Cerita Absurd Tentang Saya, Kakak-kakak, Motor, SIM dan Printilannya


PERINGATAN!

Tulisan ini mengandung curhat.

Dulu jaman sekolah (SMA), saya dianggap selalu merepotkan kakak-kakak saya. Padahal, saya ‘hanya’ minta diantar berangkat sekolah. Mau bareng bapak saya, jalannya nggak searah. Kalau naek angkot, uuh.. lama pisan euy! Jadi cara paling mudah dan –seharusnya– murah ya nebeng (menumpang) salah satu dari dua abang saya. Karena kakak saya dua, maka ibu memberikan jadwal pada kakak saya untuk mengantar ke sekolah. Hanya mengantar. Karena kalau pulang sekolah, angkotnya banyak.

Punya dua orang kakak dengan dua karakter berbeda memang terasa meriah. Bisa dibayangkan betapa meriahnya hidup ini kalau kalian jadi saya.

Diantar si sulung? Waaahhh.. dia orang yang selalu saja terburu-buru. Mengantar dengan buru-buru, berangkat buru-buru. Haduh.. entah mengapa saya merasa kakak sulung saya sepertinya kurang ‘tegen’ (mahir) saat mengendarai motor (dan saya jadi merasa adik durhaka dengan menulis cerita ini.. Duuh.. Maaf sekali ya, Bang! *digetok obeng*). Lha kalau dia kurang mahir tapi pakai acara kebut-kebutan, bagaimana nasib penumpang eh.. penebeng di belakang ini? :mrgreen:

Silakan anda bayangkan sendiri.

Beda lagi dengan kakak saya yang kedua (si tengah). Ketika tiba giliran dia mengantar saya, yang terjadi adalah…

Di sepanjang perjalanan saya dari rumah ke sekolah, dia akan selaluuu ngomel sama saya. Yang katanya saya ngerepotin-lah, nggak mandiri-lah, dan lain sebagainya. Tuh.. nggak ada enak-enaknya kan? Itu semua karena satu hal. Saya nggak punya SIM..!

Gimana mau punya SIM? Lha wong umur belum mencukupi dan lagi motornya juga nggak ada *ini alasan buatan saja pemirsah..* 😀

Jadi, daripada saya maksa-maksa nembak bikin SIM dan menuntut orang tua saya membelikan sepeda motor baru. Sayapun merendahkan diri *halaah* tetep keukeuh nebeng kakak-kakak saya. 😀

Supaya acara tebeng-menebeng terasa menyenangkan, saya mulai mengubah pola pikir. Yang tadinya saya selalu merasa sedih karena seakan-akan kakak-kakak saya nggak ikhlas nganternya, akhirnya berganti:

Kakak-kakakku ikhlas kok nganternya.. Mereka melakukan itu semua karena sayang padaku..  :mrgreen:

(Biarinlah dibilang narsis. Yang penting tetep nyampe sekolah..)

Kalau diantar oleh kakak sulung, saya anggap saja sedang naik roller coaster.. Wiih seruuu..!

Kalau diantar kakak tengah, saya anggap saja semua omelan-nya adalah petuah dan nasehat supaya saya jadi lebih baik. 😆

Dan akhirnya..

TARA..

Hidup saya jadi lebih indah!

Selang beberapa tahun kemudian, kakak sulung akhirnya diterima bekerja di luar kota. Jadi deh ada motor nganggur di rumah. Waktu itu saya sudah masuk kuliah. Akhirnya, dengan ‘terpaksa’ sayapun belajar motor. Dari rute manual rumah – kampus yang hanya 10 menit dengan naik motor, sayapun lambat laun akhirnya berani naik motor muter-muter kota Surabaya.

Dan saya ini termasuk pembalap (pemudi berbadan gelap.. *eh?!) #abaikan. Dan saking semangatnya membawa motor, saya seringkali jatuh dari motor hingga taraf terbiasa. Beberapa teman juga pernah saya ajak jatuh barengan. (oke, ini bukan prestasi.. :mrgreen:).

Ini semua berkat saya punya SIM. Tapi ada pengalaman menyebalkan sebenarnya. Beberapa menit sebelum pengambilan gambar, si bapak polisi membuat saya kesal. Jadilah akhirnya foto SIM saya jelek banget hasilnya. Saya manyun sama si bapak polisi yang mengambil gambar saya. Hadeeh.. 😆

Demikian cerita absurd saya tentang motor, kakak saya dan pembuatan SIM.

 

Cerita ini diikutkan Kinzihana’s GA: Cerita Tentang SIM

Iklan

11 pemikiran pada “Cerita Absurd Tentang Saya, Kakak-kakak, Motor, SIM dan Printilannya

  1. WHuahahahha kayaknya ini terabsurb emang ceritanya ngakak ngkikik dari pertama baca 😛 biarin si juri pusying

    makasih ya udah berpartisipasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s