[BeraniCerita #19] Di Zebra Cross


Aku berdiri di sisi kiri jalan Otista. Di sebelah tiang yang menunjukkan rambu-rambu dilarang berbelok ke arah kiri. Beberapa saat yang lalu aku mendapat pesan untuk menunggu dan menjemputnya di sini. Di pinggir jalan Otista.

“Jam berapa, Nak?” tanya seorang lelaki pada segerombolan pelajar SMP yang berada di dekatku. Seorang anak melirik jam di pergelangan tangannya.

“Jam empat kurang seperempat, Pak.”

Ah belum saatnya. Tapi, lebih baik datang lebih cepat kan? Karena aku memang pantang datang terlambat. Tak ada kata terlambat dalam kamusku. Lebih cepat atau tepat waktu. Itu saja.

PYAK.. PYAK.. PYAK..

Terdengar kecipak air dari sisi kiriku. Kutolehkan kepala. Seorang anak lelaki membawa sebuah payung hitam sengaja melangkahkan kaki di atas genangan air. Wajahnya dihiasi senyuman. Bahkan hanya dengan memandangnya aku tahu ada kedamaian dalam dirinya.

Kualihkan pandangan ke sisi seberang si bocah berpayung hitam tadi. Pada kursi dan meja di bagian teras sebuah kedai bakso dan juice buah-buahan. Kulihat dua sejoli yang tengah duduk berhadapan. Sang lelaki menggenggam tangan kekasihnya tak bersuara. Tak ada senyum di wajahnya. Berbanding terbalik dengan wajah si bocah berpayung hitam. Keduanya bergeming. Tak satupun terlihat berbicara dengan yang lain. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

Pukul empat kurang lima menit. Waktu yang ditunjukkan oleh kedai bakso yang memasang jam dinding menghadap ke sisi jalan. Hujan rintik masih membasahi kota kembang. Menyisakan sedikit genangan pada zebra cross tepat di hadapanku. Dan si bocah berpayung hitam itu kini berjalan pelan melewatinya.

Sebaiknya aku bersiap.

***

CIIIT..

BRAK..!!

Tubuh perempuan itu terpental. Genggamannya terlepas dari tangan kekasihnya. Sebelum tubuhnya jatuh di atas zebra cross, aku sudah berjalan mendekat ke arahnya.

Menjemputnya.

Lima menit yang lalu sebuah sepeda motor tergelincir genangan air, menerjang si bocah berpayung hitam tanpa ampun. Sesaat kemudian motor itu menghantam tubuh semampai sang perempuan, seketika memisahkan jiwa dan raganya dari sang kekasih. Perempuan itu jatuh terkapar dengan kepala bersimbah darah.

Hari ini aku bertugas menjemput tiga jiwa. Bocah berpayung hitam, perempuan bertubuh tinggi semampai, serta bayi dalam kandungannya. Membawa ketiganya pergi dari dunia yang fana.

-selesai-

Teruntuk Prompt #20 Monday Flash Fiction dan [BeraniCerita #19] Di Zebra Cross

zebracross

banner-BC#19

 

Catatan :

 

Cerita ini dibuat setelah membuat FF ‘Lelaki Pilihan‘ yang ini. Jadi seakan cerita ini kelanjutan FF tersebut atau malah waktunya berdekatan dengan lokasi yang sama, namun dilihat dari sudut pandang tokoh yang berbeda.. 🙂

Mohon kritikannya ya..

 

Curcol: Tapi jujur aja, akhir-akhir ini saya merasa seakan semesta tidak mendukung saya menulis FF.. #abaikan :mrgreen:

Iklan

27 pemikiran pada “[BeraniCerita #19] Di Zebra Cross

    1. Bwahahaha… 😆 :mrgreen:

      Berarti mba Rini Uzegan jarang mampir ke sini. Sekalinya mampir, eh ‘kebetulan’ postingannya tentang hamil semua ya?

      😀

      Makasiih masukannya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s