[Prompt #21]: Cintaku Mati


“Maafkan aku ya, Dik?” Mas Bambang berlutut di hadapanku. Mengakui semua perbuatannya. Ia selingkuh. Menjalin hubungan penuh nista dengan seorang anak buahnya. Seakan tak cukup menyiksaku dengan pengkhianatan mereka, kini perempuan itu mengandung darah daging suamiku!

Aku masuk ke dalam kamar, membenamkan wajah di atas bantal. Berusaha keras menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Ingin rasanya menjerit. Mengucap segala sumpah serapah yang sempat terlintas dalam pikiranku. Menyebut segala nama hewan yang menghuni kebun binatang sebagai pengganti sebutan baginya. Namun nyatanya aku tak sanggup. Dan yang bisa kulakukan hanya membenamkan wajah jauh lebih dalam sembari menahan segala rasa benci dan sakit hati yang menggunung padanya.

Menangis.

***

Sekarang, aku tak lagi bisa menatap mas Bambang seperti dulu. Setiap  ia mendekapku, aku membayangkannya sedang mendekap perempuan itu. Setiap menatapnya, bayangan perempuan itu mengikuti. Meski hatiku belum bisa berdamai dengan keadaan, kuizinkan priaku menikahinya. Wanita kedua itu. Apapun yang kukatakan, takkan mampu lagi mencegah suamiku menikahinya. Perempuan itu sudah terlalu dalam berada dalam pikiran suamiku. Taringnya sudah menancap ke dalam pori-pori. Racun cintanya telah menyebar ke seluruh pembuluh darah suamiku. Aku tak bisa melakukan apa-apa kecuali menerima pernikahan ini.

Dan kini, di sinilah aku berada. Menyaksikan pernikahan laki-laki yang pernah kusebut belahan jiwaku, dengan perempuan asing yang tak pernah kukenal sebelumnya. Perempuan yang kini berbagi ruang denganku. Di hati lelakiku.

Aku harus bisa menerima, bahwa kami berdua mencintai pria yang sama. Aku tak boleh egois. Semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Termasuk anak dan suami. Jika memang harus begini keadaannya, maka aku harus bisa ikhlas. Untuk menjadi orang pertama yang bahagia atas pernikahan ini.

***

Seandainya cerita hanya berakhir di sana, maka kami akan hidup bersama dan bahagia untuk selamanya.

Tapi yang terjadi…

 

Delapan belas menit yang lalu aku kehilangan kendali. Aku melabrak perempuan kedua suamiku. Aku bertengkar dengannya saat suamiku membawanya ke rumah kami. Kutampar pipi bertahi lalat dengan blush on pink tersapu di kedua pipinya. Tapi suamiku justru menepis tanganku. Ia membela perempuan itu!

Perempuan yang sebelumnya kusebut sebagai ‘perempuan perusak rumah tangga orang’. Ya.. aku lepas kendali. Aku kehilangan kesabaranku. Dan yang membuatku lebih sakit hati, pria yang kunikahi sebelas tahun yang lalu justru membela perempuan itu. Bukan aku!

Aku menangis dan masuk ke ruang tengah, menangkap kilatan pisau yang tergeletak di atas meja. Kalap, kuserang mereka dengan kursi makan yang kupukulkan pada keduanya. Mengikat tangan, kaki dan menyumpal mulut mereka dengan lakban. Kalian ingin menyatukan hati? Tak perlu menunggu penghulu. Aku akan melakukannya untuk kalian!

Perempuan itu menggeliat-geliat menatap sebilah pisau di tanganku. Jeritannya teredam, karena aku merekatkan lakban di mulutnya. Bulir bening itu menetes perlahan di pipinya. Matanya seakan memohon pengampunan.

Apakah aku harus mengampuninya?

TIDAK !

***

Kututup lembaran narasi di hadapanku. Menyerahkannya pada produser yang menawari peran utama film ‘DARA(H)’ padaku.

“Terima kasih untuk kesempatannya. Tapi saya nggak bisa memerankan tokoh Rani. Maaf..” tolakku.

Keringat dingin membasahi keningku.

