SC apa Normal? Normal ajahlah…! :)


Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kabar kalau sahabat saya hamil anak ke tiga. Usia anak sulungnya lebih kecil dari anak sulung saya. Dan anak keduanya, beda seminggu lebih dulu dari anak kedua saya. Jadi kalau dihitung-hitung, maka sebelum si kakak bisa berdiri tegak, teman saya ini sudah hamil anak kedua. Rajin ya? *eh? :mrgreen:

Beginilah celetuknya saat kami chatting di whatsapp.

“Buruan neng, loe (hamil) juga gih. Jadi anak-anak kita ntar seumuran.” Tulisnya dengan semangat.

Saya cuma bisa nyengir. Duh.. dikira hamil itu janjian yak? πŸ˜›

Tak lama dia menulis lagi.

“Loe pan (melahirkan) normal, enaak tuh!”

Benarkah demikian?

***

Iya. Anak saya dua. Umurnya 4 tahun dan 2 tahun. Alhamdulillah keduanya lahir dengan selamat dan lahir spontan, alias lahiran secara normal. Cukup ngeden. Nggak pakai vakum ataupun caesar.

Saya tidak tahu persis bagaimana dan seperti apa sebenarnya melahirkan dengan cara operasi selain ‘mendengar’ cerita para sahabat tentang kerabatnya yang melahirkan dengan cara caesar maupun normal.

“Mendingan normal, sakitnya sebentar. Ntar pas anaknya udah keluar, langsung lupa sakitnya.” (Lala, sahabat kuliah saya)

“Mbakyu-ku, Jo. Sampe saiki sik loro. Jarene entuk obat -penghilang rasa sakit- sing generik.” (Kakakku Jo -pangggilan kesayangannya pada saya-. Sampai sekarang masih sakit. Katanya dapat obat penghilang rasa sakit yang generik). (Dechi Jo, sahabat sesama pencinta batagor)

Nah loh?!

Emang generik beda gitu khasiat obatnya? 😐

“Aku udah nunggu yo. Udah prepare buat lahiran normal. Tapi pembukaan nggak nambah, jadilah harus operasi.”Β (Ratri, sahabat seperjuangan saat kuliah)

“Saya kepaksa operasi, Mbak. Soalnya air ketubannya udah ngerembes.”Β (subyek minta namanya disamarkan *halaagh :mrgreen:)

“Aku caesar, Bee. Kata dokter air ketubannya keruh.”Β (adalaah pokoknya! πŸ˜€

“Posisi bayi sungsang. Dokter bilang dua jam nggak ada perubahan langsung operasi caesar.Β Tapi alhamdulillah.. Berkat doa seluruh keluarga besar, bayinya mau muter. Jadi bisa lahiran dengan normal.”Β (istrinya sahabat suami saya, sayangnya saya lupa namanya :oops:)

“Aku caesar ae. Takut sakit.”Β (onok pokok’e)

“Aku caesar. Kondisiku nggak memungkinkan. Karena saya punya penyakit wasir.” (salah satu subyek yang juga ingin namanya nggak disebut dalam postingan ini)

“Aku normal aja. Pengen ngerasain jadi perempuan sesungguhnya.”Β (sopo yo sing ngomong iki?! :P)

dan sebagainya… πŸ™‚

Intinya. Semua punya pertimbangan masing-masing tentang pilihannya untuk melahirkan. Bagaimana dengan saya?

Jujur saja. Saya takut waktu menghadapi persalinan. Apalagi persalinan pertama. Tapi saya punya tipsnya. Disimak ya?

TIPS MENGHADAPI PERSALINAN. KALAU BISA MAH PENGENNYA PERSALINAN NORMAL YA.. (judul apa ini? :P)

Oya, perlu diingat dulu. Semua tips ini kan berdasarkan pengalaman saya. Jadi kalian akan dengar dari versi saya ya? Nggak pa pa kan?

1. Jangan lihat video orang melahirkan

Dulu, waktu saya masih bekerja. Belum hamil apalagi menikah, ada seorang temen yang sok tahu men-share video tentang melahirkan. Duh.. saya nggak bakalan melihat. Entahlah. Saya yang penakut atau gimana. Pokoknya sesuatu yang saya nggak yakin apa dan bagaimana reaksi saya setelah melihatnya, maka saya hindari.

