[Prompt #12] KONDE


Pagi yang sempurna. Kusibak tirai ruang tamu. Aku bersemangat sekali. Semalam aku tidur nyenyak. Saatnya membersihkan seluruh penjuru rumah. Dimulai dari ruang tamu. Kuambil sapu dan mulai membersihkan kolong-kolong kursi dan meja ruang tamu.

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Gambar Model Sanggul Tradisional

Aku memutar otak dan mengingat-ingat. Siapa anak kost putri yang sekiranya memiliki benda ini. Mbak Manda? Nggak mungkin. Mbak Manda kan lagi pulang kampung. Mbak Citra dan mbak Sari juga nggak mungkin, keduanya pakai jilbab.

Ah ya. Siapa lagi kalau bukan Astuti! Tuduhku.

Dari semenjak ia datang ke kost ini aku sudah curiga dengan sikapnya. Pasti dia bertindak yang aneh-aneh lagi. Maka, dengan keyakinan penuh aku pun mengetuk pintu kamar Astuti.

“Tiiik.. Tiiik..! Buka pintunya!”

Sebuah ‘klik’ pelan menandakan pintu itu telah terbuka.

“Ya, Mbak Niar?” Astuti berbicara pelan.

Opo iki? Ikinggonanmu tho?” tuduhku.

“Bukan, Mbak.. Buat apa saya pakai konde?” Astuti mengelak.

Ojok mbujuki aku. Jangan bohongi saya. Kamu mau kawin lari sama mas Pras ya?” lagi-lagi dengan pede-nya aku menuduhnya.

Astuti menggeleng, “Nggak, Mba.. Saestu. Mboten..”

Aku semakin gemas. Tak boleh ada kabar miring apapun yang boleh terjadi di sini. Kost putri ini tempat tinggal para perempuan baik-baik. Nggak ada yang boleh merusak nama baiknya.

KOST PUTRI SRIKANDI.

Kost putri yang dikelola secara turun temurun dari garis keluarga mas Bagas, suamiku.

“Kalau memang mau menikah, ya segera diresmikan. Minta restu baik-baik sama keluarga. Jangan kawin lari. Atau nikah diam-diam!” Astuti cuma bisa menundukkan kepalanya. Mungkin nasehatku merasuk ke dalam batinnya.

Tak lama, ponselku berbunyi.

***

Ponsel itu terlepas dari jemari Niar. Baru saja ia menasehati Astuti panjang lebar tentang nikah diam-diam. Dan seketika dunianya runtuh membaca pesan singkat dari adik semata wayangnya.

“Mba Niar, tolong sampaikan ibu dan bapak. Sudah jangan pikirkan aku lagi. Keputusan kami sudah bulat. Bahkan Dewanto sudah mengurus semuanya. Kami akan tetap menikah di Belanda. Dengan atau tanpa restu keluarga di Indonesia. Aku cuma mengabarkan, pernikahan kami telah disetujui oleh pengadilan di Belanda. Aku dan Dewa tak akan pernah terpisahkan lagi.

Adik kesayanganmu,

Ronaldo”.

-selesai-

Catatan penulis:

Opo ikiIki ‘nggonanmu tho : Apa ini? Ini milikmu?

Ojok mbujuki aku : Jangan membohongi saya

Saestu : Sungguh

Mboten : Tidak

Iklan

35 pemikiran pada “[Prompt #12] KONDE

  1. mmmm, mungkin karena sudah pagi saya mbacanya jadi berkali2 :D, tapi pengucapan mbak disana sini mbikin tambah lier juga kayaknya :D. en, kalo adik kandung nikah, kakak kan harusnya dateng yah? *dulu waktu nikahan saya, pakde bude en sepupu2 pada dateng smuwa 🙂

      1. rinibee memang karekternya sedikit “menjebak” dan twist ya? -istilahnya- tapi seru apalagi kondenya itu lho dapat gambar dari mana jeung…? 😀

  2. kok agak2 kurang gimanaa gitu ya, mak.. entah apa dan di mana yang missed..
    btw, itu bahasa jawanya mbok diartikan di footnote, gitu… aku ndak ngertiiiii :p

  3. Udah bagus ide ceritanya. 🙂
    Tapi menurut saya, kurang rapi bungkusnya.
    1. Kalimat penunjuk keterangan waktu di scene kedua. “Di Tempat Berbeda”. Kenapa tidak disebutkan saja lokasinya secara jelas?

    2. Di scene kedua, ada dialog yang tidak disebutkan siapa yang sebenarnya berdialog. (khusus kalau dialog ini saya rasa masih dapat diterima, cuma kalimat “Di Tempat Berbeda” itu lumayan vital mengganggu. Akhirnya membuat dialog ini juga terasa kurang optimal)

    3. Di scene ketiga. Tiba-tiba sudut pandang berubah jadi orang ketiga. Nah, ini pendapat personal saya aja. Saya kurang suka menikmati cerita yang merubah-rubah sudut pandang bukan pada situasi yang diperlukan. Dan aku rasa situasi di cerita ini tidak begitu memerlukan perubahan sudut pandang. Lebih baik gunakan POV orang ke-3 dari awal scene pertama.

