[BeraniCerita #10] Bicaralah


Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.
“Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu. Masuklah ke ruang kerjaku.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.
Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

“Liza,” Ayah memulai pembicaraan, “bisa kamu jelaskan padaku kenapa surat ini bisa sampai ada di meja kerjaku?”

“Itu..”

“Ya?”

“Ngg.. Lizaa … mmh …”

“Kamu kenapa Liza?”

“Liza … Liza diskors, Yah.”

“Hm… Diskors ya? Sebentar,” Ayah membaca surat di tangannya, “putri anda diskors selama tiga hari.. Apa kamu terlibat masalah?”

Liza menggeleng.

“Lalu maksudmu surat ini bisa berada di mejaku karena salah alamat? Begitu?”

“Apa alasan masuk akal yang bisa menjelaskan seorang kepala sekolah seperti Bu Dewi memberikanmu skors selama tiga hari?!”

Karena dia membenciku, Yah. Dia membenciku sehingga melakukan segala cara agar aku mendapatkan hukuman. Salah satunya dengan menuduhku meletakkan cicak dengan sengaja ke dalam air minumnya saat aku dihukum membersihkan ruang Kepala Sekolah. Liza berkata dalam hati.

“Jawab!”

Liza terlonjak dari kursinya. Belum sempat ia berkata-kata, ponsel ayahnya berdering. Pada dering ketiga ponsel itu diangkat. Ayah berjalan menjauh selama lima menit. Memberikan jeda sesaat pada Liza untuk memberikan jawaban terbaiknya. Dan tak lama.

“Itu tadi telepon dari Bu Ana, wali kelasmu. Ternyata ada kesalahan. Bukan kamu yang seharusnya diskors. Kemarilah, aku ingin memelukmu. Maaf ya?’ Liza mengangguk perlahan, berjalan mendekat pada sang ayah.

Tentu saja. Karena sebenci-bencinya Kepala Sekolah padaku, Bu Ana yang juga putri kandungnya sangat mencintaimu, Ayah. Segala cara akan dilakukannya untuk mendapatkan perhatianmu. Termasuk menangguhkan hukuman skors yang ditujukan padaku. Ucap batinnya.

Liza memeluk erat Ayahnya. Satu-satunya orang yang dimilikinya.

Di tempat berbeda, Bu Ana tersenyum getir. Ada kilatan kebengisan di wajahnya.

“Kita beri anak si*lan itu hukuman yang lebih tepat, Mami.. Skors selama tiga hari terlalu ringan baginya!” Suara Bu Ana terdengar membahana.

“Tentu saja. Kita buat dia menderita selama semester ini, bagaimana?” usul Bu Dewi.

“HAHAHAHAHA..” tawa keduanya membahana di ruang kepala sekolah.

***

“Kau pikir cerita seperti ini akan bisa diterima masyarakat?” tanya asisten sutradara sembari membolak-balik skrip naskah di tangannya.

“Iya, tentu saja. Cerita remaja masih diminati sampai sekarang,” jawab penulis skenario.

“Tapi cerita ini sampah! Siapa yang mau melihat sinetron dengan cerita model begini?”

“Masih banyak anak-anak remaja yang mau dibodohi kisah seperti ini.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, serahkan naskah ini pada sutradara dan produser di sana. Bicaralah pada mereka. Kita lihat bagaimana reaksi mereka.” usul asisten sutradara.

“Apa kau sudah gila? Itu namanya bunuh diri!” jawab penulis skenario.

banner-BC#10

Dipersembahkan untuk Berani Cerita # 10

 

Catatan penulis:

Inti ceritanya mah si penulis skenario juga sadar kalau tulisannya itu sampah.. 😆

Makanya dia nggak pede kalau harus nunjukkin ke produser dan sutradara sinetron.. :mrgreen:

Iklan

20 pemikiran pada “[BeraniCerita #10] Bicaralah

  1. ngakak mbaca akhirnya :D. iya yah, banyak sekali yang kayak itu skrg di sinetron :D. tpi btw, yg bilang “Apa kau sudah gila? Itu namanya bunuh diri!” itu siapa sih mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s