[Bukan] Jadi Asisten


Saya ingin ikut memeriahkan giveaway-nya si guru muda kakak Sulung Lahitani Mardinata. Mudah-mudahan nggak salah nulis namanya. πŸ˜€

Berhubung temanya adalah mendidik, maka saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya (belajar) mengajar waktu masih di kampus. Dulu, di kampus saya sempat menjadi asisten dosen untuk beberapa materi perkuliahan.

Di tulisan ini, saya nggak mau sok tahu nyeritain bermacam-macam tips trik mengajar atau menceramahi teman-teman blogger di sini dengan materi yang saya ajarkan di kelas asistensi. Saya cuma mau cerita pengalaman aja.

Jadi, sebenarnya saya ini orangnya pendiam. Suka nggrogi kalau ketemu orang baru apalagi kalau disuruh berbicara di depan kelas. Duhh.. bisa-bisa saya nggeblak dan pingsan. Tapi kok berani-beraninya saya mendaftarkan diri jadi asisten? Ngajar lagi?

Nah… Sebenarnya itu adalah salah satu cara saya terapi diri. Hahaha.. πŸ˜†

Iya. Serius. Katanya kalau kita merasa cemas dan takut akan sesuatu (termasuk berbicara di depan kelas seperti saya) maka cara yang harus dilakukan adalah MENCOBA dan MENGHADAPI-nya. Dan itu yang saya lakukan.

Daripada saya melarikan diri, maka saya memilih untuk menghadapinya.

Waktu itu saya menjadi asisten Tes Intelegensi. Nah akan ada saatnya saya berdiri di depan kelas memberikan instruksi pada peserta mata kuliah untuk melakukan tes (pura-puranya saya jadi tester, dan peserta mata kuliah jadi testee). Tentunya saya harus berdiri di depan kelas. Mau nggak mau saya dipaksa untuk berani. Nggak boleh pingsan dulu.. :mrgreen:

 

Maka, dengan semangat 45 saya pun memberanikan diri maju ke depan kelas. Memberikan instruksi dengan sebaik-baiknya setelah sebelumnya semalam suntuk berdiri di depan cermin belajar jadi tester dan meminimalisir membuat kesalahan.

Hasilnya?

 

Masih nggrogi sih. Dan beberapa peserta mata kuliah sepertinya melihat ke-nggrogian saya. Hahaha..

Ya sudahlah. Itu kan namanya proses belajar. Dan tidak ada yang bilang akan mudah dan mulus di awalnya kan?

Apakah saya kapok menjadi asisten? Jawabannya nggak!

Karena selain banyak manfaat salah satunya uang saku tambahan :mrgreen:, saya bisa kenal dengan beberapa dosen termasuk dosen killer yang saya takuti sepanjang kuliah, dan akhirnya memudahkan saya untuk berdiskusi dengan dosen-dosen tersebut setelah saya menginjak semester terakhir dan mulai menyusun tugas akhir.

Tuuh! Lebih banyak manfaatnya kan?

Jadi sebenarnya cerita ini tentang apa sih? Tentang mendidik kan? Mendidik mahasiswa?

Eh.. err.. Sebenarnya saya cuma mau share pengalaman aja kok. Jadi kalau ditanya apa dan bagaimana rasanya menjadi asisten dan mendidik para mahasiswa? Mungkin jawaban saya bukan mengajar. Tapi belajar bersama. Saya mentransfer ilmu yang saya punya dengan mengajak para teman-teman dan adik kelas saya dengan belajar bersama. Dalam sebuah kelas ‘mini’, kelas asistensi.. πŸ™‚

Saya belom bisa mendidik mahasiswa, makanya saya mendidik diri dulu aja. Termasuk belajar berbicara di depan kelas.. Hehehe

Kalau ada yang tanya apa saya jadi asisten itu mengajar? Saya jawab aja, belajar bersama sekaligus terapi diri.. Hehe..

 

Maka, berbahagialah anda yang nggak punya penyakit nggrogi berbicara di depan kelas seperti saya..

πŸ˜€

SANYO DIGITAL CAMERA
si pendiam dan pemalu :mrgreen:

β€œTulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung” 

Iklan

8 pemikiran pada “[Bukan] Jadi Asisten

  1. ngerti mba perasaan mba… saya kalau disuruh di depan juga masih kok. itu keringat keluar deh… kalau kata teman… keringat lo dah kayak biji jagung. gede-gede. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s