Sebuah kisah tentang Daroji


Prompt 13

Lelaki itu melihatku nyaris tak berkedip. Mulutnya sedikit mengerucut. Pandangannya memang tidak tajam, namun dilihat selama lebih dari lima belas menit tanpa bersuara dan ย hanya fokus padaku saja, tentu tak ayal membuatku bertanya-tanya.

“Lu kenapa sih?” tanya Beno sambil berbisik ke arahku.

“Maksud loe?”

“Iya.. tuh bapak ngeliat loe mulu. Lu gak aneh-aneh kan?” tuduhnya.

Aku melihat sekilas ke arah si bapak. Yang masih menatapku tak bersuara. Aku menduga-duga dalam hati.

Kenapa dia ngeliat ke arahku terus ya? Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiran? Aku jadi bergidik sendiri. Tak berani menduga-duga lebih jauh.

Tak lama kemudian, si bapak berbaju biru itu berjalan mendekat ke arah kami, mengambil posisi duduk di sebelah kursi kami. Ia tengah berbincang dengan seorang pelanggan warung nasinya. Tempat duduk kami bersebelahan. Tentu saja aku bisa mendengar ucapannya.

“Pak, sehat?” tanya lelaki berkaos hijau di meja sebelah.

“Alhamdulillah..”

“Kenapa dari tadi kelihatan ngelamun, Pak?”

“Ooh.. itu. Saya ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Sekitar lima tahun kemarin. Tiba-tiba saja saya teringat.”

“Memangnya ada apa Pak?” tak hanya sang pemuda yang dibuat penasaran. Aku dan Beno pun memasang telinga lebar-lebar.

“Ah ini hanya cerita tentang Daroji.”

“Daroji? Siapa dia?”

“Daroji ini masih mahasiswa. Sama seperti kalian semua di sini. Dia juga anak kost. Cuma sayangnya nasibnya kurang bagus.”

“Maksudnya?”

“Iya. Daroji ini nasibnya tragis. Dia pernah beli makan di warung tetangga saya. Tuh di ujung sana. Tapi warungnya sekarang sudah tutup. Waktu itu dia ditanya, beli apa saja, makan apa saja. Cuma sayangnya dia nggak jujur. Dia mengambil telur ceplok dua buah tapi ngakunya hanya satu. Singkat cerita, waktu pulang dari warung itu, dia kecelakaan pas waktu mau nyebrang ke kampusnya. Peristiwa itu jadi pelajaran untuk semua mahasiswa di sini. Namanya dikenal sebagai Daroji. Dahar loro tapi mayarna hiji.. (makan dua tapi bayarnya cuma satu)”

Dan bapak pemilik warung itupun beranjak dari kursinya karena ada beberapa mahasiswa yang mau membayar makanannya.

Tetiba perasaanku jadi nggak enak. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku berbisik pelan ke arah Beno.

“Ben..”

“Apa?”

“Lu bawa duit lebih kan ya?”

 

Iklan

13 pemikiran pada “Sebuah kisah tentang Daroji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s