[BeraniCerita #12] Demi sepatu anakku


Ani menatap dan mengusap sepatunya dengan sayang. Sebulir air mata menetes di pipinya. Teringat kata-kata wali kelasnya tadi pagi.

“Ani, Senin depan kamu menjadi pembawa bendera merah putih. Ibu minta, ganti sepatumu dengan sepatu berwarna hitam. Tidak perlu yang baru. Tapi yang warnanya hitam. Supaya serasi dengan teman-temanmu sesama petugas pengibar bendera. Oke?”

“Tapi Bu .. Saya..”

“Tidak ada tapi-tapian! Ibu sudah cukup toleran selama ini kamu menggunakan sepatu merah sedangkan teman-temanmu yang lain pakai sepatu hitam. Ibu tidak mau dianggap pilih kasih!” tegasnya.

“Baik, Bu..” Ani berjalan pelan tanpa menoleh lagi. Samar-samar suara bisikan Bu Dahlia mampir di telinganya.

“Apalagi sepatunya juga sudah butut begitu..”

JDER..!

Sakit hatinya. Bagai sebuah palu godam raksasa diayunkan langsung di depan dadanya.

***

“Anii.. Ani…!” panggilan ibu membuyarkan lamunannya.Β Belum sempat ia mengusap air matanya, tirai kamar sudah tersibak. Ibu berdiri di hadapannya.

“Kamu kenapa?”

“Aah.. Nggak, kok. Nggak pa pa, Bu..”

“Jangan bohong, Ani. Kau pikir Ibu bisa dibohongi dengan mudah? Ibu tidak membesarkan seorang pembohong. Ayo cerita! Ada apa?” ibu langsung duduk di sebelahnya. Di atas sebuah tikar yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur.

Sepeninggal ayah, hanya ibu satu-satunya orang yang dimiliki Ani. Ibu bekerja sebagai buruh cuci, sementara Ani bisa bersekolah di sekolah terbaik berkat beasiswa kurang mampu yang didapatnya dari bantuan pemerintah. Biaya sekolahnya saja yang gratis, sementara seragam, sepatu dan peralatan tulisnya harus dibiayai sendiri. Sepatu merah Ani pun didapatnya dari lungsuran sepatu Marini, anak Bu Darman, langganan cuci ibu. Dan sepatu itu telah berumur tiga tahun. Seiring bertambah besar kakinya, sepatu itupun semakin usang. Dan kini terlihat berlubang di beberapa permukaannya.

sepatu butut

“Senin depan Ani jadi petugas upacara, Bu. Jadi pembawa bendera …”

Wajah ibu berbinar,Β “Alhamdulillah..” tanggapannya spontan.

“Iya, Bu, alhamdulillah.. Tapi …”

“Tapi kenapa?”

“Tapi aku harus pakai sepatu hitam. Nggak boleh pakai sepatu merah…”

Ibu terdiam. Bingung harus menjawab apa. Ia sedikit menunduk.

“Tapi nggak pa pa kok Bu. Besok Ani bilang saja pada Bu Dahlia. Ani membatalkan diri jadi petugas upacara. Supaya bisa digantikan yang lain. Iya.. Gitu saja Bu. Begitu pasti bisa..” Ani berusaha keras meyakinkan ibunya. Meski ia sendiri tak yakin dengan kalimatnya.

“Apa bisa begitu? Bukannya petugas upacara itu memang bergilir? Dan kali ini giliranmu. Iya kan?”

Ani terbelalak. Tak menyangka kalau ibunya sekarang sudah menjadi pembaca pikiran.

“Sudah.. Tenang saja. Ibu tahu bagaimana caranya. Kamu tidur dulu saja sekarang. Besok siang kamu pulang sekolah, kita cari sepatu baru,” putus ibunya.

“Tapi Bu …”

“Sudah, tidur sana! Jangan lupa baca doa!” Ibu mencium kening Ani sekilas, lalu berjalan menuju dapur yang terletak di bagian samping gubug reyotnya.

Diambilnya pisau dapur dan perlahan ia mengangkat baju kebayanya. Meraba-raba bagian tubuhnya dan mulai mengiris perlahan di bagian dadanya. Setelahnya dikeluarkannya sebuah benda mungil berwarna merah menyala. Lalu mengambil isolasi untuk menutup dan merekatkan bagian yang sedikit menganga.

Kemarin Bu Sarah bilang butuh donor hati. Mudah-mudahan hatiku cocok. Ucap batinnya.

Diusapnya bagian lain tubuhnya, tempat ginjalnya dulu pernah berada. Ginjal yang dijualnya sebelah saat Ani butuh uang untuk membeli buku dan seragam sekolah.

Dua tahun yang lalu.

banner-BC#12

-selesai-

PS: Flash fiction yang dipadukan dengan fiksi mini. :mrgreen:

Enjoy..!

[FM: SEPATU. Β Dari lubang menganga di dadanya, dikeluarkannya benda berwarna merah. “Kemarin ada yang butuh donor hati. Semoga milikku ini cocok. Aku butuh uang untuk membeli sepatu anakku.”]

Iklan

37 pemikiran pada “[BeraniCerita #12] Demi sepatu anakku

  1. Walaupun ff bukannya ada unsur logis? *inget kata mbak nurus*
    Hati ato ginjal mbak? Hati beda ma ginjal. Ginjal letaknya bkn di perut. Dan di alinea atas dibilang,dia mengiris bagian dada,berarti jantung dunk.
    Trus alinea berikut dibilang jual hati. Alinea penutup ginjal.
    Well,mgkn coba di gugling sapa tau saya salah πŸ˜‰

    1. Coba dibaca ulang ya mba.. Yang diiris sekarang itu hati. Nah ginjalnya sudah dijual dua tahun yang lalu.. πŸ™‚

      Iya, saya tahu ending FF saya kali ini gak logis. Memang sengaja saya bikin mirip FM.. πŸ˜€

      Terima kasih yaa.. πŸ™‚

    2. Mak ranny baca lagi, klo ginjal itu donornya udah 2 tahun , klo hati ya baru mau, tapi saya juga ngeri serem bisa nahan sakit sayat2 huhuhu

      kerennnn

  2. Mau tanya dong, Jeng. Beberapa kali baca FM nyaris hampir semua kisahnya spt itu. Ttg organ tubuh, anggota badan, dll yg sejenis. Apakah FM hrs seperti itu? Maklum, aku lom paham dan lom pernah bikin yg kayak gitu hehehehhe….serem rasanya.

    BTW, FM nya keren πŸ™‚

  3. Semua orang bisa jadi dokter bedah kalo gitu! Bhahaha, segitunya banget deh ah! Seyemmmm, nih hati gue buat elo! #nyodorin jantung… *tsaaah

  4. Aduh mbak, tadinya mau gak komen karena ini udah agak lama
    Tapi karena tergelitik jadi komen deh, hehehehee

    Cuma lagi membayangkan aja, setelah hatinya diambil sendiri, trus nanti ngasihnya gimana ya? Ngebayangin si Ibuk bilang ke Bu Sarah, “Bu, saya mau mendonorkan hati saya, ini silakan.” Sambil nyerahin kresek isi hati. Aakk.. Trus kalo nggak cocok kan sayang hatinya udah diambil 😦

    *cuma komen geje ngebayangin kelanjutan kisah ini πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s