Bandara Udara, antara melambaikan tangan dan pertemuan kembali


Sebelum saya menikah, transportasi yang paling sering saya gunakan adalah kereta api. Kemana-mana pasti ketemu sama gerbong dan lokomotif. Ke Jakarta? Naik BIMA. Ke Bandung? Argo Wilis dan Turangga. Ke Yogyakarta? Ya naik Sancaka. Begitupun setelah menikah dan punya anak pertama, Syifa, saya juga masih setia dengan kereta api.

30683_1482136292576_793636_n
Stasiun Gubeng

Namun ketika akhirnya akung dan utinya keburu kangen cucu-cucunya sementara bapaknya anak-anak masih belum bisa libur, transportasi udara pun jadi pilihan. Tak lagi membutuhkan 14 jam berada di atas kereta api dengan segala kerepotannya membawa dua balita (pup, pipis). Saya bisa sedikit bernapas lega ketika berangkat dengan pesawat terbang yang membutuhkan tak lebih dari 70 menit dari Bandung ke Surabaya. Praktis dan ekonomis. Apalagi harga pesawat dan kereta api pun kini semakin bersaing. Meskipun kalau ada yang mendampingi, #kode saya lebih nyaman bepergian dengan kereta api. :mrgreen:

Reina dan Syifa
Bandara Husein Sastranegara – Bandung

Jadilah bandara udara menjadi tempat yang cukup akrab untuk kedua anak saya. Berangkat pagi-pagi dari Bandung diantar ayahnya ke Bandara Husein Sastranegara, tanpa linangan air mata -saking seringnya.. :D- dan sampai di Bandara Juanda dengan dekapan erat akung dan utinya.

Begitupun saat pulang nanti. Ketika diantar akung dan utinya dengan lambaian tangan ‘sampai ketemu lagi‘ juga sudah nggak pakai acara tangis-tangisan. Beda banget sama acara saya pertama kali berangkat ke Bandung setelah menikah dan diantar bapak – ibu saya ke Stasiun Gubeng. Kok yo rasanya mbrebes mili.. *halaagh 😆

Begitulah.

Baik bandara udara, stasiun atau bahkan terminal, adalah sebuah tempat untuk melambaikan tangan disertai ucapan ‘selamat jalan’, dan pada saat yang sama juga sebuah tempat perjumpaan dan pertemuan kembali. Sebuah tempat yang menyimpan kisahnya masing-masing.

Ini cerita saya tentang bandara udara.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mana ceritamu?

Share di lampu bohlam yuuk!

Iklan

13 pemikiran pada “Bandara Udara, antara melambaikan tangan dan pertemuan kembali

      1. Mungkin karena aku tinggal di dekat setasiun, anakku terobsesi dengan kereta api. Bahkan, jalan2 di hari minggu pun, dia sering minta naik kereta, muter muter jakarta.

      2. Saya waktu ke Jakarta paling sering turunnya di Jatinegara. Tapi kalau pulang ke Surabaya lewatnya dari Gambir.. 😀

        Yang terobsesi kereta api itu keponakan saya yang pertama. Sekarang sudah kelas 2 SD. Sayangnya sekarang gak sembarang orang boleh masuk ke stasiun. Harus penumpang saja. Kalau pengantar pun hanya sampai di luar. 😦

  1. kl di sini aku juga suka naik kereta mbak, sama sama nyamannya dgn pesawat sih 🙂

    wah .. kl diurai satu satu bakalan byk juga ya mbak ide postingan ttg pertemuan dan perpisahan di airport mauapun stasiun kereta 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s