[PromptChallenge #18] Jodohku


Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku berlari keluar dari kamar.

Menyelamatkan diri.

Kalian mungkin akan menganggapku egois, menuduhku mati rasa. Tapi ini bukan untuk yang pertama kalinya terjadi dalam hidupku. Kalau kalian tahu latar belakangku dan Lissa, kalian akan paham mengapa aku melakukan ini semua.

***

“Ayolah, Gas. Umurmu sudah cukup. Kamu nunggu apalagi?” Ibuku membuka obrolan yang sudah mulai menjengkelkan. Masalah jodoh, pernikahan dan penerus garis keturunan.

Bukannya aku mati rasa pada perempuan. Tapi semenjak gadis yang kupuja-puja sejak jaman akil baliq ditikung oleh sahabatku sendiri, aku sudah tak tertarik membicarakan tentang jodoh dan pernikahan. Kalau boleh jujur, aku teramat menyayangi Latri, gadis manis berlesung pipit dan pandai menyanyi itu. Dia satu-satunya yang bersedia menerima sisi lembutku sebagai seorang pria. Sedangkan yang lain mencibirku banci.

“Gas, lamaran Bapak dan Ibu Joko kemarin itu sebaiknya kamu pikirkan lagi. Lissa sudah cukup umur, kamu juga sudah cukup umur. Dan kita sudah kenal keluarganya sejak dulu kan?! Kami yakin, hubungan kalian berdua bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius.” Bapak memberikan pertimbangannya sekaligus sebagai tanda keputusan yang tak terbantahkan. Keputusan yang akan berpengaruh pada kehidupanku berikutnya.

Selang empat bulan kemudian, aku menikahi Lissa. Lissa yang bagaikan bumi dan langit denganku. Lissa yang sportif dengan rambut cepaknya. Yang terlihat jauh lebih gagah daripada aku. Jika lelaki lain dilayani istrinya, aku justru bertekuk lutut pada kerlingan matanya.

Dan segala perbedaan kami membuat rumah tangga kami seimbang dengan caranya sendiri. Semuanya baik-baik saja. Aku perlahan mencintainya dan Lissa pun menghormatiku sebagai lelaki dan suami untuknya. Semua permasalahan dan kendala yang menghadang bisa kami atasi bersama. Hingga tiga hari yang lalu, petaka itu terjadi dalam rumah tangga kami.

Setiap aku terbangun di pagi hari, tubuhku akan penuh lebam kebiru-biruan. Tak hanya di pipiku, tapi juga lengan punggung dan sekujur tubuhku. Aku tak tahan lagi. Semua ini harus kuhentikan. Meskipun masih mencintainya, aku memilih berpisah saja dengannya.

Aku sudah tak tahan lagi.

***

“Apa tak bisa dipertahankan lagi tho, Le? Apakah masalahnya berat?” tanya ibuku.

Aku bergeming. Menceritakan pokok permasalahan dalam keluarga kami sama saja menepuk air di dulang. Sama saja mencoreng harkat martabatku sebagai suami. Aku tak bisa.

“Coba dulu saja ya, Le. Ibu mohon..” Dan aku tak bisa menolak permintaan perempuan yang sangat kucintai itu. Permintaan ibuku. Kuputuskan untuk mencobanya lagi, demi menyelamatkan pernikahan kami.

***

BRAK.. BRUK.. JDER..!

Suara gaduh terdengar lagi di rumah kami.

Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku berlari keluar dari kamar.

Aku sudah tak tahan lagi. Terakhir kali aku coba menenangkan Lissa, badanku penuh dengan luka lebam. Aku perlahan mundur dan menjauh dari ranjang. Menjauh dari Lissa.

Kutatap istriku yang tengah bergumul dengan imajinasinya. Istriku yang gagah itu, yang menyayangiku saat terjaga, akan berubah 180 derajat saat ia terlelap. Kupastikan dalam mimpinya kali ini masih sama dengan malam-malam sebelumnya. Ia tengah bergumul dengan kawanan penjahat yang menyekapnya sebagai sandera. Saat ini kupastikan ia berusaha melepaskan diri dari mereka. Ya, istriku yang gagah itu, Melissa Larasati, adalah seorang Kapten Polisi.

2927970568_cc61ce925a.jpg

Iklan

15 pemikiran pada “[PromptChallenge #18] Jodohku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s