[BeraniCerita #17] Dendam Kesumat


Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga. 

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak.

Bukan tanpa alasan Roni berada di sini. Menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak seorangpun membuntutinya.

Berdasarkan keterangan Zaki, di kelas inilah tempatnya. Maka demi misi pribadinya. Demi memuaskan hati kecilnya, ia rela melakukan semuanya.

Dengan bantuan kursi kecil yang telah dipersiapkannya, Roni masuk perlahan melalui lubang jendela. Berjalan cepat menuju kursi yang berada di sisi kiri papan tulis berukuran 1 x 2 meter itu. Merogoh saku celana birunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Melakukan gerakan cepat mengusap-usap cairan bening dengan kayu kecil hingga merata.

BRAK.

Baru saja ia memulai aksinya, sebuah suara gebrakan dari sisi pintu kelas terdengar. Roni gelagapan. Ia menyembunyikan diri di bawah meja guru, berharap orang yang baru saja datang itu tidak melihatnya.

“Pelan-pelan, doong. Nanti ada yang mendengar..” suara seorang perempuan berbisik.

“Ah.. siapa yang akan mendengar? Semua sedang berada di ruang laboratorium. Di sini kita aman.” Kali ini suara lebih berat terdengar. Bisa dipastikan suara bariton itu pasti milik seorang laki-laki.

Roni memasang telinganya. Suara yang sedang berbisik itu sangat familiar di telinganya. Tapi ia masih belum yakin.

“Sini doong, aku udah kangen..” bisik si Bariton. Dan tak terdengar lagi suara balasan dari sang perempuan. Hanya terdengar kecupan-kecupan ringan yang Roni sendiri tak berani membayangkannya. Ia cuma ingin menyelesaikan misi pribadinya. Bukan mengintip orang pacaran!

Ia tengah memikirkan strategi, bagaimana caranya kabur sebelum sepasang kekasih yang sedang beradu mulut ini mengetahui keberadaannya. Ia mengintip keadaan untuk menyusun strategi. Dan suara kecupan pun terhenti.

“Kalau di sini kan udah pernah.. Aku maunya di sana,” suara manja si perempuan kembali terdengar.

“Tapi aku pangku ya?” rayu si Bariton. Setelahnya hanya terdengar langkah-langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya.

Perasaan Roni tidak tenang. Bagaimana jika mereka…?

BRUK.

Di atas kepalanya Roni merasakan sebuah beban besar diletakkan. Tepat di atas meja tempatnya bersembunyi. Di hadapannya kini, celana coklat kehijauan, warna baju seragam guru laki-laki terpampang jelas. Ia hanya bisa menduga bahwa ada hubungan percintaan atara seorang guru laki-laki dengan salah seorang murid perempuan.

Hanya satu tujuannya kali ini. Melarikan diri secepat-cepatnya.

Begitu ada kesempatan, Roni langsung menyelinap keluar dari bawah meja dan melarikan diri. Pasangan yang tengah saling mengulum itu pun akhirnya menyadari kehadirannya. Wajah penuh kemarahan layaknya pemilik pohon mangga memergoki mangganya tengah dicuri besar-besaran terpampang dari wajah si Bariton.

Roni sengaja berhenti sesaat untuk melihat siapakah gerangan pasangan yang tengah bermesraan itu. Ia terperanjat. Mendapati Katrina, kekasihnya, dalam dekapan si Bariton yang ternyata pak Bono, guru Olahraganya.

Dendam kesumatnya tepat pada sasarannya. Kursi yang diduduki pak Bono itu sudah dipasanginya lem super kuat. Sudah lama ia berniat membalas dendam. Sejak pak Bono pertama kali melecehkan dirinya di ruang ganti. Sejak tangan kekar itu menyentuhnya dan suara bariton itu berbisik merayu di telinganya.

banner-BC#17

Iklan

12 pemikiran pada “[BeraniCerita #17] Dendam Kesumat

  1. hmmm, kalo saya masih kurang sreg, dari pias kok kayaknya langsung ujug2 ke puas yah? eh, ato maksudnya yang pias itu pak Bono sama Katrina? Katrina ini maksudnya kekasihnya pak Bono ato kekasih Roni sih? hihihihihi sworriii, akhirnya banyak tanya, cz paragraf terakhir ituh kerasa gimanaaa gitu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s