[Saya iri sama] Fatin dan Rossa


Ada yang suka nonton X Factor nggak?

Hayoo siapa jagoannya?

Kalau saya dulu nge-jagoin Shena dan suara kerennya. Eh sayangnya Shena udah tersisih duluan. Oya, jujur aja waktu jamannya masih audisi, saya juga sempet dibikin terperangah oleh suara kerennya si Fatin.. 🙂

Meski sebenarnya saya inget kalau tiap Jumat malem itu waktunya nonton X Factor, saya suka lupa aja dan kadang ketinggalan karena ribet sendiri sama anak-anak. Akhirnya saya milih nonton di youtube aja. Seperti malam ini (baca: pagi buta). Saat anak-anak udah tidur, saya berselancar dan terdampar di video ini.

Ada yang udah pernah nonton?

Yang mau saya bahas di sini sebenarnya bukan penampilan Fatin ataupun lagunya. Tapi sebuah pelajaran lain di balik penampilannya malam itu. Termasuk juga hubungan yang terjalin antara Fatin dan Rossa. Hubungan mentor dan anak didiknya.

Oke deh, buat yang nggak bisa streaming youtube karena baca postingan ini lewat hp, maka saya ceritakan sedikit kronologisnya.

Ketika itu, Fatin mendapat tugas untuk menyanyikan lagunya LENKA yang Everything At Once. Nah ternyata saat ia tampil, Fatin nggak hafal lirik lagunya. Bahkan terdengar jelas kalau di beberapa bagian lagu dia nggremeng (bergumam) saja. Kecuali di bagian lirik “oo oo ooh.. are you wanna be..” itu jelas banget nyanyinya.. :mrgreen:

Nah, yang nonton di rumah aja jelas ngelihatnya, apalagi juri yang ada di studio kan? Termasuk Rossa sang mentor.

Melihat anak didiknya gelagapan, apa yang dilakukan Rossa?

Di sinilah saya mau cerita.

JENG.. JENG..

Sebagai mentor, ada dua hal yang akan kita lakukan (reaksi) jika kita dihadapkan pada situasi (aksi) seperti ini.

Pertama. Kita akan menyalahkan si anak didik karena melakukan kesalahan

Dan yang Kedua. Kita akan tetap mensupportnya karena bagaimanapun sang mentor bertanggungjawab penuh terhadap anak didiknya.

Dan yang dilakukan Rossa adalah … melakukan hal yang kedua. Mensupport.

Saya iri banget sama Fatin.

Di masa lalu, saya juga punya pengalaman yang mirip seperti ini. Waktu saya kerja, saya punya mentor juga. Saya ditraining oleh si mentor untuk menempati posisi tertentu. Nggak perlulah saya jelasin panjang lebar saya kerja di mana, posisi apa dan siapa nama mentornya kan?

Intinya. Saya melakukan kesalahan.

Kesalahan yang nggak sefatal Fatin. Nggak dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kesalahan yang aah-pokoknya-begitulah. Menurut pengalaman sebelumnya, sepertinya pernah kejadian sama orang lain juga sepertinya. Namun yang saya terima saat itu, si mentor justru menjatuhkan harga diri saya. Menyalahkan dan menyudutkan saya dan mempermalukan saya. Kalau boleh jujur, sebenarnya bisa saja kan dia menegur saya secara empat mata. Tanpa perlu di hadapan teman-teman lain yang nggak ikut terlibat di dalamnya. Yang tidak berkompeten dan tidak perlu ikut campur pada urusan kami. Tapi dia (si mentor) tidak melakukannya.

Ini yang bikin saya iri sama Fatin. Karena dia punya mentor seperti Rossa.

Coba lihat reaksi Rossa saat Fatin masih berada di atas panggung dan bernyanyi dengan kalimat nggremeng dan terbata-bata. Rossa justru bangun dari kursinya seperti ia biasa mensupport anak didiknya. Ia tetap tersenyum. Dan begitu Fatin selesai menyanyi dan terlihat terpukul (karena dia merasa penampilannya berantakan) Rossa buru-buru naik ke atas panggung untuk memeluk Fatin!

fatin-dan-ocha-nangis
Fatin di-support Rossa

Padahal Fatin nangis bukan karena dimarahi, melainkan dia sadar sendiri kalau dia salah.

Seandainya saya punya mentor seperti itu.. 😐

Melihat video itu membuat saya terlempar jauh ke masa lalu. Berandai-andai kalau saat itu si mentor yang mendidik saya berkata sama lembutnya dengan Rossa. Menegur dengan pelan tanpa harus menyamai suara petir menggelegar, mungkin saya akan lebih respect padanya. Mungkin hubungan kami jadi lebih manis. Dan saya akan punya kenangan yang indah tentang seorang mentor yang baik hati dan penyayang.

Ah ya. Seandainya saja seperti itu.

Kalau kamu, pernahkah punya pengalaman seperti saya? Ataukah nasibmu justru seberuntung Fatin?

 

Share with me.. 🙂

 

PS: Judul “[Saya iri sama] Fatin dan Rossa” bikin salah persepsi kayanya. Ada yang mengira saya iri dengan perlakuan istimewa Fatin yang diperoleh dari Rossa yang selalu melindunginya. Padahal maksud saya di sini lebih dari cara Rossa memperlakukan anak didiknya. Dilihat dari komentarnya pas ditanyai penampilan Fatin, Rossa pun menjawab,  “nggak akan dimarahin. dimarahinnya nanti di belakang panggung. dijewer!”

