[BeraniCerita #23] Adopsi[bak] Masa Lalu


Tania mengusap bulir bening yang membasahi pipinya. Menumpahkan segala perasaan yang selama ini menghimpit dan membekukan hatinya. Selama lima tahun terakhir, ia belajar menerima keadaannya baik fisik maupun psikologis. Bertahun-tahun ia mencoba melarikan diri dari kenyataan, bahwa tak akan pernah ada seorang calon bayi pun yang akan menghuni rahimnya. Dan perlahan, ia mulai bisa menerima bahwa keputusan pengangkatan rahim itu semata demi kesehatan dan keselamatan jiwanya.

Rio membisu di depan kamar bernuansa jingga itu. Bukan rahasia lagi kalau Tania, istri tercintanya senang menghabiskan waktu di kamar ini. Kamar yang sejatinya akan menjadi ruang tumbuh dan berkembang bagi buah hati mereka. Dan setelah pengangkatan rahim istrinya beberapa tahun silam, ia pun menguburkan harapannya untuk memiliki keturunan.

Saat menikahi Tania, Rio telah berjanji pada almarhum mertuanya -dan terlebih pada dirinya sendiri- untuk tidak akan pernah membagi cintanya pada perempuan manapun. Dan menikahi perempuan lain untuk meneruskan garis keturunan, tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya.

Perempuan berambut ikal sebahu itu menatap Rio penuh arti. Memberikan sinyal agar lelaki itu mendekat ke arahnya, lalu menyodorkan sebuah album berisi beberapa foto bayi ke hadapannya.

“Kamu yakin?” tanyanya pada perempuan bermata bundar itu. Tania mengangguk mantap. Senyum tersungging di bibirnya.

***

Pesan singkat Tania sore itu membakar semangat Rio. Ia segera menyelesaikan urusan dan pekerjaannya lalu bergegas menuju tempat parkir mobilnya. Tak kurang dari dua puluh menit Rio telah sampai di lokasi. Dikeluarkannya ponsel dari saku celana panjangnya untuk melihat pesan singkat dari Tania, memastikan bahwa ia tidak salah alamat.

Kita langsung ketemu di sana aja ya, Mas? Jam 5? Alamatnya: Jl. Mawar No. 56. Aku diantar mama. Oke? Tulis Tania.

 

TOK.. TOK.. TOK..

Pintu diketuknya perlahan. Seorang perempuan separuh baya membukakan pintu.

“Lho, Bunda Haliya?”

“Rio? Kamu kok …”

Rio menghambur memeluk Bunda Haliya yang sudah seperti pengganti orang tua baginya, “Waktu Rio ke ‘Rumah Harapan’ di Tenis Meja, tempatnya udah kosong. Rio nyari Bunda ke mana-mana. Kenapa Bunda nggak ngabarin Rio, sih?”

“Sudah, Rio. Bunda sudah mencoba menghubungimu ke kantor lamamu. Tapi mereka bilang kamu pindah ke Kalimantan. Apa kabar kamu sekarang, Nak? Kamu sudah menikah? Anak Bunda sudah sukses sekarang ya?!” Bunda Haliya mengusap sayang kepala Rio. Belum sempat keduanya melepas rindu bertahun silam yang tak terbendung lagi, pintu kembali diketuk perlahan.

Tania dan ibunya, Sekar, tersenyum ramah pada Bunda Haliya, yang tak menduga sama sekali kedatangan perempuan setengah baya di samping Tania. Keduanya saling berpandangan. Meski tiga puluh tahun mereka tak berjumpa, namun keduanya masih sama-sama saling mengenali wajah satu sama lain.

“I-bu Ha-li-ya..?”

“Sekar..?”

“Lho kok Mama kenal Bunda Haliya?” Kali ini giliran Tania yang kebingungan. Rio berdiri dari kursinya, berjalan mendekat pada ketiga perempuan yang masih terpaku di depan pintu berwarna merah menyala itu.

“Mama..” Rio mendekati Sekar dan mencium hormat tangannya. Sesaat kemudian merangkul pundak Tania dan mengenalkannya pada Bunda Haliya, “Bunda, kenalin. Ini Tania istri Rio. Dan ini mamanya Tania.”

Bunda Haliya bergeming, hanya mampu menatap Rio dan Sekar bergantian. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya membisu tak kuasa mengatakan kebenaran.

Hati kecilnya berkata lirih.

Haruskah kukatakan semuanya pada mereka? Kalau Rio yang dulunya anak asuhku ini adalah anak yang sama yang tiga puluh tiga tahun lalu diserahkan ibu kandungnya sendiri karena sang ayah tidak mau bertanggung jawab? Ya, perempuan yang sama yang kini mengantarkan putrinya Tania untuk mengadopsi anak dari Panti Asuhan ini.

 

McClelland_Orphanage

banner-BC#23

Iklan

13 pemikiran pada “[BeraniCerita #23] Adopsi[bak] Masa Lalu

  1. hmm… si Rio datang sendiri… lalu – tiba-tiba – Tania dan ibunya datang juga. agak aneh ‘adegannya’ ini, neh..
    Lalu, jika Rio adalah anak asuh dari Bunda Haliya, apakah dia nggak mengenali panti asuhan tempat dia dibesarkan?
    🙂

    1. Jadi ini ceritanya, Panti Asuhannya pindah. Yang lama digusur, Rio lost contact sama Bu Haliya.

      Kalau nggak pindah kan dia tahu alamatnya.. 😀

      Jadi si Rio janjian ama Tania ketemu di Panti Asuhan aja. Gitu.

      Maksa ya? 😆

  2. Errr…Sekar ga mengenali Rio ya? Pasti Rio somehow mirip si ayah atw dirinya kan ya, apa ga curiga dikiiiit aja gituh kalo Rio adalah anak yg dulu dibuangnya *sinetron bgt* hihihihi

    Idenya keren mba Bee 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s