Cerita di balik Harry Potter


Siang ini saya lagi browsing ke sana ke mari. Berselancar nyari ide dan juga blogwalking. Mumpung si dede lagi bobo dan kakak asyik maen tanpa keinginan mendalam menatap saya dengan mantra ‘mama aku mau nonton upin ipin’-nya. Okesip. Mari kita berkelana di dunia maya.

Dan terdamparlah saya di sebuah artikel aneh bin ajaib dengan judul yang aneh juga.

Kisah ‘HARRY POTTER’ Ternyata Siratkan Hal Berbau Seks

Membaca beberapa poin dari artikel ini membuat saya tertawa ngakak. Sungguh artikelnya nggak penting banget. Kaya nggak ada bahasan lain aja sampai membuat artikel macam ini.

Oya, sebelumnya saya mau cerita kenapa saya sampai terdampar di artikel ini. Saya kebetulan lihat tema fiksi mini di grup MFF. Topiknya tentang RAMBUT. Dan seketika saya teringat akan cerita Harry Potter yang meminum sebuah ramuan supaya dia bisa berubah wujud. Sayangnya, saya lupa nama ramuannya. Maka, saya pun membuka google dan mengetikkan kata kunci di kolom pencarian dengan kalimat ‘harry potter ramuan untuk berubah wujud’. Dan TARA…

Beberapa daftar artikel terhampar di hadapan saya dan saya klik salah satu artikel.

Saya kutip di sini ya kalimat dalam artikelnya.

“Semua pasti termangu takjub saat Harry Potter dan kawan-kawan berubah wujud menjadi sepenuhnya orang lain dengan Polyjuice Potion. Bayangkan hanya dengan mengambil sehelai rambut dan memasukkannya ke ramuan, seseorang bisa berubah wujud menjadi sosok yang ditiru. Jus ini memungkinkan seseorang untuk bertransformasi menjadi sosok lain baik itu sama atau berbeda kelaminnya. Bukan hanya wajahnya saja, namun seluruh tubuh, termasuk kemaluannya.

Ramuan ini banyak digunakan dalam ketujuh kisah Harry, beberapa di antaranya antara lain Barty Crouch Jr yang meloloskan diri dari penjara dengan meyamar sebagai ibunya. Lalu ada Ron, Hermione dan kawan-kawan yang berubah wujud menjadi Harry untuk mengecoh Voldermort dan pasukannya. Sepertinya terlihat sepele, namun coba bayangkan kondisi kejiwaan para penyihir yang kerap berubah wujud menjadi sosok berjenis kelamin berbeda. Bukan tak mungkin bila ada penyihir jahil yang ingin mengintip kemaluan lawan jenis mereka tinggal mencabut rambut si korban dan membuat ramuan polijus sesuka hati. Bahkan bisa jadi ada jasa penyediaan rambut tokoh terkenal untuk kemudian diperjualbelikan.”

 

Baca deh bagian yang saya bold dan tulis miring. Itu apa-apaan sih? Saya aja nggak kepikiran sampai ke sana waktu membaca novel Harry Potter. Harry Potter itu novel petualangan. Novel yang diperuntukkan untuk anak remaja dan dewasa. Kenapa saya nggak bilang Harry Potter cocok untuk anak-anak? Karena ceritanya terlalu kelam menurut saya.. 😀

Mungkin Harry Potter satu dan dua cocok untuk anak-anak meski di setiap cerita Harry Potter selalu dibuat sesuai dengan kondisi nyata. Ada bahagia dan juga sedihnya. Ada si jahat dan si baik pun juga ada kelahiran dan ada kematian.. 🙂

Tapi semakin ke belakang, sudah nggak cocok buat dibacakan untuk anak-anak. IMHO.

Oke, kembali lagi ke bahasan artikel yang bilang cerita Harry Potter ternyata siratkan hal berbau seks. Aisshh.. Ini terlalu lebay menurut saya. Gimana nggak? Ini mah bisa-bisanya si penulis artikel. Dan saat saya membaca novel Harry Potter buktinya saya adem ayem aja. Meski beberapa cerita bikin saya senyum-senyum apalagi waktu baca adegan Harry jatuh cinta, atau first kiss-nya dengan Cho Cang (asli bahkan sekarang saya lupa adegannya kaya gimana.. :mrgreen:) dan masa-masa berantem benci-tapi-rindunya Ron dan Hermione. Semuanya natural. Masa-masa remaja. Semua orang pernah kan ngerasa crush on someone? Dan jelas sensasi ini beda dengan ketika baca buku novel yang bikin ‘panas dingin’ –you-know-what-I-mean-?- semacam Harlequin atau Amore kan?

Tentu saja beda!

Pokoknya saya bilang beda.

Oya, yang penasaran mau baca artikelnya, silakan saja mampir ke situs ini. Saya kasih link-nya ya.. 🙂

Monggo dicek.

Oya, itu ada beberapa poinnya. Lima kalo nggak salah. Silakan dibaca satu persatu, ntar share di sini ya. Kalau kalian penikmat novel dan film Harry Potter yuuk share sama saya. Gimana menurut kalian isi artikelnya?

Atau buat yang udah nonton filmnya mungkin, apa pendapat kalian tentang film Harry Potter dan kira-kira isi artikelnya bener apa nggak?

Saya tunggu ya.. 😀

 

Iklan

10 pemikiran pada “Cerita di balik Harry Potter

  1. iiiih, saya nggak setuju ma tuh artikel :P, saya suka harpot karena dia keren abis dalam petualangan, bukan dalam begituan 😀 *apakah ini oot? abaikan aja dah :))))

  2. betul itu otak penulisnya yang aneh deh..aih pliss deeh >.<
    diriku dan suami penggemar berat harpot, dan tak pernah terlintas seperti yang ditulis di artikel itu…

  3. bentar baca dulu artikelnya….

    *tutup muka*
    ini yang nulis gimana ya? dapet ‘fakta’ dari mana?
    fakta dalam pikirannya sendiri apa gimana sih?
    parah deh mba kayaknya

  4. ya ampun yang bikin artikel kepikiran aja sampe kesana..
    boro2 deh kepikiran begitu, namanya juga fiksi masa ya harus dibedah sampe segitunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s