Gaji Pertama Damar


Damar bergegas merapikan meja kerjanya. Melirik jam di pergelangan tangannya. Jam 17.23. Dilihatnya ruangan kantor yang sudah sepi. Sebagian besar teman-temannya memilih pulangTANGGO. Begitu ‘Teng’ jam pulang kantor, mereka langsung ‘Go!’.

Damar menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan pelan menuju lantai satu gedung perkantoran tempatnya bekerja. Memandang beberapa karyawan lain yang memakai seragam berwarna sama dengan miliknya, tengah berdiri berjejer. Mengantri ATM.

Tanggal 27. Hari ketika gaji mereka dibayarkan.

“Gaji pertama ya? Waah.. Selamat ya!” Bima menepuk pundak Damar, ”Mau nraktir pacar ya?” tebaknya. Damar tersenyum.

Gaji pertama.

Sekelebat memori berputar di benaknya. Saat ia masih duduk di kelas dua SMA.

***

Damar menyulut rokoknya sembunyi-sembunyi. Perlahan asap kelabu mengepul di depan batang hidungnya.  Dihisapnya perlahan batangan sebesar jari kelingkingnya.

BRAK.

Tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka. Damar bergegas menurunkan rokok yang baru sekali dihisapnya. Terburu. Abunya jatuh mengotori seragam putih abu-abunya. Di hadapannya, sang bude terlihat murka. Alisnya bertautan dan mulutnya mengerucut.

“Jadi ini yang kamu lakukan selama ini? Merokok sembunyi-sembunyi?! Sudah berapa banyak yang kau habiskan untuk benda seperti ini, Damar?” Bude mengangkat tangan Damar yang masih mengapit rokok di antara jari tengah dan telunjuknya.

“Apa bapakmu tahu kamu seperti ini?” Damar menggeleng. Bude bergeming. Lalu mengambil posisi duduk di atas ranjangnya.

“Duduklah,” pintanya. Damar menurut. Wajahnya pucat pasi, keningnya berkeringat. Rasa bersalah menyelimutinya.

“Selepas kepergian ibumu, bapak menitipkanmu di sini bukan tanpa alasan. Bapakmu ingin agar kamu bersekolah di sekolah yang terbaik. Agar kamu jadi manusia yang bermanfaat. Kamu masih sekolah, Le. Dan sekarang, uang kiriman bapakmu itu malah kamu pakai beli rokok. Gitu?! Bude yang nggak rela.. Bapakmu itu adik bude!”

Damar terperanjat. Tak menyangka perempuan mungil dengan wajah keibuan ini bisa juga berbicara dengan nada tinggi.

“Jangan habiskan uangmu jika kamu bahkan belum bisa mendapatkannya! Itu uang bapakmu yang kamu pakai. Yang kamu bakar jadi abu rokok. Kalau kamu sudah bekerja, terserah. Tapi selama kamu masih tinggal di rumah bude, masih sekolah di Satria, sekali lagi bude lihat kamu merokok, satu bajumu bude bakar!” tegasnya.

***

Lima tahun berlalu sejak kejadian itu, namun Damar masih mengingatnya. Bagaimanapun, ketegasan bude adalah bentuk kasih sayangnya pada Damar.

Ponsel di sakunya berbunyi. Membuyarkan lamunannya. Dibacanya sms yang dikirimkan sang ayah. Menanyakan keberadaannya. Damar mengetik cepat sms balasan. Ia akan sedikit terlambat. Ada yang harus dilakukannya.

Damar membuka perlahan pagar bambu rumah sang bude yang tak pernah dikunci itu. Selepasnya mengarahkan kaki menuju halaman belakang rumah. Di sanalah ia menemukannya.

Tiga bulan yang lalu baru diketahuinya  bahwa beliau mengidap kanker paru-paru. Penyakit yang sama yang merenggut nyawa mendiang ayah bude. Kakek Damar, yang seorang laki-laki perokok berat. Risiko yang sama diterimanya, meski tak pernah sekalipun bude menghisap batangan nikotin itu seumur hidupnya.

Di atas pembaringannya Damar berdoa. Untuk perempuan sekaligus ibu kedua baginya. Diletakkannya sebuket mawar merah yang baru dibelinya di atas pusara. Bunga kesayangan sang bude.

“Bude, hari ini aku mendapatkan gaji pertamaku. Dan aku tidak berniat lagi menggunakannya untuk membeli setumpuk abu dan segumpal asap kelabu.”

-selesai-

 

Nama               : Rini Bee Adhiatiningrum (rinibee)

Twitter            : @riniebee

Facebook       : http://www.facebook.com/rinibee


Keterangan:

Bude: (Jawa) 1. ibu gede; kakak perempuan ibu atau ayah;
2. panggilan untuk kakak perempuan ibu atau ayah

Le: panggilan kesayangan untuk anak laki-laki (Jawa)

 

 

Tulisan ini dipersembahkan untuk #proyekcinta yang diselenggarakan oleh @bintangberkisah

Iklan

7 pemikiran pada “Gaji Pertama Damar

  1. kak, itu apa ga salah, ya? sebelumnya ditulis Damar terima sms dari ayahnya, tapi di akhir ditulis “penyakit yang sama yang merenggut nyawa mendiang ayahnya”.

    mendiang ayah ga mungkin bisa kirim sms, kan?

    nice post, btw. nilai kemanusiaannya jg kepeduliannya dalem bgt 🙂

  2. kak, itu apa nggak salah tulis, ya? pertama ditulis, Damar terima sms dari ayahnya, tapi lanjutannya “penyakit yang sama yang merenggut nyawa mendiang ayahnya”.

    mendiang ayah nggak mungkin bisa kirim sms, kan?

    nice post, btw. nilai kemanusiaan sama kepeduliannya dapet. 🙂

  3. yaaa ampuuuun, fb en twitterkuh kutulisnya di imel :)))). yasudlah, kirim en lupakan :D. btw yg ini bener2 ada pesan moralnya, en cinta bisa untuk siapa aja 🙂 *eh,komenkugakterlaluberatkan? 😀

  4. Banyak yang memiliki nasib yang sama dengan bude, yaitu terpaksa menjadi perokok pasif. Para perokok yang egois itu sebenarnya membunuh pelan-pelan orang-orang tercinta di sekelilingnya. Sayangnya si perokok tersebut tidak menyadarinya.

    Cerita dengan pesan moral yang bagus di hari pertama minggu ini.

  5. Ah sedih rasanya.
    Perokok pasif lah yang menerima paling banyak dampak buruk rokok, makanya kadang saya pengen mendamprat orang bego yang merokok di ruangan tertutup yang rame,
    *tapi gaberani sih, takut dimarahin dibilang anak kecil T___T

    Nice flashfic!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s