    4. Saya sedikit mengernyikan dahi di Scene 3. Sebenarnya mungkin dimaksudkan untuk penutup dan penjelasan dari konflik di scene-scene sebelumnya. Tapi kok saya tetep ga nangkep intinya?
    Kalimat “Ponsel Niar terlepas dari genggamannya.”, mungkin digunakan untuk menggambarkan keterkejutan Niar. Tapi kenapa Niar terkejut? Emang kalau adiknya nikah kenapa? Hal itu ga dijelaskan di cerita ini.
    Lalu kenapa kalau Konde itu milik calon adik iparnya? Bukan kah hanya ketinggalan? Saya rasa konde ketinggalan bukanlah kesalahan yang fatal. Pernikahan tetap bisa dilaksanakan.

    5. Kenapa yang terpikirkan saat pertama kali menemukan konde itu adalah “upaya kawin lari Astuti”?
    Kalau Niar tahu adiknya mau nikah, harusnya yang terpikirkan pertama kali adalah, Konde itu tentu perlengkapan pernikahan adiknya yang ketinggalan.
    Kecuali Niar tak mengetahui bahwa adiknya mau menikah. Nah, bagaimana bisa seorang kakak tidak ikut menghadiri pernikahan adiknya? Dan tak tahu adiknya mau menikah? Dan malah terkejut ketika mendapat telepon dari adiknya?

    Kalau Niar memang tidak tahu tentang pernikahan itu, mungkin saja karena adiknya ingin menyembunyikan pernikahannya. Tapi, kalau memang ingin sembunyi-sembunyi, kenapa saat mau ijab qabul malah menelepon Niar?
    Dan anehnya, kenapa bisa Konde calon adik iparnya tertinggal di ruang tamu rumah Niar? Kalau memang perlengkapan nikahnya ditaruh di rumah Niar, apalagi di ruang tamu, kenapa Niar tidak mengetahuinya?

    Hehe sorry kalau komenku kepanjangan. Ini semua hanya kesan yang saya peroleh setelah membaca cerita ini.
    Saya tak mengkritik idenya, cuma saya kurang bisa nangkep cara penyajian cerita ini.
    Ini semua cuma opini pribadi aku ya. Hehe

    1. Wah ceritanya udah direvisi lagi ya rupanya 😀
      Nah, versi yang ini lebih rapi penyajiannya mbak 🙂
      Cuma jadinya menyisakan pertanyaan “Jadi siapa yang sebenarnya pemilik konde itu?” :mrgreen:
      Tapi ini lebih baik daripada memaksakan harus ditutup dengan penjelasan pemilik sebenarnya konde itu. Justru ending yang versi kedua ini lebih ngena. 🙂
      Dan tentang pergantian sudut pandang. Di versi kedua ini teknik pergantian POV (Point of View)-nya digunakan lebih tepat.

      Tentunya, jangan lupa ngasih footnote untuk dialog2 Bahasa Jawanya mbak 😀

      1. Nah… Jadi siapakah kira-kira pemilik konde itu? :mrgreen:

        Makasih banyak ya Yusrizal untuk komentarnya yang membangun. Saya jadi dapat feedback.

        Salam kenal ya.. 😀

      2. Aiiih, liat (inget, hanya liat belum baca :p ) komen panjang Yusrizal jadi inget sesuatu deh hahahaha…

        QB, saya dah bisa pensiun komen2in orang nih. Udah ada penerusnya wkwkwkwk… 😀

        Lanjutkan, Yus!

      3. Haha, mungkin lagi kumat aja akunya mbak.
        Klo lagi kumat, bisa jadi cerewet, bisa jadi silencer :mrgreen:
        Padahal aku sendiri juga pemula, tapi kok ya cerewet <– minta dijitak.

      1. Karena keasyikan nulis komen tadi, aku jadi ketinggalan kalau ceritanya udah direvisi :mrgreen:
        Sorry ya mbak, menuh-menuhin kotak komennya.

      2. Nggak pa pa. Duuh saya jadi gak enak ini tulisannya udah berubah. Apa saya balikin lagi aja ya? 😀

        Jadi kelihatan letak salahnya..

        Nuhun pisan ya udah mau kasih masukan membangun yang detil. Jadi saya bisa banyak belajar.. 🙂

      3. Ga usah diubah mbak. Pake yg versi terakhir aja.
        Kan yang terpenting komen saya bisa dipahami ama mbak rini dan diserap menjadi pemikiran untuk menjadi lebih baik lagi :mrgreen:
        Saya sendiri juga pemula kok, cuma gatel komen kalau ada hal-hal yang ga sreg dengan pemahaman saya. :mrgreen:

  4. wew coment di atas udah mencakup semua 😀
    asli bertanya siapa pemilik konde? gak mungkin tiba2 ada di kost itu..dan mbaaak hikz gak ngerti bahasanya :((

    1. Sebenarnya tadi sudah dijelaskan pemilik kondenya, tapi jadinya melebar kemana-mana ceritanya.. 😀

      Intinya mah cerita ini semacam tamparan keras buat si Niar. Udah nuduh yang nggak-nggak ke orang lain eh ternyata kejadian sendiri di keluarganya.. 🙂

      Makasih sudah mampir ya mba.. Itu sudah saya kasih translitannya.. 😀

  5. berbekal konde itu Niar menuduh Astuti mau kawin lari. opo’o kawin lari ndadak nggae kondhe?
    lagian itu tuduhan terbukti ndak? habis nuduh Niarnya langsung balik kanan dan merasa puas. Astuti yang menunduk menurutku belum cukup meyakinkan sebagai pembenaran/pengakuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s