[Remake] Demi Sepatu Anakku


Ani menatap dan mengusap sepatunya dengan sayang. Sebulir air mata menetes di pipinya. Teringat kata-kata wali kelasnya tadi pagi.

“Ani, Senin depan kamu menjadi pembawa bendera merah putih. Ibu minta, ganti sepatumu dengan sepatu berwarna hitam. Tidak perlu yang baru. Tapi yang warnanya hitam. Supaya serasi dengan teman-temanmu sesama petugas pengibar bendera. Oke?”

“Tapi Bu .. Saya..”

“Tidak ada tapi-tapian! Ibu sudah cukup toleran selama ini kamu menggunakan sepatu merah sedangkan teman-temanmu yang lain pakai sepatu hitam. Ibu tidak mau dianggap pilih kasih!” tegasnya.

***

“Ani, kamu kenapa?” sapaan ibu membuyarkan lamunannya. 

“Aah.. Nggak, kok. Nggak pa pa, Bu..”

“Jangan bohong sama ibu. Ayo cerita! Ada apa?” ibu langsung duduk di sebelahnya. Di atas sebuah tikar yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur.

Sepeninggal ayah, hanya ibu satu-satunya orang yang dimiliki Ani. Ibu bekerja sebagai buruh cuci, sementara Ani bisa bersekolah di sekolah terbaik berkat beasiswa kurang mampu yang didapatnya dari bantuan pemerintah. Biaya sekolahnya saja yang gratis, sementara seragam, sepatu dan peralatan tulisnya harus dibiayai sendiri. Sepatu merah Ani pun didapatnya dari lungsuran sepatu Marini, anak Bu Darman, langganan cuci ibu. Dan sepatu itu telah berumur tiga tahun. Seiring bertambah besar kakinya, sepatu itupun semakin usang. Dan kini terlihat berlubang di beberapa permukaannya.

sepatu butut

“Senin depan Ani jadi petugas upacara, Bu. Jadi pembawa bendera …”

Wajah ibu berbinar.

”Alhamdulillah..” tanggapannya spontan.

“Iya, Bu, alhamdulillah.. Tapi …”

“Tapi kenapa?”

“Tapi aku harus pakai sepatu hitam. Nggak boleh pakai sepatu merah…”

Ibu terdiam. Bingung harus menjawab apa. Ia sedikit menunduk.

“Tapi nggak pa pa kok Bu. Besok Ani bilang saja pada Bu Dahlia. Ani mengundurkan diri jadi petugas upacara. Supaya bisa digantikan yang lain. Iya.. Gitu saja Bu. Begitu pasti bisa..” Ani berusaha keras meyakinkan ibunya. Meski ia sendiri tak yakin dengan kalimatnya.

“Apa bisa begitu? Bukannya petugas upacara itu memang bergilir? Dan kali ini giliranmu. Iya kan?”

Ani terbelalak. Tak menyangka kalau ibunya sekarang juga bisa membaca pikiran.

“Sudah.. Tenang saja. Ibu tahu bagaimana caranya. Kamu tidur dulu saja sekarang. Besok siang kamu pulang sekolah, kita cari sepatu baru,” putus ibunya.

“Tapi Bu …”

“Sudah, tidur sana! Jangan lupa baca doa!” Ibu mencium kening Ani sekilas, lalu segera bangkit dan keluar dari kamar.

“… aku sudah punya solusinya..” bisik Ani lirih. Kalimatnya tertahan, karena ibunya sudah pergi sebelum ia sempat mengutarakan rencananya.

***

Ibu mengambil pisau dapur dan perlahan mengangkat baju kebayanya. Meraba-raba bagian tubuhnya.

Kemarin Bu Sarah bilang butuh donor hati. Mudah-mudahan hatiku cocok. Ucap batinnya.

“Lho, Ibu mau apa?” Ani terperanjat melihat sang ibu meraba bagian tubuhnya sendiri dengan mata pisau.

“Jangan cegah ibu, Ani.. Ibu rela jika ini demi kelangsungan sekolahmu.”

“Ibu ngomong apa sih? Ibu mau apa dengan pisau itu?” Ani mendidihkan air pada panci kecil dan memasukkan sedikit garam ke dalamnya.

“Ibu berniat menjual hati ibu untuk di-don-nor-khann,” suaranya sedikit tercekat. Ani mengernyit. Bergidik membayangkan mata pisau itu menembus tubuh ibunya. Dengan cekatan ia menuangkan bubuk kehitaman yang digenggamnya ke dalam air yang kini telah mendidih. Mengaduknya perlahan.

“Kamu ngapain?!” Ibu mulai penasaran dengan gelagat Ani. Konsentrasinya untuk mengambil hati dari tubuhnya buyar seketika. “Itu apa?” tanyanya.

“Ooh ini?! Ini wantex, Bu. Aku tadi baca kalau wantex bisa digunakan untuk mengubah warna kain. Kebetulan sepatuku kan dari kain, jadi semoga wantex ini bisa mengubahnya menjadi berwarna hitam, sesuai dengan permintaan bu Dahlia,” mata Ani berbinar-binar penuh semangat.

Seketika pisau di tangan ibu terlepas. Ia terduduk lemas. Menangis tersedu-sedu. Ani bingung dengan sikap ibunya.

“Ibu..?! Ibu kenapa?”

“Ooh Ani.. Kenapa ibu tidak berpikir begitu ya?! Kamu memang pintar, Nak. Ibu bangga sama kamu..” 

Keduanya berpelukan. Dalam hati ibu bersyukur.

Untung anakku sekolah. Kalau nggak.. habislah aku! Batinnya. Ia bergidik nyeri, membayangkan mata pisau itu menembus tubuhnya.

-selesai-

#remake FF dari cerita ini.

Enjoy! 😀

Iklan

22 pemikiran pada “[Remake] Demi Sepatu Anakku

    1. Waah.. masa sarkastik?

      Jangan-jangan saya harus cek otak juga nih.. 😉

      Tapi ini semata karena yang nggak di-remake bener-bener nggak logis kan?

      Bwahahaha 😆

      Jadi pengen rehat *eh? 😀

    1. Iya mas. Saya juga. Di sana pesan ‘kasih ibu sepanjang jalannya’ lebih nyampe ya? 😀

      Yang ini saya maksain supaya ceritanya tetep logis. Hahaha 😆

      Remake yang gagal :)))

      1. kalau mau sih dibikinnya, si anak masuk dengan sepatu yang dah dihitamkan dengan caranya dia, sedangkan si ibu sudah terlanjur menorehkan pisaunya itu untuk mencabut hatinya.

        *kok saya jadi kayak edisi psikopat ya… 😀 darah dan darah*

      2. Bwahahaha.. Gara-gara baca FF saya ya imajinasinya?
        Versi lainnya: Si ibu ditemukan terkapar dengan Hati dalam genggamannya sementara ada tamu datang (bu guru Dahlia dan teman-teman sekelas anaknya) datang menyumbangkan sepatu hitam.. 🙂

        Gimana? Gak nendang ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s