[BeraniCerita #21] Kolak Pisang


Kupandangi semangkuk kolak pisang yang terhidang di atas meja.

kolak
[BeraniCerita #21] Kolak Pisang

Sekelebat bayangan lelaki bermata elang terlintas di benakku. Lelaki yang selalu membuatku tergelak dengan candaan gokilnya sekaligus lelaki yang membuat darahku mendidih penuh kemarahan saat mengingat namanya.

Damar.

***

“Damar dan aku bagaikan semangkuk kolak pisang. Aku yang keras seperti ubi yang belum direbus dan Damar yang bagaikan pisang manis. Tak hanya senyumnya. Ucapannya pun manis. Dan kami tercampur sempurna dalam larutan gula jawa dan santan yang direbus dalam panci kasih sayang.”

Damar tergelak.

“Ini apa-apaan sih Na?” bahunya masih bergerak naik turun saat mengangsurkan selembar kertas ke hadapanku. Aku cemberut. Ia baru saja membaca puisi teromantis yang pernah kubuatkan untuknya.

Aku menarik napas panjang. Berusaha mati-matian tidak marah padanya. Kalau aku sudah marah maka …

“KAMU SELALU BEGITU…! Kamu nggak menghargai aku!”

Aku berlari keluar dari tenda darurat dan meninggalkan Damar yang terlihat bingung dengan sikapku. Kutunggu ia mendatangiku. Meminta maaf atas sikapnya yang menyinggungku.

Ya. Aku memang pujangga gagal. Aku nggak pernah bisa bikin kalimat puitis. Aku menangis tersedu. Bahkan Damar tidak menyusulku untuk menghibur dan menghapus air mataku.

***

Kalau kalian tanya seperti apa hubunganku dengan Nadia, maka tak akan ada yang bisa menggambarkannya dengan lebih sempurna selain kolak pisang. Kenapa kolak pisang? Karena kolak pisang itu menggambarkan aku dan Nadia. Kami berbeda karakter dan latar belakang. Tapi sama-sama suka kegiatan sosial. Dua minggu kami saling mengenal. Tapi kebersamaan setengah bulan itu cukup mendekatkan kami.

Kolak pisang adalah makanan yang mempertemukan aku dengannya. Hari itu, kami sama-sama sedang menunggu maghrib di sebuah masjid di pinggiran kota Bandung. Aku dan Nadia sama-sama relawan banjir yang terpanggil untuk menolong saudara-saudara kami yang terkena musibah di Kecamatan Bale Endah.

Kala itu, puasa hari ke tiga. Dapur umum menyediakan kolak pisang sebagai takjil saat berbuka puasa. Nadia mengangsurkan semangkuk kolak pisang merata ke seluruh relawan. Semuanya. Termasuk aku. Setelahnya, ia menuangkan kolak pada mangkuknya sendiri, lalu duduk di dekatku. Jadi aku bisa melirik sekilas kolak dalam mangkuknya. Hanya ada ubi dalam kolaknya. Tak ada pisang.

“Kehabisan pisangnya? Nih ambil saja punyaku.” Tawarku. Tak kusangka Nadia mendelik. Aku merasa salah bicara. Cepat-cepat kuralat ucapanku, “Eh maksudnya, ini kolaknya tukar saja dengan punyaku. Di sini masih ada pisangnya. Lengkap. Kan punyamu cuma ada ubinya.”

Dan Nadia pun tertawa.

“Nggak.. Nggak.. Aku nggak mau pisangmu. Eh aku nggak mau kolakmu. Aku memang suka yang seperti ini. Yang ada ubinya saja. Duuh.. Kolak ini bikin persepsi jadi beda ya?!” Ia masih terkikik,  “Oya, namaku Nadia.” Gadis itu mengangsurkan tangannya. Kubalas dengan jabat tangan erat.

“Aku Damar,” tegasku.

Sejak itu kami menjadi dekat. Bagaikan ubi belum diolah, Nadia kaku dan keras. Sementara aku, dianggap lembek kaya pisang terlalu matang.

***

“Kamu tuh kaya pisang terlalu mateng! Manis sih, cuma… terlalu banyak yang suka. Terlalu banyak yang mencari si pisang. Nggak cuma ibu-ibu, bahkan anak balita juga mencintai pisang,” Nadia membuka pembicaraan saat mereka tengah menikmati semangkuk kolak pisang. Hari itu tepat dua minggu kebersamaan keduanya.

“Bagus kan?” jawab Damar santai.

