[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan


Sandrina melihat kalender  duduk di atas meja belajarnya. Menatap sebuah tanggal yang dilingkarinya dengan spidol merah. Di dalam genggaman tangannya, terlihat sebuah tiket kereta api tujuan Bandung – Jakarta. Tiket yang akan membawanya kembali mengulang kenangan.

 “Yakin kamu mau tetap berangkat, Na?” Suara bunda membuyarkan lamunannya. Entah sejak kapan beliau sudah berdiri di depan pintu kamar.

Sandrina mengangguk mantap, “Iya, Bunda. Na yakin. Besok pagi Na harus berangkat.” Putusnya.

Kembali dipandanginya tiket dalam genggaman. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Berharap semoga semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Ia pasrah. Apapun yang akan terjadi, maka terjadilah.

***

Sandrina meremas-remas jemarinya. Jantungnya berdegup kencang. Diliriknya jam di pergelangan tangannya, tepat saat kereta menepi di stasiun Jatinegara. Saatnya menemui mas Bayu.

Ditekannya ponsel dan menghubungi seseorang di seberang sana.

“Tunggu aku ya, Dek. Masih kena macet, nih..”

Sandrina berusaha menenangkan diri. Dikeluarkannya novel dari dalam tas selempangnya, mencoba menahan debar jantung yang kian tak menentu. Namun ia tak dapat berkonsentrasi sama sekali. Dan sebuah tepukan di pundaknya menandakan kehadiran Bayu.

Sandrina merasa waktu berhenti berputar.

Wajah itu.

“Sudah lama ya?” tanya Bayu membuka percakapan.

“Lumayan. Sejak aku telepon tadi,” Sandrina berusaha keras mencoba menenangkan diri.

“Berangkat sekarang?”

“Oke.”

Bayu membawakan tas tangan Sandrina. Dan setelah keduanya berada di dalam mobil, percakapan pun berlangsung.

“Dari Bandung tadi jam berapa?”

“Jam tujuh.”

“Cepat juga ya?! Apa kabar?”

“Baik.”

“Bapak / ibu sehat?”

“Alhamdulillah.”

“Sudah lama ya. Hampir tiga tahun? Atau … empat tahun?”

Sandrina mengangguk.

“Seribu hari,” jawabnya.

“Oooh.. Jadi itu alasanmu?”

“Salah satunya.”

Dan dua puluh menit kemudian, mobilpun menepi.

“Kita sudah sampai.”

***

Ditatapnya wajah Bayu. Wajah yang sama yang selalu dirindukan Sandrina. Wajah yang membuatnya bahagia sekaligus menahan kesedihan yang mendalam. Bayu menggenggam jemari Sandrina.

Memberikan kekuatan.

“Aku masih merindukanmu, Bagas. Meski seribu hari telah kulalui tanpamu.” Bisik hati kecilnya.

Di atas gundukan tanah bertabur bunga, Sandrina mengangkat tangan dan berdoa. Di atas pembaringan Bagas, saudara kembar Bayu. Bagas yang sangat dicintai Sandrina. Bagas yang telah pergi untuk selama-lamanya. Bagas yang meninggal karena kecelakaan kereta api saat pulang kembali ke Jakarta setelah mengunjungi Sandrina di kota kembang. Diliriknya tiket kereta api yang membawanya dari Bandung ke Jakarta. Tiket yang sama seperti yang dulu pernah dimiliki Bagas.

Tapi kali ini, tiketnya membawanya selamat sampai tujuan.

tumblr_lw9vikUFAl1qg2xooo1_500

banner-BC#18

Iklan

19 pemikiran pada “[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan

    1. Maksudnya gimana mas Ronal?

      Di untuk tempat maka dipisah, misalnya : di rumah, di kamar, di sana.

      Tapi kalau di sebagai kata kerja atau kata sambung ya digabung. Seperti dikarenakan, ditekan. Dan sebagainya. Saya belum mudeng maksud mas Ronal.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s