Saya nggak mau memberikan memori negatif di kepala saya tentang sebuah proses melahirkan. Karena terkadang visualisasi yang dilihat mata seringkali masuk ke dalam otak dan membentuk sendiri persepsinya. Padahal bisa jadi menurut tubuh saya tidak begitu.

*mbulet? πŸ˜€

Ya sudah, dilanjut ke tips berikutnya.

2. Jangan denger cerita tentang detil orang melahirkan

Waktu saya hamil mendekati 7 bulan, seorang sahabat yang hamil 5 bulan cerita kalau kakaknya baru saja melahirkan. Lalu dia -emang dasarnya ember sih πŸ™„ :-?- cerita bla bla bla.. Tentang pengalaman si kakak ipar yang melahirkan tadi.

Langsung saya cut.

“Stop.. stop.. stop…! Udah jangan cerita ah.”

Mungkin saya cemen ya? Tapi biar sajalah. Saya hanya ingin ‘merasakan’ proses melahirkan dengan cara saya sendiri. Bukan dicekoki dengan kalimat-kalimat yang efeknya mungkin hampir sama dengan video melahirkan tadi. Jiperr dan takut duluan bahkan sebelum memulai peperangan.

Oke dua tips di atas bisa saja berbeda antara diri saya dan anda. Tapi silakan anda sesuaikan dengan kepribadian masing-masing ya.. πŸ™‚

3. Berkonsultasi dengan dokter atau bidan yang pro melahirkan normal

Bukan saya mengatakan bahwa dokter itu pro caesar ya. Tapi kebanyakan dokter nggak nolak kalo pasiennya di-caesar. *iki opo? :D*. Jadi selama ini saya konsultasi masalah kesehatan ibu dan bayi di dalam kandungan ke dokter spesialis, tapi saat melahirkannya justru memilih dibantu bidan. πŸ˜† *emak irit :D*

Terkesan curang?

Sebenarnya nggak curang. Masalahnya pas mau lahirannya, kedua anak saya selalu waktunya mepet dan ujug-ujungnya saya melahirkan di bidan deket rumah. Nggak usah nunggu lama pembukaannya, sampai di sana anak saya langsung lahir.. πŸ˜€

Itu namanya rezeki.. πŸ™‚

4. Pilih bidan / dokter yang membuat anda nyaman

Jangan tanya orang lain ‘Enaknya lahiran sama dokter siapa dan di mana, nih?’ Tapi tanyakan hati anda sendiri. Mau lahiran di mana dan dibantu dokter siapa?

Kalau saya pribadi. Mau melahirkan itu seperti nyari jodoh. Pas-pasan di hati. Lihat rumah sakit / kliniknya, nyaman gak? Ngobrol sama dokter / bidannya, enak gak? Dan keterikatan emosionalnya.

Jujur aja, dokter yang selalu saya sambangi tiap bulan waktu periksa kehamilan itu dokter terbaik se-Jawa Barat. Dokter pinter, dokter perempuan yang banyak dicari orang. Sampai-sampai saya harus ngantri lamaa bangeet buat diperiksa. Tapi hati kecil saya kurang sreg waktu ditanyakan apakah mau lahiran di sana. Okelah. Saya periksa ke dia, dan lahiran mungkin sama dia juga.

Hingga akhirnya kakak ipar saya mengenalkan dengan seorang bidan langganan di klinik Zakaria. Ketemu si teteh bidannya saat saya konsultasi mau melahirkan (udah usia kehamilan 9 bulan! :mrgreen:). Mendengar ucapannya membuat saya merasa adem. Gimana nggak adem, bidan ini memberikan saya kekuatan. Kalimatnya sederhana, katanya:

“Teh, semua perempuan itu pasti bisa melahirkan secara normal. Banyakin jalan aja dulu. Banyakin makan makanan bergizi supaya fisiknya kuat. Kalau belum waktunya lahir ya ditunggu aja. Karena memang belum waktunya diutus (oleh Allah SWT). Kalau sudah diutus (Allah SWT) pasti lahir.”

