What if?


Blog.

Blog merupakan singkatan dari web log[1] adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut. (sumber: di sini)

Blog sekarang ini termasuk salah satu media sosial yang jadi pilihan untuk digunakan oleh para pengguna internet. Para peselancar di dunia maya. Bukan sekedar untuk eksis, blog juga sebagai salah satu sarana komunikasi.

Beberapa blogger menggunakan blognya sebagai blog untuk berbisnis online shop, membagi informasi hobby yang diminatinya (seperti resep masakan, memelihara hewan atau fotografi), catatan harian, menuliskan informasi wisata, menulis fiksi, juga sebagai diary online. Atau justru gabungan keseluruhannya. Dan beberapa blogger bahkan memiliki tak hanya satu blog, contohnya saya :mrgreen:.

Kegiatan berselancar di dunia maya tak jarang mengantarkan kita menuju salah satu postingan blog. Lalu membaca postingan tersebut dan meninggalkan komentar di sana. Selanjutnya si pemilik blog akan melakukan kunjungan balik ke tempat kita dan inilah yang disebut sebagai blogwalking.

Kalau diibaratkan. Saya lagi jalan-jalan muter keliling Bandung, lalu ketemu sama tukang jualan jeruk, lihat-lihat jeruknya, ngobrol sebentar dan bilang kalau di rumah saya juga suka menanam jeruk, lalu si ibu jeruk itu datang ke rumah saya buat lihat tanaman jeruk saya. *perumpamaan halah versi rinibee* :mrgreen:

Dan terjadilah hubungan silaturahim versi dunia maya.. 🙂

Saling mengenal meski tak pernah saling berjumpa. Punya kenalan dan kerabat baru. Merasa dekat meski tak pernah bersua. Ada juga yang karena penasaran lalu janjian untuk kopdar. *malah luas dan kemana-mana ini bahasannya.. 😀

Oke, balik lagi ke bahasan tentang blog.

400147_2962886870415_331616880_n

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tak jarang, sebuah tulisan aka postingan dibuat seorang blogger semata sebagai diary online. Curahan hati. Tempat meracau dan menggalau. Gitu istilahnya.

Nah masalahnya, ketika kita memutuskan untuk menekan tombol publish, atau terbitkan, maka diary yang kita buat sebagai postingan itu tak lagi jadi diary pribadi. Dengan kata lain, semua orang di seluruh dunia bisa mengaksesnya. Bisa tahu luapan kegalauan dan racauan kita tadi. (asal ngerti saja dengan bahasa yang digunakan). Nah kalau udah kaya gini, berarti secara sadar kan si empunya blog itu seakan ingin seluruh dunia tahu tentang kegalauannya. Atau bisa jadi jaman sekarang memang sudah sangat wajar menjadikan blog sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati.. 🙂

Oya, saya punya pengalaman tentang ini.

Jadi ceritanya suatu ketika, saya pernah mengetikkan sebuah kata kunci di mesin pencari serba tahu dan kadang sok tahu Mr. G, lalu sebuah daftar panjang terhampar di hadapan saya. Saya klik salah satunya. Dan..

TARA…

Saya terdampar di sebuah blog. Dan blog itu milik salah satu kerabat saya. Milik kenalan saya. Yang saya ketahui dari fotonya yang ditaruh di sana. Dan blognya ternyata adalah sebuah diary.

Ya. Diary online.

Di sinilah sifat dan sikap kepo kita diuji, mau menutup halaman yang telah terbuka ataukah justru membaca curahan hatinya.

Silakan anda lanjutkan sendiri.

Dan berkat hal-hal semacam inilah terkadang saya mengenal lebih dekat pribadi seorang sahabat. Bagaimana dilemanya dia menghadapi hubungan dengan sang ibu. Bagaimana perasaannya ketika ibunya memperlakukannya tidak adil -dalam versi dirinya- dengan saudaranya. Bagaimana galaunya dia menghadapi bossnya yang sering mencari-cari kesalahannya atau hanya sekedar curhat galau masalah dengan diri dan orang-orang di sekitarnya. *Yaah.. kalau dijelasin gini jadi kelihatan kan kalau akhirnya saya memutuskan membaca diary onlinenya 😳 :lol:*

Yang bikin bingung adalah apakah sebaiknya saya meninggalkan komentar di sana dengan resiko ketahuan saya kepo dengan buka-buka diary online-nya yang katanya ‘rahasia’.