“Ah.. Mana mungkin aku melakukannya? Memerankan tokoh Rani sama artinya merekonstruksi kejadian belasan tahun lalu, sebelum aku sepopuler sekarang. Saat aku menghabisi Roy dan wanita simpanannya.”

ea66ccf25ecbb7d94a0dcd9fb8ecbbdf-dpk83k
sumber: deviantart

-selesai-

Prompt ini untuk menjawab tantangan MFF tentang Cinta Matiku.

Iklan

75 pemikiran pada “[Prompt #21]: Cintaku Mati

  1. WAAAHHH rinii..twistnya double kerennn.. pertama aku gak nyangka ini cuma audisi..dan ketika aku dah senyum2 krn ternyata ini adegan audisi film eh..ternyata si pemeran lagi ngalamin deja vu… ide yang keren

      1. Heuheu.. setiap orang keren dengan motivasinya untuk berkarya. Yan membedakan hasilnya ada yg bagus ada yg enggak, kayak punyaku. Hahaha

  2. Kereen, Mbak Rinii…

    Twistnya nampol….

    Ada sedikit saran, mbak..
    Aku menangkap usia si Aku agak ketuaan ya, dari kalimat “…pria yang kunikahi tujuh belas tahun yang lalu justru membela perempuan itu” Asumsikan si Aku menikah usia 23, pas kejadian usianya 40 tahun, lalu dari kalimat, “Memerankan tokoh Rani sama artinya merekonstruksi kejadian belasan tahun lalu, sebelum aku sepopuler sekarang”, berarti usianya udah 50an yah..

    Mungkin usia pernikahannya jangan terlalu lama, Mbak… Lagian kasihan si Aku, masa baru populer di usia 50an… 😦

    Komenku gak mutu banget yak, maap, Mbak.. 🙂

    Selebihnya keren, layak menaaang…

  3. cerita di bagian awal itu naskah ya. kalau naskah bukannya harus ada tanda bahwa itu kutipan? misalnya kalau berita koran ada tanda petiknya.
    ini aku beneran nanya ya, aku belum tahu soalnya.

  4. Menarik! Aku cukup terkejut mendapati twist di akhir yang ternyata cerita sebelumnya cuma naskah drama. Tapiii, sepertinya itu bukan naskah drama, melainkan sinopsis. Barusan gugling contoh naskah/skenario (lihat : http://maribelajar.forumid.net/t42-contoh-skenario-film-pendek ).
    Lalu pada ‘sinopsis’ itu aku banyak menemukan pengulangan-pengulangan yang seperti ingin menegaskan perasaan tokoh aku. Misalnya : “… Ia membela perempuan itu!

    Perempuan yang sebelumnya kusebut sebagai ‘perempuan perusak rumah tangga orang’. Ya.. aku lepas kendali. Aku kehilangan kesabaranku. Dan yang membuatku lebih sakit hati, pria yang kunikahi sebelas tahun yang lalu justru membela perempuan itu. Bukan aku!”
    Pada paragraf ini ada berkali-kali penegasan. perempuan itu…perempuan yang sebelumnya kusebut… lalu diulang lagi di …justru membela perempuan itu…”

    Pengulangan ini kadang membantu pembaca meresapi perasaan tokoh, tapi kadang justru -maaf- membosankan.

    Jika boleh merekonstruksi mungkin kalimatnya akan jadi lebih ringkas. Misalnya : “Lelaki yang kunikahi selama sebelas tahun justru membela perempuan itu, perempuan perusak rumah tanggaku! Hatiku sakit! Sakit!”

    Dan ada yang aneh pada kalimat dalam paragraf berikutnya. “… Kalian ingin menyatukan hati? Tak perlu menunggu penghulu. Aku akan melakukannya untuk kalian!”

    Untuk apa tokoh Aku mengucapkan kalimat itu (atau membayangkannya)? Bukankah perempuan itu dan suaminya sudah sah menikah?

    Anyway…this is a good story. I like it! 🙂

  5. Mak rinibee, apa ini yang disebut cerita dengan alur ala chicken soup, ya? Asyik juga bacanya, tanpa dialog dan memang ceritanya juga bagus sih. Salut. Selamat udah menang dalam lomba FF-nya Mel Puspita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s