[Quiz MFF Prompt #3] Suatu hari di pinggir jalan raya


Aku duduk di tepi trotoar. Menikmati sisa makanan yang diberikan lelaki itu padaku. Perutku sedikit melilit, mungkin karena tak sedikitpun makanan yang masuk ke perutku sejak semalam. Sedikit beringas, kupaksakan untuk terus melahap roti keras yang disodorkan lelaki berbaju merah yang tengah asyik menyulut rokoknya yang tinggal separuh lagi. Aku harus menabung energi. Supaya aku tetap kuat jika nantinya lelaki itu memintaku kembali mengiba-iba meminta belas kasihan orang-orang di sekitar kami.

Aku mendongakkan kepala, dan selama sepersekian detik mataku beradu pandang dengan mata seorang lelaki pengendara sepeda motor yang ternyata juga menatapku. Setelahnya ia mengalihkan pandangannya dariku tatkala lelaki berbaju merah itu ikut menatapnya. Pandangannya penuh curiga. Posesif. Seolah-olah aku ini miliknya seorang.

Musik kembali terdengar. Lelaki berbaju merah itu memaksaku kembali beraksi. Dalam hati aku merapal sebuah pinta.

“Ya Tuhan, semoga hasil kami mengamen hari ini cukup besar, agar aku bisa menikmati makan malam.”

***

Gadis kecil itu menunjuk pada sebuah kerumunan. Meminta sang bunda mengantarnya mendekat. Tampak olehnya sebuah pertunjukan atraksi ketangkasan. Matanya menatap makhluk mungil dengan wajah lelah dan pandangan sayu. Di lehernya sebuah kalung rantai terikat, dihubungkan dengan tali panjang yang ujungnya digenggam seorang lelaki berbaju merah.

“Mama lihat! Kasihan monyet itu. Lehernya pasti sakit sekali.”

Topeng Monyet

-selesai-

Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 – On The Street

Iklan

29 pemikiran pada “[Quiz MFF Prompt #3] Suatu hari di pinggir jalan raya

  1. mungkin ini yah kali perasaan sebenarnya perasaan topeng monyet 😦
    tapi jujur aja aku emang kurang suka dengan orang2 yg memanfaatkan monyet untuk cari uang..apalagio belakangan sempat marak dan banyak bgt topeng monyet di beberapa lampu merah..kasian monyetnya

  2. hmm.. perasaaan si monyet,

    prnah liat liat di reportase, gimana mereka ngajarin monyet2 itu. tragis banget.. lehernya di rante trus di suruh bediri yg berdirinya mesti jinjit, klo nggk lehernya bakalan kecekek..

      1. semula kirain tentang bocah pengemis. penggambarannya mengindikasikan begitu, ditambah lagi dengan ‘permohonan dalam hati’ itu. Hehe.

      2. Memang dibuat begitu, Mas.. Endingnya dipelintirkan.. Menurut pendapat saya ‘topeng monyet’ juga bisa disebut sebagai pengemis terselubung. IMHO

        Hehehe

        Terima kasih telah bersedia mampir ke sini.. πŸ™‚

  3. Ping-balik: Karma | Redcarra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s