[PromptChallenge #15] Seandainya


Perempuan itu merapatkan jaketnya. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Wajahnya sedikit pucat. Aku hanya mampu mengawasinya cemas. Sementara konsentrasiku saat ini masih pada gagang telepon yang diletakkan di telinga kiriku. Menanti suara panggilan masuk berubah menjadi suara jawaban seseorang di seberang sana.

Nada panggil tetap terdengar di telingaku. Namun saat dering ke enam, suaranya berubah.

Klik.

Telepon seakan ditutup di seberang sana tanpa mengucapkan sapaan ‘halo’ sebelumnya.

Kutekan-tekan lagi nomor tujuan yang sudah kuhafal di luar kepala. Kali ini nada sibuk yang terdengar. Nyaris lima belas menit aku melakukan ritual yang sama. Semua ini demi mendapatkan kejelasan.

“Halo,” akhirnya telepon di seberang sana diangkat.

“Ya, halo. Saya keluarga dari pasien Maya Saraswati. Saya ingin menanyakan tentang obat yang kemarin dijanjikan untuk ibu saya …”

***

Kupandangi Ananda yang tengah menelepon di ruang tengah. Ia pasti sedang berusaha keras memperoleh tablet itu untukku. Semakin lama, semakin menipis saja rumah sakit yang menyediakannya untuk kami. Berbagai alasan dikemukakan, semacam persediaan yang semakin berkurang atau belum datangnya pasokan obat terbaru. Aku menarik napas panjang. Menekan sisi kanan perutku yang terasa nyeri. Rasa mual pun menjalar. Dan kali ini terasa lebih hebat dari sebelumnya. Mungkin efek samping dari obat yang kukonsumsi bertahun-tahun silam.

Sekelebat memori berputar-putar di benakku. Tentang pemeriksaan laboratorium, pengakuan Reno tentang perselingkuhannya, serta hari-hari yang harus kulalui dengan mengkonsumsi obat-obatan nyaris selama dua belas tahun. Aku terlalu mencintai Reno. Dan setelah perselingkuhan itu aku masih memaafkannya. Hingga akhirnya kuketahui ia mengidap virus HIV. Buah petualangan cintanya yang tak pernah berujung.

Sekelebat pertanyaan muncul di benakku. Jika ia terinfeksi, maka aku …?

Dan pemeriksaan laboratorium pun menjawabnya.

Aku hampir putus asa. Aku hampir menyerah, hingga mataku menangkap berita singkat di sisi kanan bawah surat kabar yang tengah kubaca. Sebuah harapan baru muncul di benakku. Aku yakin, masih ada harapan sembuh untukku.

Kupanggil Ananda namun tak ada suara yang terdengar. Kucoba menggerakkan kursi roda ini mendekat ke arahnya namun tubuhku terasa lemah. Aku pasrah. Kurasa, inilah saatnya.

***

BRUK.

Maya terjatuh dari kursi rodanya. Sebuah surat kabar terbuka di hadapannya. Sebuah judul besar tertera di sana.

“Ny. Djamillah Meramu Obat Menyembuhkan ODHA”

Seandainya kita dipertemukan lebih cepat. Lirih suara Maya terdengar. Sebelum ia menghembuskan napas yang terakhir.

Iklan

14 pemikiran pada “[PromptChallenge #15] Seandainya

  1. seperti biasa ending FFmu selalu tak tertebak mba 😀
    mantab 😀
    *diluar masalah obatnya udah ada beneran atau belom tp untuk fiksi ini sah 😀

  2. Moga2 obat seperti itu memang ada.
    Kasihan bagi orang yang tertular HIV seperti Maya, orang yang tidak melakukan seks bebas dan tidak mengkonsumsi narkoba, tapi harus ikut menanggung penyakit itu. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s