[BeraniCerita #13] Batu Nisan


Aku terduduk di samping sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Kata mereka kamu beristirahat di sini. Tepat di bawah batu nisan ini. Seharusnya aku datang lebih cepat. Seharusnya aku bisa membisikkan kalimat ‘aku mencintaimu’ tepat di telingamu. Bukan di atas gundukan tanah seperti ini.

Ah sayang… mengapa kau tidak menungguku?

Aku terdiam di atas sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Tempat peristirahatan terakhirmu. Sungguh… aku merasa sangat menyesal. Seandainya aku bisa memilih. Aku tak pernah ingin jauh darimu. Dan tetiba kenangan itu memenuhi kepalaku. Menyusun kepingan demi kepingan memori dan membawa satu gambaran utuh tentang kami. Aku dan dia.

Tentang Ratih.

Ya Ratih.. Masih teringat jelas dalam ingatanku bagaimana kita dulu menghabiskan waktu berdua. Hanya kau dan aku hingga suatu hari aku harus meninggalkanmu. Mengadu nasib menjadi TKI di negeri orang. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin selalu berada di dekatmu. Menatapmu, membelai indah rambutmu. Setiap hari. Setiap aku ingini. Menggenggam jemarimu, mengecup keningmu dan menyesap kebahagiaan bersamamu.

Tiga bulan. Hanya tiga bulan aku menyesap indahnya kesempurnaan hidup bersamamu. Karena selepasnya aku harus pergi ke negeri orang, demi memberikan kehidupan yang lebih layak untukmu, untukku. Untuk kita.

“Aku pasti segera kembali, Dik..” kugenggam tangan Ratih dan menciuminya dengan sayang. Bulir-bulir bening itu menetes deras di pipinya. Masih teringat jelas senyummu saat melepas kepergianku. Senyum berbalut kesedihan yang sekuat tenaga coba kau tutupi. Senyum getir, karena aku juga merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Sementara senyum itu ternyata senyum terakhir yang kau berikan untukku.

***

DAUN GUGUR

“Dia sudah pergi, Man..” Ibuku membawa kabar duka tentang Ratih.

Aku tak mampu berkata-kata ketika mendapati tak ada lagi Ratih di kamar yang membawa sejuta kenangan indahnya kebersamaan kami. Ia memilih pergi. Tanpa sempat berkata sepatah katapun padaku. Hanya menitipkan sepucuk surat pada ibuku. Lalu pergi. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan dalam benakku.

Apa salahku? Mengapa ia pergi meninggalkanku?

Dan di atas batu nisan ini aku menemukan jawabannya. Dengan selembar kertas terbuka dalam genggaman tanganku.

“Mas Arman, maafkan Ratih. Ratih harus pergi. Maafkan Ratih yang tak sempurna ini. Ketika surat ini sampai di tangan Mas Arman, mungkin Ratih sudah nggak ada di sisi Mas lagi. Ibu pasti bisa menjelaskan. Hanya satu alasan Ratih pergi. Semata karena Ratih belum siap menerima semua ini. Bukan.. bukan karena pekerjaan Mas, atau kekuranganmu sebagai suami. Ini semata hanya karena ketidaksempurnaan Ratih mengemban amanah.

Ratih minta, mohon maafkan Ratih ya Mas. Suatu hari nanti, Mas pasti mengerti..” 

“Ratih masih belum bisa menerimanya, Man. Apalagi wajahnya sangat mirip denganmu. Dia masih belum bisa menemuimu. Sabar ya, Le..” Ibu mengusap punggungku untuk memberikan kekuatan.

Di atas batu nisan tanpa nama aku terduduk. Aku bahkan belum memberikan nama untuknya. Belum sempat memandang wajahnya. Wajah anakku yang katanya mirip denganku. Yang meninggal saat ia dilahirkan. Yang membuat Ratih terpukul dan pergi meninggalkanku.

Di atas batu nisan aku menangis. Di atas pusara putraku.

banner-BC#13

Quote :

Better three hours too soon than a minute too late.
~ William Shakespeare

 

Iklan

27 pemikiran pada “[BeraniCerita #13] Batu Nisan

    1. Bukan Mba Armita. Anaknya ya anaknya si ‘aku’ dalam cerita ini, yaitu si Arman. Cuma waktu dia pergi merantau, dia gak tahu kalau istrinya sedang hamil. Dan ‘wajahnya mirip denganmu’ itu menunjukkan kalau anak yang dilahirkan mirip bapaknya.

      Rasa kehilangan membuat Ratih meninggalkan Arman karena kalau melihat wajah Arman, ia jadi teringat lagi wajah bayinya yang meninggal..

      🙂

      1. ooh… begitu… langsung tokcer ya berarti..
        hahaha.. soalnya sy nikah gak langsung punya anak.
        tak kirain si ratihnya frustasi di tinggal pergi sama arman, trus malah bertingkah yg gak-gak..

        oke lah kalo beigtu 🙂 🙂

  1. pertanyaan : setting cerita ini tahun berapa? dengan kemajuan teknologi kabar kehamilan Ratih pasti akan dengan mudah sampai pada Arman. Lalu apa yang menghalangi Arman untuk pulang? 🙂

    1. Setting cerita sekitar 2008-2009 kakak Riga. Dan kabar kehamilan Ratih memang sudah diketahui oleh Arman. Yang menghalangi Arman untuk segera pulang adalah kontrak kerjanya (Arman ini seorang TKI yang memang bekerja sesuai kontrak kerja. Dan setahu saya, TKI yang bekerja di luar negeri memang tidak bisa pulang ke tanah air sesuka hatinya dan juga harus menyesuaikan dan menyelesaikan kontrak kerja yang disepakatinya.).
      Ketika akhirnya Arman pulang, ibunya tidak memberitahukan tentang kepergian Ratih, dan baru memberikan suratnya setelah Arman datang. Kepergian Ratih dalam cerita ini semata karena menghindari bertatapan wajah dengan Arman, mengingat wajah sang bayi yang meninggal itu mirip dengan Arman, suaminya.

      Demikian penjelasan saya yang nggak bisa diceritakan dengan detil dalam FF ini.. 🙂

      1. i see….
        coba deh diselipin satu kalimat yg menyebutkan kalau si Arman ini TKI biar pembaca ‘ngeh’ apa penyebab si Arman nggak bisa pulang.
        good job kakak… 🙂

    1. Alasan dia pergi karena belum bisa menerima kenyataan bayinya meninggal saat suaminya pergi bertugas. Ini seperti akumulasi perasaan bersalah tidak dapat mengemban amanah untuk menjaga si bayi dan juga menghindari bertemu suaminya yang akan semakin mengingatkannya dengan si jabang bayi.

      Sepertinya ratih pergi untuk berdamai dengan hatinya. 🙂

  2. Berhubung sudah 2 kali saya nyoba bikin FF. Baca yg sebagus ini aku jadi ngiler mau ngasah kemampuan teriis biar bisa kbh bagus karyanya. Hehehe kalo dulu sblm coba pasti udah ciut duluan 😀

  3. penasaran dari mana awalnya penulis memakai kata “tetiba”? Aku sempat jg ikut-ikutan tanpa menyelidiki kalau tidak tdk sesuai EYD. Yg benar: “tiba-tiba.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s