Kalimat itulah yang saya ingat sampai sekarang. Bahwa siapapun orangnya, selama dia perempuan, pasti bisa melahirkan normal. Insya Allah. Aamiin

5. Berinteraksi dengan orang-orang yang punya pengalaman melahirkan normal dan bahagia

Lalu ambil ilmunya…!

Alhamdulillah, saya ketemu sama istri sahabat suami saat saya hamil 7 bulan, dan si teteh itu baru saja melahirkan. Dia memberikan saya cerita tentang posisi anaknya yang sungsang dan dalam 2 jam langsung muter (atas bantuan Allah SWT). Dia memberikan saya pesan lain yang membuat saya masih ingat sampai sekarang.

“Pokoknya, kita sugesti diri sendiri saja. Kalau melahirkan itu nggak sakit. Insya Allah, nggak sakit.”

Tuuh! Adem kan dengernya.

Mendingan saya dengerin yang adem-adem gini daripada cerita yang bikin mental saya down saat persalinan. Hehehe

6. Baca informasi sebanyak-banyaknya tentang proses kelahiran normal

Kenali gejalanya. Seperti apakah kontraksi? Yang bagaimana kontraksi palsu dan bagaimana membedakannya dengan kontraksi beneran? Ciri-ciri mau melahirkan itu seperti apa? Persiapan yang harus dilakukan.

Dan yang paling penting juga..

7. Minta dukungan orang terdekat yang juga pro melahirkanΒ normal!

Minta suami baca artikel tentang tanda-tanda mau melahirkan, minta suami ikut ngepak baju persiapan persalinan (supaya tahu kalau ditanya ini itu di mana tempatnya), survey tempat terdekat menuju rumah sakit / klinik, ajari juga cara menghitung kontraksi dan yang tak kalah penting, minta suami tetap tenang saat mengantar ibu menuju tempat persalinan.

Itu penting banget. Kalau dua-duanya gugup malah bahaya kan?

Nah semua cara di atas sudah dilakukan? Sekarang waktunya berserah pada Sang Pemilik Hidup. Manusia cuma bisa berencana, tapi Allah SWT yang menentukan segalanya.

Banyak-banyak berdoa saja. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kalau ada faktor khusus yang nggak bisa dihindari dan mewajibkan untuk operasi caesar, mungkin itu memang jalan yang terbaik yang harus dilakukan.

Oke prend? Tetap semangat!

Kalau ditanya mau lahiran SC apa normal? Jawablah dengan lantang: NORMAL Β AJAHLAH..!

Karena itu juga doa loh.. πŸ˜‰

3 syifa
Percayalah. Semua rasa sakit kontraksi akan hilang saat melihat wajah ini dalam pelukan.. πŸ™‚
Iklan

23 pemikiran pada “SC apa Normal? Normal ajahlah…! :)

  1. haha, aku malah ngerasain sakit dua2ny, pembukaan en sesar (waktu bukaan 2 aku akhirnya diputus bwt disesar aja). karena itu aku kuagum banget sama ibu2 yg bisa ngelahirin normal πŸ˜€

    1. Mba Na sama seperti temen saya. Dia juga udah prepare lahiran normal tapi terpaksa harus caesar.

      Mudah-mudahan anak berikutnya bisa normal ya.. πŸ™‚

      aamiin

  2. Setuju. Selama masih bisa melahirkan normal, pilih yang normal aja.

    Yang saya yakini, anak yang lahir normal daya tahan tubuhnya lebih baik daripada yang dilahirkan secara caesar. Karena pada saat proses kelahiran normal ada dorongan tenaga dari si anak yang menguatkan organ-organnya.

    Saya buat penelitian sendiri di rumah. Anak saya pertama lahir normal, yang kedua lahir caesar karena alasan ketubannya pecah duluan. Alhamdulillah mereka berdua sehat.

    Nah, saya catat perkembangan mereka berdua di setiap tahunnya. Kami sediakan semacam kartu sehat di rumah. Sakit sekecil apapun kami catat. Hasilnya menunjukkan, anak kedua mudah sekali terserang demam. Kalau ada pergantian cuaca atau lagi musim sakit flu, anak yang kedua frekuensinya lebih sering dibanding anak pertama.

