selalu mengiyakan permintaanku. Dan sepanjang malam itu ia menjadi pendengar setiaku. Ah Melisa memang selalu dapat kuandalkan. Sahabat yang paling yahud. Tak ada yang dapat menggantikannya. Bahkan, ia seakan bisa bertelepati denganku. Belum juga aku utarakan masalahku, ia sudah tahu bahwa aku sedang bersedih.

Ya.. kalau boleh jujur, aku memang kehilangan Radit. Tapi aku tak mau ia mengetahuinya. Bisa besar kepala jika ia sampai mengetahuinya.

 

Dengan Melisa di sampingku, aku tak butuh Raditya. Pulang kampus nggak ada yang nganter? Ah.. Melisa mau mengantarku. Dan aku tinggal skripsi. Nggak perlu bolak balik ke kampus.Weekend pun ia rela menghabiskan waktu bersamaku. Meskipun beberapa kali ia bertengkar dengan Dion, kekasihnya, karena seringkali Mel membatalkan janjinya demi untuk menemaniku.

Ah Mel, kamu memang paling TOP.

 

Tiga minggu aku mencoba melupakan Radit. Dan tiga kali weekend kuhabiskan dengan Melisa. Kurasa, ini sudah lebih dari cukup. Maka kuputuskan untuk tidak menyusahkan Mel lagi. Kuraih ponsel dan kuketikkan pesan padanya.

Mel, makasih banyak untuk semuanya ya. Untuk semua pengorbananmu untukku. Aku menyesal kamu harus sering bertengkar dengan Dion gara-gara aku. Maaf ya Mel. Sabtu ini, aku nggak akan ngerepotin kamu lagi. Aku udah bisa mengatasinya kok. Luv you Mel.

Pesan terkirim.

 

Tak lama sebuah pesan masuk membuat wajahku berbinar-binar. Bukan dari Mel. Tapi dari seseorang yang spesial. Ah ya, ini juga alasanku bisa segera bangkit dari rasa sakit hatiku.

Ya Radit, inilah aku tanpamu. Kini aku sudah bisa melupakanmu. Tanpamu di sisiku, aku bisa bertahan. Kubalas pesan itu. Mengiyakan ajakannya untuk menemuiku. Segera aku bersiap. Ya, aku akan menghabiskan malam minggu pertamaku dengannya. Kencan pertamaku.

 

Ssstt… Jangan bilang Mel ya, kalau malam ini aku akan pergi dengan Dion.

-selesai-

Iklan

Satu pemikiran pada “Selepas Kau Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s