[BeraniCerita] #24 Vivienne dan Masa Lalunya


Aku memandang gadis bermata bulat dengan bulu mata lentik yang tengah berkemas itu. Seandainya aku bisa mencegahnya pergi.

Ya. Keputusan Vivienne sudah bulat. Untuk mencari jejak ayah kandungnya. Lelaki yang hanya meninggalkan seuntai kalung dengan liontin berbentuk garpu. Kalung yang diwariskan sang bunda kepadanya. Aku yang telah mengasuhnya selama belasan tahun setelah kepergian ibunya seakan tak rela jika ia meninggalkanku. Hati kecil ini tak kuasa melepasnya pergi. Segera setelah ia melangkahkan kaki keluar dari rumah kami, aku khawatir ia takkan pernah lagi menginjakkan kakinya untuk kembali.

Seakan mampu membaca pikiranku, Vivienne hanya mampu terdiam. Menahan sekuat tenaga bulir bening hangat yang mengumpul dalam kelopak matanya yang perlahan jatuh membasahi pipinya.

Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata.

Kupandangi punggung kemenakanku yang kini menginjak 22 tahun itu. Menyadari bahwa ia bukanlah anak kecil lagi. Sikap mandiri yang diwariskan sang bunda padanya melebur dengan sikap keras kepala sang ayah. Setidaknya hanya itu yang kuketahui tentang lelaki yang menghamili adik kandungku. Karena Claudia, ibunda Vivienne yang juga adik semata wayangku, tak pernah berterus terang tentang lelaki misterius ini. Ia hanya mengatakan bahwa lelaki ini memiliki tanda yang sama dengan kalung berliontin unik yang kini menghiasi leher jenjang Vivienne.

“Pergilah, Nak. Jika memang itu yang harus kau lakukan. Cepat atau lambat, kebenaran pasti akan kau temukan.” Pesanku padanya.

Sebulan setelah ia pergi meninggalkan rumah hijau kami, kuterima sepucuk surat darinya. Vivienne melaporkan kabar terakhir tentang pencarian masa lalunya. Hatiku kebat-kebit, antara takut, cemas dan juga penasaran pada saat yang bersamaan. Terburu, kubuka surat dalam genggamanku.

Dear Bibi Clara,

Dengan surat ini Vivienne ingin mengabarkan kabar bahagia. Pencarian Vivienne akan jati diri dan masa lalu Vie akhirnya terjawab sudah. Vie telah menemukan Ayah!

Tenggorokanku tercekat saat ia menyebutkan satu nama dalam suratnya.

… dan sepertinya ayah Vie adalah om Roger Jones, koki yang juga sahabat keluarga kita yang kini menetap di Belanda. Akhirnya Vie menemukannya, Bi. Garpu pada liontin itu melambangkan profesinya yang seorang koki..

Aku bergeming.  Seandainya saja sepuluh menit yang lalu tak ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kami, mungkin aku turut berbahagia dengan kabar yang dibawa oleh surat Vivienne ini, meskipun aku sedikit sangsi, mengingat Roger Jones yang kukenal adalah seorang gay.

Ah Vivienne, pulanglah Nak. Aku sudah menemukan ayahmu. Ia baru saja datang mengetuk pintu rumah kita. Sesuatu yang seharusnya dilakukannya 17 tahun yang lalu. Sebelum ibumu menghembuskan napasnya yang terakhir. Lelaki yang mencintai ibumu dan juga dicintai sepenuh hati olehnya. Lelaki yang sayangnya bernyali kecil untuk menunjukkan keseriusannya mencintai ibumu karena tahu hubungan mereka pasti akan ditentang.

Laki-laki utusannya baru saja menanyakan keberadaanmu, setelah sebelumnya menunjukkan foto tattoo di lengan kiri ayah kandungmu, bergambar sama dengan bentuk liontin yang kini menghiasi lehermu. 

***

Kupandangi surat wasiat di tangan kananku, yang ditulis oleh ayah kandung Vivienne. Sementara di tangan kiriku, foto Claudia tengah tersenyum dalam dekapan pria berkulit cokelat tua dengan lesung pipi yang sama dengan milik Vivienne.

Ayah kandungnya.

Aku masih ingat sekali kapan foto itu diambil. Musim panas tahun 1990. Saat ulang tahun Claudia yang ke 15 tahun.  Karena setahun kemudian, ia melahirkan bayi perempuan yang kemudian diberinya nama Vivienne. Vivienne yang berarti kehidupan.

Ya, Claudia bersikeras tetap mempertahankan bayi itu dan menjaganya sepenuh hati. Meskipun seluruh dunia memusuhinya.

Kini, segala pertanyaan dalam benakku terjawab sudah. Mengapa aku selalu menemukan kedua bola mata laki-laki itu terlihat berkaca-kaca setelah ia membersihkan makam Claudia. Aku tak pernah tahu, bahwa ia sangat mencintai adik semata wayangku. Dan sekaligus menjelaskan mengapa ia tidak pernah menikahi siapapun sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Dua minggu yang lalu. Tentu saja semata karena ia mencintai Claudia. Seumur hidupnya.

Tattoo garpu yang ada dalam liontin itu ternyata melambangkan inisial nama sang ayah, sekaligus juga menggambarkan profesi ayah kandung Vivienne. Bukan sebagai koki, melainkan sebagai pencari jerami.

Lelaki yang telah meninggalkan surat wasiat untuk Vivienne itu adalah Paman Edward, lelaki yang telah puluhan tahun mengabdikan diri menjadi pengurus kuda keluarga kami. Yang menghembuskan napasnya yang terakhir pada usianya yang ke 69 tahun.

banner-BC#24

love_prison-wide

Catatan:

Lama nggak nulis FF, jadinya gondrong.. :mrgreen:

Setelah menggalau beberapa kali, saya putuskan menampilkan versi gondrongnya saja.. 😀

Sekian dan terima kiriman black forest.. :mrgreen: 😆

Iklan

17 pemikiran pada “[BeraniCerita] #24 Vivienne dan Masa Lalunya

      1. Mesti pakai gunting pagar nih.. hehe.
        Ngomong-ngomong soal gondrong, ‘sekuel’ FF ku di prompt 22 bahkan udah kutarik, Rin. Nggak puas karena dengan cuma 300 kata, banyak yang belum tersampaikan.
        kebiasaan nyerocos panjang. hahahaha

      2. Iya. Akhirnya saya terpikir, ah biar sajahlah sesekali membuat cerita gondrong. Kepikiran juga mau ‘mengembalikan’ ke versi yang aslinya aja. Membiarkan untuk kali ini ceritanya amat sangat gondrong. Hehehe.. 😀

  1. Kok jadi pada ngomongin “gondrong”, sih? Pada minta gunting segala! Makanya gue bingung. Ayah kandungnya Vivienne bukan tukang pangkas rambut, kan? <== lagian motong blackforest kan pake pisau, gak pake gunting? <=== tambah bingung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s