“Sayangnya aku nggak terlalu suka pisang.”

“Emangnya kenapa?”

“Rasanya aneh.”

“Tapi bagus untuk kesehatan. Bagus juga untuk pencernaan.”

“Kan masih ada pepaya?”

“Iya juga sih. Tapi nggak ada pepaya di dalam kolak!”

Dan Nadia langsung terdiam, mencoba mencerna maksud ucapan Damar. Setelah terdiam beberapa saat dan tetap tak berhasil menemukan makna khusus dalam kalimat lelaki itu, ia memberanikan diri bertanya, “Apa hubungannya dengan kolak?”

“Karena aku ingin kita bersama-sama mengisi hangatnya panci cinta dengan perpaduan ubi dan pisang. Bersama kita berkolaborasi, bersatu dalam larutan gula merah dan santan,” canda Damar menggoda Nadia. Di kampus, Damar memang dikenal sebagai Raja Gombal, tapi Nadia tentu tidak mengetahuinya. Gadis itu sedikit tersipu.

Nadia mengernyitkan kening. Damar ini ngomongin apaan sih? Ribet amat! Batinnya. Atau jangan-jangan dia mau memproklamirkan cinta dan menjadikan aku kekasihnya? Pikiran ge er merasukinya. Pasti begitu! Ya, Damar pasti mau mengungkapkan cinta!

“Maksudmu?” Nadia pura-pura nggak ngerti. Senyum simpul menghiasi bibir mungilnya. Belum sempat Damar menjawab, seseorang memanggilnya.

“Damar! Nih ada yang nyari,” panggil Jaka, relawan dari UPI. Kedua insan berlainan jenis itu melirik ke asal suara. Tampak seorang gadis berjilbab biru tersenyum ke arah Damar. Lesung pipi di sebelah kanan menambah manis senyumnya. Tetiba perasaan Nadia tidak tenang, perasaan cemburu memenuhi pikirannya.

“Najwa! Kamu sampai nyusul aku ke sini?! Kejutan yang menyenangkan. Oya kenalin. Ini Nadia. Dia juga relawan di sini.” Najwa mengulurkan tangan pada Nadia, yang tetiba merasa tangannya kaku dan sedingin es. Senyum menghilang dari bibirnya.

“Najwa,” ia tersenyum.

“Nadia.”

“Baru aja aku ngajak Nadia kolaborasi buat bikin kolak lho,” Damar membuka suara.

“Oya?”

“Nadia juga suka kegiatan sosial, kok. Kayanya dia nggak bakalan keberatan deh buat ngebantuin bikin kolak pisang untuk seratus porsi. Apalagi buat kegiatan amal. Ya kan Nad?”

“Eh.. aku …”

“Ayolah, bantuin ya? Kita mau ngirim seratus porsi kolak untuk anak-anak panti asuhan. Ayolah! Najwa nggak bisa nanganin sendiri,” Nadia gamang. Apalagi yang meminta langsung Damar, orang yang membuatnya jatuh hati, “Apalagi Najwa juga harus konsentrasi mempersiapkan pernikahan kami dua bulan lagi.” Kalimat Damar membuatnya tercekat.

Jadi Najwa ini tunangannya? Great! Cowok pisang! Di mana-mana keliaran. Dasar murahan! Nadia memaki-maki dalam hati.

***

Aku benar-benar tak menyangka. Lututku lemas sekali. Masih terngiang-ngiang ucapan Damar beberapa menit yang lalu.

“..aku ingin kita bersama-sama mengisi hangatnya panci cinta dengan perpaduan ubi dan pisang. Bersama kita berkolaborasi, bersatu dalam larutan gula merah dan santan.”

Dasar gombal!

Sungguh. Aku benar-benar ingin merebus gula merah dan santan dalam kuali besar, lalu mendorong Damar masuk ke dalamnya!

banner-BC#21

Iklan

14 pemikiran pada “[BeraniCerita #21] Kolak Pisang

  1. ahahahaha… kocak banget… bener bener kocak luar biasa…. aku heran kok bisa ada ide seperti ini… kalau sampai aku kejadian punya memori romantis kolak pisang separah ini, bakal merana aku di tiap bulan ramadhan,,,, hihihi.. mantap banget ceritanya…
    gombalannya juga luar biasa… hmm…
    jadi nerka nerka siapa sih yang sebenernya hobi nggombal… karakter ceritanya atau penulisnyaaa? hihihihihi
    Peace…. #kaburAh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s