[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan – 2


Joni menyesap habis jus jeruk di gelasnya. Sedikit mengernyitkan kening, karena rasa kecutnya. Di sampingnya Dony asyik bertelepon ria dengan kekasihnya. Tak lama, Dony meletakkan ponselnya.

Sorry Jon, gue lupa kalau harus jemput Jeehan di kampusnya. Jadi gue nggak bisa nemenin loe nonton, nih. Sorry banget ya?” Dony  mengangsurkan tiket ke hadapan Joni, “Nih tiketnya loe bawa aja ya. Siapa tahu loe mau ngajak siapa gitu. Gue bener-bener nggak bisa. Sorry.. bangeet..”

Joni mendengus kesal setelah Dony berlalu meninggalkannya.

“Lu nyindir gue apa gimana sih? Jelas-jelas gue ngajak loe ke sini karena gue nggak punya temen nonton. Apa-apaan sih?” rutuknya dalam hati, “Satu jam dari sekarang film akan diputar. Mau ngajak siapaaa cobaaa? Apa gue pulang aja ya? Udah males gini rasanya.”

Joni bangkit dari kursinya. Memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Batal nonton di bioskop. Namanya aja nobar. Nonton bareng. Kalau cuma sendirian, udah nggak sesuai lagi namanya.

“Mas,” sebuah suara menahan langkahnya. Joni membalikkan badannya, “tiketnya ketinggalan.” Gadis itu mengangsurkan dua buah tiket ke hadapannya. Wajah gadis ini familiar sekali. Joni seperti pernah berjumpa dengannya sebelumnya.

“Lho, Jon?” gadis itu ternyata juga mengenalinya.

“Dania?!” Joni akhirnya berhasil menemukan nama sang gadis di file memori otaknya, “Udah lama ya kita nggak ketemu?” File memori Joni pun mengumpulkan data lain yang berhubungan dengan Dania.

Dania teman SMP Joni. Dania yang dulu pernah naksir Joni. Dania yang dulu berkacamata tebal dengan rambut dikepang dua. Dania yang kini berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa yang memesona.

Dania tersenyum manis ke arahnya. Bahkan behel yang dulu pernah menghiasi mulutnya pun kini tak lagi berada di sana, berganti deretan gigi putih dengan susunan yang nyaris sempurna.

“Eh, ngobrol sebentar boleh kan ya?” Joni pun mendekat lagi dan Dania pun tersenyum mengangguk. Obrolan demi obrolan pun mengalir di antara mereka. Tak ada tanda-tanda kalau Dania sedang menunggu seseorang. Joni melirik jam di pergelangan tangannya. Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Mengajak Dania nonton berdua.

“Dan, gue ada dua tiket nonton nih, tapi temen gue ngebatalin. Ada acara mendadak katanya. Loe mau nemenin gue nonton, gak?” tawarnya.

Belum sempat Dania menjawab, seorang lelaki datang mendekati Dania.

“Hey, kamu di sini? Pantesan aku cari di rumah nggak ada. Hp mati lagi. Ini siapa?” laki-laki itu bertanya dengan nada posesif.

Great! Dania udah punya pacar. Lalu pacarnya tiba-tiba datang di saat aku baru aja ngajak nonton! Joni membatin nelangsa.

“Ini Joni,” Dania berdiri memperkenalkan Joni dengan Arman, “sorry ya Man, kita udah telat. Aku sama Joni mau nonton. Yuuk Jon!” tanpa diduga Dania menarik lengan Joni, menjauh dari Arman. Joni terperanjat, tapi juga senang.

Setelah menjauh dari Arman, Dania membuka suara.

Sorry ya Jon, jadi bawa-bawa kamu. Dia mantan aku. Orangnya posesif banget. Capek ngeladeninnya. Padahal aku sengaja pergi nggak bawa hp, eh kok malah ketemuan di sini. Untung ada kamu.. Oya, makasih ya tawaran nontonnya. Momennya pas banget!” Joni menautkan tangannya pada jemari Dania. Dan Dania balas menggenggamnya.

Alhamdulillah.. tiketnya cuma gue tinggal di meja. Nggak dibuang ke tempat sampah. Batinnya.

banner-BC#18

Iklan

13 pemikiran pada “[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan – 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s