Sempatkanlah untuk Menyemai Cinta


Saya dan suami saya baru akan menapaki kehidupan berumah tangga yang kelima tahun. Masih baru. Masih balita. Katanya lima tahun pertama pernikahan itu saatnya beradaptasi. Dan ungkapan itu sepertinya benar adanya.

Sebelum menikah, kami tinggal di kota yang berbeda, saya di Surabaya, suami di Bandung. Sebagai istri, setelah menikah tentu saja saya ikut anak’e morotuwo (anaknya mertua. maksudnya suami). Jadilah saya ikut di mana suami saya tinggal dan bekerja. Di Bandung. Banyak perbedaan di antara kami. Selain jenis kelamin *ya iyalah.. :mrgreen:, lingkungan tempat tinggal, suhu udara (Surabaya panasnya mentok, di Bandung sejuk mengarah kademen (kedinginan).. :P), jumlah keluarga (saya dari keluarga mini suami dari keluarga besar) dan lainnya. Termasuk karakter.

Saya tinggal di Jawa Timur. Intonasi dan penekanan kalimat yang saya pakai dalam berbicara jelas beda dengan orang Jawa Barat. Saya terbiasa berbicara terlalu dengan semangat, sementara suami saya lebih kalem. Bayangkan, entah berapa banyak saya bicara biasa-biasa saja dianggap marah-marah.. :lol:. Dan diamnya suami saya ini maknanya ganda. Saya harus bisa menafsirkannya sendiri. Kalau bisa sekalian membaca pikiran! 😀

Kebayang kan kalau kami hidup satu atap? Lima tahun kehidupan berumah tangga dan beradaptasi pun memungkinkan terjadinya salah paham dan gesekan yang mengacu pada beda pendapat atau berantem-berantem dan bete-betean kecil.

Dan tak jarang salah paham ini bikin saya dan suami sama-sama bete. Belom lagi kalau si kakak dan dede mulai bikin kepala pusing. Saya bilang ini dan itu dengan nada yang agak tinggi, suami saya ‘menangkap’nya saya marah-marah terus ke anak-anak. Padahal maksud saya ‘jangan lewat sini dulu mama baru selesai ngepel’, atau ‘jangan ajrut-ajrutan (loncat-loncatan di atas kasur) nanti kepalanya kejedot tembok’. Gini kok dibilang marah-marah. Hadeeeh.. 😳

Akhirnya saya memilih lebih banyak diam. Ngikut kelunturan suami yang memang ‘hening’ dari sananya.. :mrgreen:

Ada satu kisah yang masih teringat oleh saya tentang suami saya si ‘pendiam’ itu.

Alkisah, waktu itu hari menjelang senja, sudah deket-deket maghrib. Saya sedang di depan laptop. Browsing dan blogwalking. Suami saya duduk sambil bersender santai di tembok. Entah menonton TV atau asyik dengan ponselnya. Yang ada di situ cuma saya dan suami saja. Anak-anak sedang bermain di lantai bawah sama neneknya.

Tiba-tiba suami saya yang sedang memegang ponselnya mendekati saya dengan mimik wajah kaget, menunjukkan gambar / foto yang baru saja dijepretnya ke arah saya. Gambar langit-langit rumah di waktu maghrib. Yang nggak hanya terlihat suram tapi juga … ada penampakan seorang perempuan berbaju putih dengan rambut panjang tertangkap kamera sedang melayang dengan posisi gambar terlihat penampakannya dari sisi samping.

Saya langsung kaget setengah mati sambil berkata “Astaghfirullah, A.. Astaghfirullah..”. Lalu mundur teratur dari laptop karena posisi pengambilan gambar itu memang di dekat saya mengetik di laptop.

Sedetik.. dua detik.. tiga detik..

Suasana hening. Saya sibuk menenangkan diri dan suami saya juga tak kalah heningnya.

Lalu sesaat kemudian, tanpa berdosa dia berkata,

“A lagi nyoba aplikasi baru di hp. Keren ya?” sambil nunjukin gambar ‘hantu’ serupa yang ‘diletakkan’ di beberapa gambar keponakan yang tengah bermain di lantai.

Nggak usah nunggu beberapa lama lagi, setelah merasa tertipu dan dikerjai habis-habisan, saya langsung melayangkan cubitan saya ke pinggang bapaknya anak-anak saya itu. Dan dia hanya tertawa tergelak menahan geli.

Kesel?

Bangeet!

Tapi saya justru bersyukur. Inilah sisi baiknya hidup berumah tangga dengan suami saya. Karena bagaimanapun juga, suami saya ini orangnya suka sekali becanda. Dan becanda inilah yang menyatukan kami. Sebete-betenya kami berdua, ya pasti bisa cair dengan candaan. Inilah salah satu cara kami menyemai cinta. Dengan bercanda bersama. Kami masih harus banyak belajar pada mereka yang telah mengarungi bahtera rumah tangga lebih lama dari kami. Dan kami masih harus belajar lebih banyak untuk saling memahami satu dengan yang lain. Dan salah satu cara kami menyemai cinta untuk tetap menjaga keharmonisan adalah dengan menyempatkan diri menghabiskan waktu berdua untuk tertawa bersama-sama.

Ini cerita saya. Bagaimana dengan anda?

candid by nuha
Yes! That’s him..! 😀

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

Menyemai Cinta

Iklan

18 pemikiran pada “Sempatkanlah untuk Menyemai Cinta

  1. Dalam dua hari postingan nya banyaaak banget … lagi semangat ya jeung, tadi ta pikir setelah komen satu postingan selesai eee.. ternyata ada lagi.. keren uiii… semangat terus menulisnya jeung…
    btw nice story this post… 😀 beda memang sudah lumrah apalagi pria dan wanita 😀

  2. datang berkunjung…
    kayaknya pernah tahu dah sama yang ada di foto yang lagi berdua itu… 😀
    baca ini aku jadi ketawa pagi pagi. makasih dah buat pagiku jadi ceria lewat postingnya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s