Kardus Sejuta Rasa


“Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.”

doc. pribadi
doc. pribadi

Kupandangi kardus berisi barang-barang peninggalan bersejarah yang teronggok di lantai ruang tamu rumahku. Demi apa sih barang-barang yang sudah kulupakan sejak jaman nggak enak ini sekarang mampir lagi di depan pintu rumahku?

“Gue lagi beberes kamar, eh gue nemu ini. Ini barang-barang loe kan, Bee?” tanpa rasa bersalah Rahma menyodorkan kardus itu ke hadapanku, “Kalau nggak salah ini barang-barang pemberian Nugra, kan? Nugra yang pacaran jarak jauh sama elo selama lo ngekost di kamar gue?!”

Sial!

Rahma malah menggali paksa kenangan yang ribuan tahun lalu sudah mati-matian kukubur itu. Tapi anehnya, melihat barang-barang ini ingatanku bukan hanya bermuara pada Nugra. Nugra bukan lagi masalah untukku. Aku sudah merelakannya sekarang. Aku sudah move on semenjak aku bertemu dengan Harry, tunanganku. Tapi mengingat Nugra sama artinya mengingat Sovia.

Kupandangi boneka beruang di dalam kardus, teringat valentine pertamaku dengan Nugra sebagai sepasang kekasih. Tapi cuma sebentar, karena tak lama kemudian, kilatan memori lain berdesakan memenuhi kepalaku. Dan aku langsung mual. Teringat Sovia yang menunjukkan boneka beruang yang mirip kepunyaanku tapi lebih besar ukurannya. Melihat dompet biru mungil yang sporty itu, di bayanganku justru muncul Sovia dengan dompet feminin keluaran butik yang terbaru. Dan melihat printilan lain, aku selalu saja teringat Sovia.

Gimana nggak inget? Karena Sovia selalu saja membanding-bandingkan barang-barang yang dimiliki dan diperolehnya dari orang yang sama yang pernah menautkan jari-jari panjangnya pada jemari tanganku. Lelaki yang sama. Yang langsung diembatnya tak lama setelah lelaki jangkung bermata elang itu mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada hubungan jarak jauh kami.

KAMPRET!

LDR itu memang Long Distance Relationshit!

Teringat olehku kejadian lima tahun silam. Semua gara-gara kardus berisi sejuta perasaan yang tiba-tiba muncul lagi di hadapanku.

A best friend is a sister that destiny forgot to give you.

Yeah! Right!

Kumatikan ponselku setelah membaca pesan singkat omong kosong dari Sovia. A sister? A sister dari Hongkong!

Kalau memang dia sister, maka darah lebih kental dari air. Tentunya ikatan kami lebih kuat dari apapun. Tapi ini apa? Dia malah asyik jalan dengan Nugra di belakangku, saat aku tengah menangis di pundaknya karena menangisi orang yang sama!

Sejak hari ini dia bukan sahabatku lagi. Apalagi saudara perempuan! Never!

***

Kejadian lima tahun yang lalu itu perlahan mulai kulupakan. Tapi siapa sangka takdir akhirnya mempertemukan kami lagi. Di tempat yang berbeda. Dengan keadaan yang jauh berbeda.

“Bee..”

“Sovia..”

Hari itu adalah perjumpaanku lagi dengan Sovia sejak kami lost contact. Sovia yang sama. Yang pernah menyedot habis perhatian Nugra dariku. Sovia yang dulu masih unyu, yang mati-matian mengatakan bahwa ia tidak tahu kalau aku masih menaruh hati pada Nugra.

“Gue udah lama putus sama Nugra. Dia dijodohin sama tetangganya,” Sovia menceritakan berita terakhir tentang Nugra.

Yeah.. Right! Like I care! Aku sudah punya Harry. Batinku.

Dan di sinilah kami berjumpa lagi. Tuhan punya rencana-Nya sendiri. Ia menginginkan Sovia ada di dekatku lagi. Tak hanya sebagai seorang saudara. Namun lebih dari itu.

Ya. Tepat pukul 08.00 pagi, ayah menyebut nama Sovia. Ia kini jadi ibu tiriku.

Great!

Iklan

11 pemikiran pada “Kardus Sejuta Rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s