Nah di sini kelihatan kan kalau Rossa tahu Fatin sedikit (atau banyak?) mengecewakan penampilannya malam itu. Tapi alih-alih membuat dia semakin drop, Rossa memilih untuk menunda menegurnya. Nanti. Saat mereka sudah berdua. Hanya mereka berdua saja.

Itu aja sih guys.. Inilah yang saya suka dari diskusi.

 

Yuuk dilanjut diskusinya.. 😀

 

 

Iklan

18 pemikiran pada “[Saya iri sama] Fatin dan Rossa

  1. aku ngelewatin x-factor beberapa minggu ini, mbak. aku suka rossa, beberapa kali fatin melakukan hal yang fatal, tapi dia tetep mengakui kekurangan fatin dan mendukung fatin 🙂

  2. Wah sayang asmie bukan penggemar televisi jadi gak tahu tuh yang namanya X factor [apaan ya?]
    Tapi yang pasti hidup itu keras jeung, soal dimarahi mentor karena kesalah didunia kerja, buat asmie wajar banget, mau didepan umum atw empat mata, asmie mah sudah biasa, tapi guess what? semua itu yang membuat asmie kuat, tahan banting dan jadi banyak pengalaman.
    klo sekarang… suruh ngadepi bigboss langsung dan sangat vokal untuk ngutarakan pendapat pasti asmie lakukan asal penuh dengan strategi..
    jadi hidup itu tidak mudah… keluarlah… tunjukkan “gigimu”, jangan mengharap orang lain jadi pelindungmu, tapi jadilah “Pejuang”..

      1. Yup… 🙂

        Ini cerita tentang jaman aku masih kerja Non. Di bagian yang nggak aku ceritain, aku tetap berusaha melakukan yang terbaik meski dia selalu nyari-nyari bahkan sampai hal terkecil kesalahanku supaya ada yang bisa dia cecar dari kerjaanku. Hasilnya?

        Lama kelamaan aku semakin terbiasa dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan ketika akhirnya nggak ada lagi yang bisa dia cecar dan kerjaanku pun udah ‘beres’, aku memilih mundur dari kerjaan. Pindah kerjaan yang lebih membuat aku enjoy.

        Bukan kabur dari dia, semata aku memilih melakukan kerjaan yang membuat aku nyaman aja. Supaya nggak ngerasa bekerja dengan kepaksa. Dan masalah kerjaan di tempat lama, aku buktiin kalau aku keluar bukan karena lari dari tanggung jawab. Justru aku keluar ketika aku udah bisa melakukan kerjaan dengan baik bahkan di luar ekspektasi mentor itu.

        Sekian curhat pagi saya.. 🙂

        Terima kasih telah bersedia mendengarkan. Stay tune di rinibee FM.

        Oke, kita putar lagu berikutnya ….

        *dikira penyiar radio* :mrgreen:

    1. Kalau saya cuma nyorot satu episode ini aja mas Ryan. Saya bahkan nggak tahu kalau ternyata Fatin udah beberapa kali melakukan kesalahan seperti ini (ketahuan nggak ngikutin X Factor).

      Tapi pas lihat video ini, saya langsung inget mentor saya yang galak dan mulai berpikir kalau saya nggak punya mentor galak kaya dia, mungkin saya malah jadi melempem deh.. :mrgreen:

      😀

      1. nah itu Mba.
        dulu saya sering kesel kalau papa suka marah dan banding2in saya sama teman pas kasih hasil ulangan gak 10. padahal temenku itu juga gak ada yang 10. tapi sekarang… seneng karena papa gitu, jadi saya bisa berusaha terus untuk lebih dibandingin yang lain.

      2. Iya. Saya baca di tulisan yang mas Ryan kirim di email. Saya juga jadi bersyukur sekarang, kalau gak ada mentor galak itu mungkin saya masih jadi orang melempem dan manja (pinjem istilahnya Asmie).. 😀

        Nuhun buat share-nya yaa… 🙂

  3. Hihihi gak nonton episode ini. tp tau gegara temen ngejadiin JOKES ” Hay kalau nanti aku salah, aku lupa punya janji di maafin ya, FATIN lupa lirik aja gak masalah kan?” #apahubungannya coba. Krik-Krik

    Ahhhh mentor oh mentor. saya mengalami keduanya. dijatuhkan pernah, di support juga tak jarang.

    menjatuhkan seseorang agar dirinya bisa terlihat hebat? This is my leader tipikal. gkgkgk #GakNyambung Abaikan

    1. Nyambung!!!

      Toss ya Jun. Kayanya tipikal para mentor nih ya. Nyalahin anak buah dulu biar dia kelihatan hebat.. :mrgreen:

      Tapi dengan adanya mentor belagu, kita jadi gak melempem kan? Tul gak?

      *nyaritemen*

  4. Saya lebih suka Nudi, mbak. hehe.
    Wajar juga kalo Fatin lupa. ada 3 lagu waktu itu, dan para kontestan sibuk pulang & ketemu keluarga. Efek yg satu ini ga mudah bagi Fatin yg masih remaja.

  5. Aku slalu ngikutin X factor tiap minggunya mba…
    aku juga suka fatin sejak dia AUDISI hehe
    dan sempat juga pengen bikin posting tentang x factor cuma ga slesai slesai haha

    1. Nggak pa pa nggak nonton mba Ely. Di sini saya cuma mau cerita tentang cara Rossa membimbing seorang penyanyi pemula dan bagaimana ia memposisikan diri sebagai mentor saja. Kalau mau lihat videonya, ada di youtube. Itu di atas sudah saya kasih link url videonya. Bisa dilihat di sana.. 🙂

      Terima kasih sudah mampir ke sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s