    Makanya dalam asupan pemberian vitamin dan protein, anak kedua saya jaga betul agar selalu tercukupi kebutuhannya.
    Dari catatan perkembangan berat badan sejalan dengan pertumbuhan usianya, anak pertama lebih baik tren-nya.

    1. Wah lengkap sekali ulasannya pak Iwan. Matur nuwun sudah bersedia berbagi di sini ya.

      Iya, saya setuju. Selama masih bisa melahirkan normal, sebaiknya pilih normal saja.. πŸ™‚

  3. Woaa.. gitu ya mbak? Aku malah suka bgt tuh ntn video melahirkan, yg gampang2 gt tapi, haha jadi terinspirasi deh… jg sugesti buat lahiran normal… alhamdulillah lahir normal spontam..ihh rasanya masya allah banget deh.. πŸ™‚

  4. Setuju tante,kr dl q jg gt dpt Semangat (ΰΈ‡’Μ€βŒ£’́)ΰΈ‡ (ΰΈ‡’Μ€βŒ£’́)ΰΈ‡ dr ortu sdri ma mertua klo mereka ber2 jg ngelahirin normal. Ibu sdri pengalaman lahiran normal 4 kli,mertua jg 2 kli. Mungkin ada satu tambahan tips lg buat yg mw lahiran normal,saat usia hamil memasuki 6 bln keatas coba deh sering ngepel lantai jongkok ala jaman dl gak pake alat yg spt skrg kata ibu mertua q sih itu dpt membantu posisi kepala bayi.

  5. Klo aku keukeh banget pengen normal, namun apa daya setelah menahan sakit berjam-jam dan mentok di pembukaan 5, dengan pinggul kecil dan si kecli yang 4 kilo akhirnya pasrah di-SC T___T
    Doakan yang kedua ini normal ya mbaaaak! πŸ™‚

  6. kalau baca postingan seperti ini kadang saya gak sedih, tapi lama-lama jadi nge-‘batu’. hihi. dulu saya pengennya normal, tapi ujungnya malah SC, padahal dokter dan saya juga sudah berusaha untuk normal. tapi mungkin sudah mindset orang kalau lahiran SC itu agak cemen. jadi saya sering di cemen-cemenin. hihi. sampai akhirnya bikin postingan di blog.
    alhamdulillah perkembangan anak saya sama seperti yang dilahirkan normal, bahkan lebih pesat bila dibandingkan anak teman saya yang lahiran normal.

    yang saya selalu tanamkan dihati. mau melahirkan normal, SC, maupun mengangkat anak sekalipun, seorang ibu tetaplah ibu, bagaimanapun proses dia mendapatkan Anaknya.

  7. kayaknya tips pertama bener deh. ada orang2 penakut (terutama saya) yang nggak boleh diceritain yang serem2 soal lahiran. horror.
    dan mbak saya pun tahu kalo saya penakut, jadi pas saya sok-sokan nanya proses dia lahiran dia cuma jawab, “nggak usah cerita, nanti kamu takut”

  8. buat lia sih melahirkan secara sc itu bukan pilihan..
    klo emang pengen sc, ngapain tiap hari pulang-pergi kantor jalan kaki daripada naik beca, tiap hari naik turun tangga di kantor daripada naik lift, seminggu 2x ikut senam hamil, tiap hari pijat perineum, tiap hari ngepel sambil jongkok πŸ˜€

  9. Se7 bgt mbak. Sy malah melhrkn pertama di usia 19. Krn menikah muda pasca lulus SMU. Sempat takut sbnrx.

    Tp Alhamdulilah lancar, krn sy aktif dan byk jalan slama hamil. Dan smuax sy jalani apa adax, senang aja dan tenang. Jd pas mau lahiran sdh trbentuk sugesti positif bhw sy bs melhrkn normal.

    Dan benar, penting skali interaksi ama org2 yg pro lahiran normal itu td. Biar mindsetx tmbh kuat dan yakin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s