Ataukah saya menutupnya saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali (ya mungkin kelihatan sih kalau ada satu orang yang lokasinya di Bandung pernah mampir buka diary online-nya, tapi hey! orang di Bandung mah buanyaak euuy! :D), seakan saya nggak pernah mampir sama sekali di sana?

Nah kalau kalian jadi saya, kalian milih apa?

Kenapa saya bingung? Kenapa saya jadi merasa dilema bin galau? Karena jujur saja mungkin dulunya saya juga seperti itu. Mungkin di masa lalu jaman masih abegeh dan masih terserang virus galau, saya adalah salah satu orang yang melakukan hal itu. Menuliskan sebuah diary dengan harapan ada orang yang kesasar dan bisa memahami perasaan saya. Orang yang bersedia menemani saya dalam diam seakan tahu perasaan saya tanpa saya berkata sepatahkatapun.

Ya, terkadang saya butuh orang semacam itu.

Naif?

Ya mungkin dulu saya pernah ada di posisi itu dan kalau galau menyerang juga masih begitu. *eh? 😀.

Entah mengapa jauh di dalam lubuk hati saya, saya ingin kalau ada orang yang kesasar dan membaca diary online saya -itupun kalau saya akhirnya berani membuatnya 😆 :mrgreen: – mereka memberikan sebuah komentar. Komentar apapun yang mengartikan,

“hey, saya tahu perasaan kamu. saya pernah ada di posisi kamu. tetap semangat ya! kamu nggak sendirian. karena apa? karena saya ada di sini bersamamu.”

Se-simple itu. 🙂

Nah, kalau suatu kali kalian terdampar di sebuah diary online, apa yang akan kalian lakukan? Memberikan komentar ataukah pergi tanpa meninggalkan jejak.

Dan jikalau kalian di sini ada juga yang punya diary online yang mungkin mirip seperti yang saya gambarkan di atas, sebenarnya apa sih yang kalian inginkan ketika ada orang yang membaca diary-mu? Apakah kamu ingin mereka segera menutupnya atau jauh dalam lubuk hatimu kamu pengen mereka membacanya?

Share yuuk!

Iklan

17 pemikiran pada “What if?

  1. Gak punya blog khusus curhat2 pribadi gitu.

    Masalah yang saya gak ingin orang lain tahu, yah saya simpen sendiri. Kalau pun membaginya, saya punya tempat curhat tersendiri. Kakak perempuan saya 🙂

    Tapi begitu saya menuliskan sesuatu di blog, berarti saya siap membaginya dengan publik 😀

  2. saya termasuk dia yang memiliki diari online.. haha..

    permasalahanya sederhana, saya ingin bicara tapi tidak ingin dan atau tidak ada yang mau mendengar.

    saya paham, adalah kesalahan menulis sebuah diary online. tapi..orang butuh caranya masing-masing mba… 🙂

    saya kurang bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang, saya cenderung pendiam.. dan seringnya ketika sya ngomong, omongan saya cenderung pedas.. karena itu terkadang saya memilih meluapkan emosi saya di blog, sehingga ketika saya kembali ke dunia nyata emosi saya sudah stabil… 🙂

    terdengar aneh… tapi karakteristik orang beda2 kan mba.. 🙂 intinya sih, saya menulis karena itu terapi untuk saya… 🙂

    ah ya dan sebagai penulis diary online, jujur kadang saya lebih suka blog saya dibiarkan sepi.. 🙂

    fay

    1. Terima kasih sudah berbagi ya.. 🙂

      Dan saya juga setuju itu tentang meluapkan emosi di blog (istilah saya diary online) dan ketika kembali ke dunia nyata emosinya sudah stabil (kalau saya menyebutnya sebagai cara untuk berdamai dengan diri sendiri)

