[Cermin] Mustahil


“Dek, kayanya A harus beli jeans yang baru deh,” suara Tony terdengar tatkala aku baru saja menidurkan Alya, putri kedua kami. Kutepuk pelan pantat mungilnya yang berbalut cloth diapers sebelum meninggalkannya dan berjalan mendekati suamiku.

“Kayanya Aa harus beli jeans yang baru deh..” ia mengulang ucapannya tatkala melihat kedatanganku.

“Memangnya kenapa jeans yang lamanya?” tanyaku.

“Nih lihat. Belel di bagian bawahnya dan saku belakangnya juga udah sobek. Bahaya kalau bawa dompet. Bisa jatuh.” tunjuknya. Kulihat sekilas. Ah ya benar. Sakunya sudah sobek.

Tetiba aku teringat celana jeansku, membuatku segera bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian. Mengaduk-aduk isinya dan mencari-cari celana jeansku.

Ketemu!

Celana jeans cutbray biru keabuan. Yang kubeli lima tahun silam. Masih bagus, berbanding terbalik dengan jeans milik Tony yang kini telah belel, meski kami membelinya bersamaan.

Kupandangi tampilan tubuhku di depan cermin. Mendekatkan jeans itu di depan pinggangku, lalu memutar tubuhku ke kiri dan ke kanan.

“Mustahil,” bisikku.

“Apanya yang mustahil?” Tony tiba-tiba datang.

“Mustahil jeans ini bisa kugunakan lagi. Lihat tubuhku. Melar di mana-mana.”

Tony melingkarkan pelukannya di pinggangku. Mencium pipiku lembut.

“Tapi tubuh ini juga kan yang telah membawa Alya dan Dania selama 9 bulan? I love you, Dear. Dengan atau tanpa jeans itu di pinggangmu.”

Wide-Leg-Pants-Will-Become-Trend-in-2011

Iklan

2 pemikiran pada “[Cermin] Mustahil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s