[Cinta Di Dalam Kardus] Menemui Mas Ryan


“Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.”

gelang - story

Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan mas Ryan. Surabaya dan Jakarta. Hari ini, kuputuskan untuk menemuinya di ibukota. Berjalan-jalan menyusuri kota tua. Menikmati keindahannya dan mengambil foto melalui kamera handphoneku.

Saat kami beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, ia mengeluarkan sebuah gelang dari saku kemeja, lalu menyematkannya di pergelangan tanganku. Gelang mungil yang sederhana. Namun sangat berarti bagiku.

Tak lama kemudian, hujan turun membasahi bumi. Aku dan mas Ryan memutuskan untuk berteduh di sebuah kedai kopi terdekat. Tak satupun dari kami yang mengenakan jaket. Aku menggigil kedinginan, karena sebagian besar tubuhku basah oleh air hujan. Mas Ryan mendekap bahuku erat sambil mengusapnya pelan. Rasa hangat kembali mengaliri relung hatiku. Membuatku merasa sedikit lebih nyaman.

***

Aku meremas-remas kedua tanganku dengan perasaan gundah. Perlahan kuberanikan diri mendekat ke arah ibu yang tengah mengguntingi daun-daun yang mengering di setiap kuntum mawarnya. Aku merasa bersalah, karena sekian lama menyembunyikan pertemuan rahasiaku dengan mas Ryan. Kumantapkan hati untuk berterus terang pada ibu.

“Ibu … Ibu masih ingat mas Ryan?”

“Ryan siapa?”

“Putranya Bude Lastri. Yang sekarang di Jakarta itu.” Ibu mengangguk, “Beberapa bulan terakhir ini Ratih dekat sama mas Ryan, Bu. Kemarin waktu Ratih ke Bandung, Ratih ketemuan sama mas Ryan di Jakarta. Ratih minta maaf ya, Bu. Baru ngaku sama ibu sekarang. Tapi Ratih nggak ngapa-ngapain kok Bu.”

Selama beberapa saat ibu masih saja diam, mungkin kecewa karena aku membohonginya selama ini.

“Bu? Kok diam saja? Ratih menyesal, Bu. Nggak terus terang sejak awal …” aku mendekat ke arah ibu, mencoba berbicara langsung berhadapan dengan beliau. Wajah ibu pucat pasi.

“Mas Ryan … putranya Bude Lastri? Kamu pa-ca-ran de-ngan-nya?” tanya ibu terbata-bata.

“Iya, Bu.”

“Kamu bertemu dengannya dua bulan yang lalu?” tatapnya langsung pada kedua mataku.

Aku mengangguk.

“Tapi Ratih …”

***

Aku shock mendengar ucapan ibu. Rasanya seperti mimpi. Sebagian diriku tak bisa mempercayainya. Kucoba untuk menenangkan diri. Setelahnya aku menghubungi Maya. Berharap ada penjelasan yang lebih masuk akal. Mayalah yang mengantarku ke stasiun Bandung dua bulan yang lalu. Dan aku justru semakin kaget setelah mendengar penjelasannya.

“Ratih, kamu memang ke Jakarta. Tapi kamu tidak menemui mas Ryan. Ia sama sekali tidak datang. Kamu menunggunya seharian sampai kamu kehujanan. Sesampainya di Surabaya kamu sakit parah. Kamu menelpon ke kost Ryan di Jakarta dan mendapat kabar kalau ia meninggal dunia seminggu sebelumnya. Kamu shock dan koma selama dua minggu.”

Aku masih tak mempercayainya. Kubuka galeri handphone mencari-cari foto yang kubuat bersama mas Ryan di kota tua. Tapi tak ada foto dirinya. Hanya ada aku sendirian. Masih terngiang jelas di dalam ingatanku setiap kenangan bersamanya. Tentang dekapan lembutnya di bahuku, tentang ciuman lembutnya di tanganku. Juga kecupan hangatnya di keningku.

Bulir-bulir air mata mengalir perlahan di pipiku. Menetes di tangan. Tangan yang dulu pernah terasa hangat oleh kecupan mas Ryan. Hingga aku baru menyadari, di pergelangan tanganku benda mungil itu terlihat. Sebuah gelang mungil yang tak pernah kusadari keberadaannya. Gelang yang menyaksikan segalanya. Bahwa selama ini aku memang tidak bermimpi. Masih teringat jelas dalam ingatanku. Karena gelang itu adalah … gelang pemberian dari mas Ryan.

 

Meskipun mereka bilang aku tidak pernah menemui mas Ryan hari itu, aku yakin.. ia menemuiku dan kami memang menghabiskan waktu bersama. Meski tak seorangpun tahu..

Iklan

3 pemikiran pada “[Cinta Di Dalam Kardus] Menemui Mas Ryan

    1. Sebenarnya ada lanjutan di bagian bawahnya. Tapi jumlah katanya udah keburu mentok.

      Ada tambahannya gini:

      “Meskipun mereka bilang aku tidak pernah menemui mas Ryan hari itu, aku yakin.. ia menemuiku dan kami memang menghabiskan waktu bersama. Meski tak seorangpun tahu..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s