      🙂

  3. Dilemaaaahhhh…
    Nggg… Apa ya?
    Kalau sekiranya deket dlm dunia nyata disamperin gpp sih mak.
    Kalau sekiranya jauh, kira2 bisa bakalan mendekatkan atau tidak ya?
    Smg punya keputusan baik ya mak 😉

    1. Nah… biasanya saya memilih untuk tidak meninggalkan jejak, kecuali keterangan kalau ‘ada satu blogger dari Bandung yang membaca diary online anda’. 😀

      Bukan nggak care, tapi sepertinya diary online ini adalah salah satu cara terapi diri sang blogger. Dengan menuangkannya dalam tulisan itu adalah salah satu cara untuk berdamai dengan diri sendiri, setidaknya itu yang saya rasakan.. 😀

      IMHO 🙂

      1. Yup, sy pernah juga self healing lewat blog sewaktu anak pertama sy meninggal.
        Dl wkatu jamannya multiply, postingan bisa di setting private g bisa diliat org bny kecuali kontak. Skrg multiply udah g ada di pindah ke bs sm disini.
        Kakak kandungq kayaknya pernah baca tp g ninggalin jejak. Gimana tau?
        Anak2 mereka yg masih kecil kadang nyletuk ttg materi tulisan saya di blog 😀
        *ooo kamu ketauan*

        Sbg blogger sy dianggap hidup didalam dunia khayalan 😀 😀
        Ya sy ngerti sih, kondisi dia yg g bisa ngerti kalau being blogger itu menyenangkaaaan 😀 😀
        The truth, dibandingkan beliau, sy lebih menikmati hidup tanpa pressure 😉
        Glad being blogger 🙂

  4. wah ini kayaknya bener bener curhatan dari dalam hati yg paling dalam mba bee 🙂
    kalo masalah diary online sih kayaknya beberapa org yg sulit berkomunikasi atau yg merasa kurang nyaman curhat dengan teman atau saudara di dunia nyata mungkin memilikinya mba..
    tapi lebih banyak lagi yang menjadikan diary online sebagai tempat mengekspresikan diri supaya mendapatkan perhatian orang lain, karena di dunia nyata tidak dia dapatkan…
    tapi apapun maksud org itu ngeblog kita wajib hargai hehe..kita punya alasan ngblog begitu juga dengan mereka, kalo masalah kontent tulisan itu pilihan masing masing, resiko masing masing. Buat kita yang baca cukup hargai kalo suka dan cukup tinggalkan kalo tidak suka ( kecuali kalo blognya menghina seseorang atau diri kita hehehe )


    btw itu yg ketemu gak sengaja beneran kerabat atau mantan mba bee? xixixi

    1. mantan apa ini maksudnya? 😛

      kebetulan semua kerabat yang saya pernah lihat diary online-nya ini berjenis kelamin perempuan dan ‘mantan’ saya nggak ada yang perempuan..

      wkwkwkwk.. :mrgreen:

      1. Ehemm.. kebetulan cowo-cowo yang pernah deket sama saya nggak ada yang ngeblog. Gak tahu kalau sekarang. Mungkin sekarang udah pada beralih ngeblog.

        Carii aaah..

        *eh..? 😀

        *halaagh 😆

  5. eh? Aku juga sering nulis curhat, tapi bukan yang masalah pribadi sama emak atau keluarga atau teman terdekat, itu mah konsumsi pribadi paling juga nyari temen deket buat jadi tong sampah numpahin kekeselan hati, bukan ditulis di blog.

    Ya intinya orang nulis curhat khan karena ingin diakui keberadaannya dan dimengerti apa yang dirasakannya, kalau misal aku ketemu ada blog yang isinya curhat masalah pribadi gitu, ya dibaca aja trus diambil hikmahnya, diambil baiknya gimana, jadi silent reader aja 😀

  6. klo asmie perkara di komen ya monggo, tidak ya tidak apa-apa, bagi ku menulis apapun bentuknya asal baik merupakan pelarian dan pengurangan beban. jadi lega. klo BW ke tetangga itu buatku menyenangkan, meski kadang tidak nyambung dengan postingan yang dibahas asmie kadang cuma sekedar lewat… tapi it’s fun anyway.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s